20 Januari 2010

Allah Bapa Seperti Pemulung,

Sumber : Come and Follow Jesus
Cerita Kiriman: Riana Analau

"Ada satu hal di mana TUHAN tidak berkuasa untuk melakukannya" TUHAN tidak berkuasa untuk tidak menepati janjiNYA. Ia begitu setia akan janjiNYA.(Mazmur 12:7)

Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb.

Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar seorang anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!" "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.

Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.

Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"

Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."

Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu sendiri melainkan pemberian Allah.

Our God is able! "Not by power, not by might, but by My Spirits, says the LORD" (Zach 4:6)

13 Januari 2010

Save My LOVE, Today ...

Sumber : Cime and Follow Jesus
Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anakitu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua. Obat tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. sang istri takut membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu ?
2. Apa makna cerita ini ?

JAWABAN :
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG"

Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangkaadalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri. lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan terjadi.


Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak satu-satunya. Apa yg si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yg diberikan suaminya sekarang. Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini


"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil"

Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.

MORAL CERITA
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan org lain atau siapa yang salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan orang yang kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.

KOLOSE 3: 13, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."
--------------------

PRINSIP INKARNASI VS PRINSIP ZAMAN

Sumber : Elia Stories

oleh : Denny Teguh Sutandio

Nats : Yohanes 1:1-5, 9-14

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya…. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Hari Natal adalah hari di mana kita merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Tetapi apa signifikansi hari kelahiran Kristus ini ? Bukankah semua orang juga merayakan hari ulang tahun (HUT)nya ? Tidak. Hari kelahiran Kristus bukan hari kelahiran biasa, tetapi hari kelahiran yang luar biasa. Mengapa ? Karena hari kelahiran Kristus adalah hari di mana Allah yang Berdaulat dan Berkuasa rela merendahkan diri-Nya menjelma menjadi manusia. Dengan kata lain, hari kelahiran Kristus adalah hari Inkarnasi yang dahsyat sekaligus paradoks. Pada momen Natal ini, kita akan merenungkan beberapa semangat Inkarnasi yang akan dikontraskan dengan semangat zaman dari dunia berdosa, lalu akan ditutup dengan tantangan untuk kembali kepada Kristus melalui pertobatan yang sejati.

Semangat Inkarnasi Vs Semangat Zaman
Mungkin bagi orang Kristen, kata “inkarnasi” bukan kata yang asing. Kita sudah mendengar kata ini beratus kali pada hari Natal atau pada momen ketika kita mempelajari Kristologi (doktrin Kristus), tetapi seberapa dalamkah kita mengerti inkarnasi dan semangat inkarnasi ini ? Apakah kita bisa mengerti dan mengimplikasikan semangat inkarnasi ini di dalam kondisi zaman postmodern yang juga menyuarakan semangat dunia berdosanya ? Biarlah melalui perenungan singkat ini, kita akan dipimpin oleh Roh Kudus untuk menikmati berkat Tuhan melalui kebenaran Firman-Nya tentang semangat inkarnasi yang harus kita wujudnyatakan di dalam kondisi zaman postmodern.

Ada beberapa prinsip Inkarnasi yang dikontraskan dengan prinsip zaman :
Pertama
, Inkarnasi berarti Allah menjadi manusia, sedangkan postmodern (yang ditunggangi oleh Gerakan Zaman Baru) mengajarkan manusia menjadi seperti “Allah”. Di bagian pertama, kita melihat bahwa semangat Inkarnasi bukanlah konsep murahan, tetapi prinsip/konsep dan semangat yang agung luar biasa, yaitu Allah yang Mahakudus, Mahakuasa, Berdaulat, Kekal, Mahaadil, Mahakasih, dll rela menjadi manusia (tanpa meninggalkan atribut Ilahinya). Mengapa Allah menjadi manusia ? Ia melakukannya karena Ia begitu mengasihi kita (Yohanes 3:16). Kasih Allah memungkinkan Ia mengutus Kristus untuk menebus dosa-dosa umat pilihan-Nya yang berdosa. Dengan tepat sekali, hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya di Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) pernah menuturkan bahwa di dalam Penciptaan, manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, lalu di dalam Penebusan/Inkarnasi, Allah menjadi/menjelma di dalam gambar manusia (Yoh 1:14). Semangat inkarnasi ini jelas sangat bertolak belakang dengan semangat dosa yang ada di dalam zaman postmodern ini. Dunia kita sejak zaman Pencerahan (Inggris : Enlightenment ; Jerman : Aufklaerung), romantisisme, sampai abad postmodernisme, menawarkan beragam ide yang berfokus pada manusia. Pencerahan berfokus kepada rasio manusia. Lalu, hal ini menjumpai kegagalan dan diganti oleh romantisisme dengan pencetus pertamanya bernama Friedrich D. E. Schleiermacher yang mengajarkan bahwa agama itu adalah feeling absolute dependency (perasaan kebergantungan mutlak). Romantisisme akhirnya mengarah kepada postmodern sekarang ini yang berfokus pada perasaan manusia, sehingga kebenaran bersifat relatif. Bukan hanya itu saja, zaman postmodern juga ditunggangi oleh spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutkan bahwa postmodern adalah filsafatnya, dan Gerakan Zaman Baru adalah macam spiritualitas yang sedang mengancam keKristenan. Gerakan Zaman Baru adalah suatu spiritualitas yang merupakan gabungan dari spiritualitas Timur, Buddhisme, Pantheisme, Hinduisme, mistisisme, Orientalisme, dll yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah “allah”. Ir. Herlianto, M.Th. dalam bukunya Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (1990) menyebut Gerakan Zaman Baru (GZB) sebagai model Humanisme Baru atau Humanisme Kosmis (hlm. 31). Beliau menjelaskan bahwa kalau humanisme lama dan humanisme sekuler sebagai dua model humanisme yang menekankan superioritas rasio manusia, maka humanisme baru ini menekankan “pengalaman kemanusiaan yang bersifat mistis dan kosmis, ...” (hlm. 31) Bagi para penganut GZB, manusia memiliki suatu potensi dan energi yang dahsyat yang bisa dikembangkan mencapai keilahiannya yang penuh. Di sini, kita melihat TIDAK adanya pembedaan kualitatif antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Bagi para penganut GZB, manusia identik dengan “Allah”, sehingga tidak heran, berbagai training motivasi yang membangkitkan potensi diri yang “ilahi” ini digemari oleh banyak orang di abad postmodern ini. Sebenarnya, ide dasar dari GZB bukanlah ide yang baru. Pengkhotbah 1:9 mengatakan, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Seperti kata Pengkhotbah bahwa tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari, maka spiritualitas GZB bukanlah hal baru. Ide dasar dari spiritualitas GZB sudah ditemukan di dalam realita dosa manusia pertama (Adam dan Hawa). Dosa manusia pertama sebenarnya bukan terletak ketika mereka makan buah pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi pada ketidaktaatan mereka kepada perintah Allah. Sebelum menciptakan Hawa, Allah berfirman kepada Adam bahwa semua pohon dalam taman Eden boleh dimakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, tidak boleh dimakan oleh Adam, karena pada hari Adam memakannya, ia pasti mati (Kejadian 2:16-17). Perintah Allah sudah sangat jelas dan gamblang. Tetapi apa yang dilakukan Adam dan Hawa ? Mereka tidak taat kepada perintah-Nya. Apa yang mengakibatkan ketidaktaatan tersebut? Ketidaktaatan tersebut diakibatkan oleh diterimanya ide iblis yang mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4-5) Dengan kata lain, ketidaktaatan mereka disebabkan oleh iming-iming iblis tentang bagaimana manusia bisa menjadi seperti Allah, dan iming-iming itu akhirnya diikuti oleh manusia. Di dalam benaknya, manusia pertama berpikir adalah sungguh “indah”nya ketika mereka ingin menjadi seperti Allah, tahu mana yang baik dan yang jahat, dan akhirnya mereka tidak lagi membutuhkan tuntunan dan firman Allah. Jadi, keinginan manusia menjadi seperti Allah yang mengakibatkan mereka tidak taat dan ketidaktaatan itu melahirkan dosa. Itulah Gerakan Zaman Baru. Para penganut GZB tidak ingin tunduk kepada otoritas Allah dan Kebenaran, sebaliknya mereka malahan memberontak dan mereka berpikir bahwa mereka juga adalah “allah”. Tetapi herannya, ketika mereka berpikir bahwa mereka semua adalah “allah”, mereka tidak pernah berpikir bahwa jika benar bahwa semua adalah “allah”, bukankah tidak ada standar kebenaran dan hal ini bisa mengakibatkan terjadinya pertengkaran? Kalau tidak ada standar kebenaran, bagaimana mereka bisa sampai kepada kesimpulan Gerakan Zaman Barunya? Bukankah untuk sampai kepada kesimpulan bahwa semua manusia adalah “allah” perlu suatu standar kebenaran yang harus diverifikasi sebelumnya? Di sinilah letak kegagalan spiritualitas GZB. Bagaimana dengan kita? GZB banyak bermunculan di dunia postmodern ini, bahkan beberapa sudah meracuni keKristenan. Apa yang harus kita lakukan? Tidak ada jalan lain, kita sebagai manusia ciptaan harus menyadari natur kita yang dicipta, terbatas, dan berdosa (created, limited and polluted—meminjam istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong). Bukan hanya itu saja, meminjam pengajaran John Calvin, kita dapat mengenal dan mengerti natur kita sebagai ciptaan ketika kita mengenal dan mengerti Allah sebagai Pencipta. Ketika kita mengerti hal ini, kita sadar betapa kita berdosa di hadapan Allah, dan tidak ada jalan lain untuk melepaskan dan menebus kita dari dosa, kecuali melalui inkarnasi Kristus.

Kedua, di dalam Inkarnasi ada hidup dan terang manusia, sedangkan di dalam zaman dunia berdosa hanya ada kematian dan kegelapan. Karena Allah menjadi manusia di dalam Pribadi Kristus, maka hidup manusia memiliki makna sejati dan terang. Mengapa ? Karena hidup manusia sebagai ciptaan memiliki makna sejati ketika hidup itu berkait dengan Sang Sumber Kehidupan (Yoh. 14:6). Dengan kata lain, hidup manusia sejati yang terbatas harus berkait dengan Kekekalan Sejati. Di sini lah segala problematika antara kekekalan dan keterbatasan dapat diatasi. Semua filsafat dan agama dunia tak mampu menyelesaikan kaitan erat antara kekekalan dan keterbatasan, tetapi puji Tuhan, Allah menyatakan diri-Nya secara nyata (tidak tertulis) hanya di dalam Kristus di mana di dalam Dia yang Kekal sajalah ada hidup dan terang bagi manusia yang terbatas. Dia inilah yang akan memimpin langkah hidup kita menuju makna hidup yang sejati melalui proses pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga umat pilihan-Nya akan bertumbuh makin lama makin sempurna seperti Kakak Sulung mereka yaitu Tuhan Yesus Kristus (Roma 8:29). Sehingga di dalam proses pengudusan ini, kita makin lama makin menemukan terang yang ada di dalam Kristus. Dengan ditemukannya terang itu, kita tidak lagi berada di dalam kegelapan dunia dan kematian (Yohanes 1:5, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”). Berbeda dari makna Inkarnasi ini, di dalam zaman postmodern (dan abad-abad sebelumnya) kita tidak melihat adanya secercah harapan, terang dan kehidupan. Sejak jatuhnya manusia ke dalam dosa, hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan diri, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam menjadi terputus. Manusia tidak lagi mencintai Allah dan firman-Nya, tetapi makin lama makin mencintai diri dan materi. Hal ini makin terlihat jelas di dalam abad-abad Pencerahan yang menitikberatkan kebenaran pada superioritas rasio manusia dan abad Postmodern yang menitikberatkan pada relativitas kebenaran. Manusia semakin lama semakin hidup terlepas dari Allah, bahkan sengaja ingin melepaskan diri dari Allah. Tetapi akibatnya ? Apakah mereka menemukan kehidupan dan terang di dalam hidupnya ? Tidak. Mungkin, mereka sesaat menemukan “kebahagiaan” (kesenangan), tetapi itu tidak bernilai kekal. Justru semakin hidup mereka terlepas dari Allah, mereka semakin tidak menemukan arti hidup dan terang di dalam hidupnya, apalagi sukacita sejati. Tidak heran, di dalam zaman kita ini, tingkat bunuh diri bukan makin menurun, tetapi makin naik, ditambah meningkatnya tingkat perceraian, aborsi, free-sex, perilaku homoseksual, transeksual (banci), dll. Semuanya itu membuktikan bahwa hidup manusia yang terlepas dari standar kebenaran Allah menemukan kebingungan, kematian dan kegelapan. Meskipun mereka belum mati final, mereka sudah mencicipi kematian di dunia ini, karena keberdosaan mereka. Bukan hanya itu saja, hidup mereka pun akan menemui kegelapan demi kegelapan, sehingga akhirnya keputusasaan menimpa mereka. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita juga menemui keputusasaan di dalam hidup ? Jika ya, saya menantang Anda untuk bertobat, kembalilah kepada Kristus sebagai Sumber Hidup dan Terang manusia yang akan memberikan kepada kita makna hidup sejati dan terang yang ada di dalam hidup kita, sehingga makin lama hidup kita akan menemukan damai dan sukacita sejati meskipun harus menghadapi berbagai penganiayaan, masalah dan penindasan. Maukah Anda sekarang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda ?

Ketiga, di dalam Inkarnasi ada semangat kerendahan hati, sedangkan di dalam dunia berdosa hanya ada semangat tinggi hati. Ketika Allah mau menjelma menjadi manusia dan mengenakan tubuh manusia (meskipun tidak meninggalkan atribut Ilahinya), itu membuktikan bahwa Ia sangat rendah hati. Kerendahan hati-Nya juga ditunjukkan dengan lahirnya bayi Kristus di kandang binatang. Di dalam pemikiran umumnya, seorang raja yang agung pasti lahir di istana yang mewah. Tetapi bayi Kristus yang adalah Raja di atas segala raja, bahkan Allah Pribadi Kedua itu tidak dilahirkan di istana yang mewah, tetapi di kandang binatang yang hina. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Natal Akbar 2007 di Surabaya (13 Desember 2007) memberikan judul khotbahnya, “Juruselamat Dalam Palungan”. Judul ini sangat tepat mengartikan bahwa Kristus yang adalah Raja yang paling agung, Allah itu sendiri bersedia dan rela lahir di kandang binatang yang hina, bau, dan kotor itu. Status-Nya sebagai Raja di atas segala raja tidak mau ditonjolkan, tetapi ditutupi, mengapa ? Apakah Ia munafik ? TIDAK. Justru itu membuktikan bahwa Dia sangat rendah hati. Dia tidak minta dilahirkan di hotel berbintang, istana yang megah, dilayani oleh para pelayan, dll. Dia malahan lahir di kandang binatang, hidup melayani sesuai dengan tugas dari Bapa, bahkan mati disalib, dikubur di dalam kuburan yang dipinjam dari Yusuf dari Arimatea, serta bangkit dari antara orang mati. Semua kehidupan-Nya menunjukkan bahwa Ia benar-benar Anak Allah yang Mahatinggi yang harus dipuji, bukan karena fenomena-fenomena yang membuktikan hal itu, tetapi esensi yang tersembunyi di balik fenomena-fenomena yang kelihatan lemah, hina, dll. Sesuai dengan prinsip kerendahan hati ini, sebagai orang Kristen sejati, kita dituntut untuk hidup rendah hati seperti Kristus juga adalah Pribadi yang rendah hati (Matius 11:29). Bagaimana kita bisa hidup rendah hati ? Rendah hati berarti tidak menonjolkan diri. Rendah hati adalah sikap ingin menyenangkan hati Tuhan dan tidak menuruti keinginan diri yang berdosa. Bagaimana dengan dunia kita? Dunia kita berbeda total dengan prinsip Inkarnasi. Kalau Inkarnasi mengajarkan dan menuntut kerendahan hati bagi umat pilihan-Nya, maka konsep dunia mengajarkan dan menuntut adanya pemuasan diri (sombong/tinggi hati). Artinya, dunia kita terus mendengungkan konsep bahwa manusia itu hebat, maka mereka harus mengaktualisasi diri (prinsip Abraham Maslow), supaya mereka makin dikenal. Prinsip ini diadopsi oleh mayoritas filsafat dan agama di dunia. Mereka ingin dirinya dikenal, tampak religius, dll. Bahkan di dalam keKristenan, konsep ini pun ada. Beberapa hamba Tuhan dari gereja kontemporer minta diinapkan di hotel berbintang, minta dibayar dengan gaji besar, dll. Kalau tidak, “hamba Tuhan” ini tidak mau berkhotbah (melayani) di gereja yang mengundangnya. Bandingkan perilaku-perilaku ini dengan prinsip Inkarnasi Kristus yang tidak minta dilayani, tetapi melayani. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, kita tidak boleh sombong, tetapi kita harus rendah hati, mintalah agar kiranya Tuhan memurnikan hati dan motivasi kita di hadapan-Nya, sehingga semakin lama kita semakin rendah hati, bersedia dikoreksi dan bertumbuh sesuai pertumbuhan yang diinginkan Tuhan (Efesus 4:13). Sikap rendah hati hanya bisa didapat ketika hati dan motivasi kita terlebih dahulu dimurnikan oleh Tuhan melalui Roh Kudus. Bersiapkah kita untuk dimurnikan Tuhan?

Keempat, di dalam Inkarnasi ada semangat pengorbanan, sedangkan di dalam dunia berdosa hanya ada semangat mencari untung. Prinsip Inkarnasi terakhir adalah prinsip pengorbanan. Di dalam kerendahan hati-Nya, Kristus memiliki semangat pengorbanan. Pengorbanan berarti ada semangat/hasrat ingin menyenangkan orang lain dengan mengorbankan apapun yang kita miliki. Prinsipnya adalah kita mau menderita, rugi, dll demi sesuatu/seseorang (yang berharga/bernilai). Itulah yang dilakukan Kristus. Di dalam kerendahan hati dan ketaatan-Nya menjalankan kehendak Bapa, Ia mengorbankan hidup-Nya. Dari lahir, Ia harus mengorbankan tubuh mungil-Nya untuk diletakkan di dalam palungan di kandang binatang. Di dalam masa hidup-Nya, Ia banyak difitnah oleh orang lain bahkan oleh para pemimpin agama pada waktu itu (ahli Taurat). Ketika memberitahu tentang penyaliban-Nya, Ia sempat tidak dimengerti oleh Petrus yang “menasehati”-Nya agar Dia tidak usah disalib (Matius 16:22). Salah satu “murid”-Nya, Yudas Iskariot mengkhianati-Nya dengan menjual Yesus dengan tiga puluh keping perak (Matius 26:15) dan akhirnya mati gantung diri (Matius 27:3-5). Pengorbanan-Nya yang terbesar ditunjukkan ketika Ia harus menyerahkan diri-Nya untuk disalib di Golgota. Ketika kita melihat banyaknya pengalaman pahit yang harus dialami-Nya, kita harus menyadari bahwa itu semua dilakukan-Nya untuk mengasihi dan menebus umat pilihan-Nya yang berdosa. Kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya sangat besar, sehingga Ia rela membayar harga sebesar apapun untuk menunaikan tugas dari Bapa-Nya untuk menebus kaum pilihan-Nya. Seperti Kristus yang rela berkorban bagi kita, kita pun dituntut untuk hidup rela menyangkal diri. Hidup berkorban identik dengan hidup menyangkal diri. Jangan pernah berkorban demi sesuatu yang fana/tidak kekal. Tetapi berkorbanlah demi sesuatu yang bernilai kekal. Berkorban untuk sesuatu yang kekal itulah hidup yang menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus (Matius 16:24).


Pdt. Dr. Stephen Tong mengartikan hidup menyangkal diri sebagai hidup yang sinkron dengan kehendak Tuhan, yaitu mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan. Sebagaimana Kristus telah melakukan hal tersebut bagi kita, kita pun dituntut untuk hidup meneladani Kristus. Hidup menyangkal diri adalah hidup yang tidak menghiraukan hidup mati, untung rugi sendiri, tetapi rela menyerahkan nyawa kita demi Kristus. Sebelum dijamah Tuhan, Paulus (Si Kecil) yang dulu bernama Saulus (Si Besar) ingin menganiaya jemaat Kristus. Ia menuruti ambisi dirinya yang berdosa. Tetapi puji Tuhan, setelah ia dijamah oleh Kristus sendiri dalam perjalanan menuju ke Damsyik, ia dipulihkan. Dulu ia berambisi untuk membunuh jemaat Kristus, sekarang ia “berambisi” dan berapi-api melayani Tuhan dengan memberitakan Injil Kristus meskipun harus mengalami penderitaan dari para ahli Taurat, orang-orang lain bahkan mengalami karamnya kapal, dan berbagai rintangan lainnya. Ia melakukan semuanya hanya demi Kristus. Di dalamKisah Para Rasul 20:24, ia berkata, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Di dalam Filipi 1:21, Paulus berani mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Hal yang sama juga terdapat di dalam Filipi 3:7-8, di mana Paulus juga mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” Mengapa Paulus bisa mengatakan hal-hal yang agung tersebut ? Karena ia telah ditempa oleh Tuhan untuk menjadi rendah hati dan siap berkorban apapun demi Kristus.

Bandingkan hal ini dengan semangat zaman kita yang tidak mau mengorbankan diri, tetapi gemar mengorbankan orang lain demi kesenangan diri (win-win solution). Zaman kita sungguh menakutkan dan mengerikan. Manusia tidak segan-segan memanfaatkan orang lain demi kesenangannya sendiri. Bahkan yang lebih mengerikan, anak tidak segan-segan membunuh orangtuanya sendiri hanya karena permintaannya (yaitu minta dibelikan sepeda motor atau HP) tidak dipenuhi oleh orangtua. Saudara tidak segan-segan menghasut saudara lainnya hanya supaya bisa mengeruk keuntungan saudara lainnya. Sehingga Amsal 18:24 sampai berkata, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Di sini kita melihat parahnya dunia berdosa yang makin lama makin rusak. Bagaimana dengan kita? Apakah kita ikut-ikutan rusak atau kita dipanggil menjadi duta Kristus untuk siap berkorban bagi Kristus dengan memberitakan Injil ? Di tengah arus dunia postmodern yang makin tidak menentu dan tidak berpengharapan ini, biarlah semangat Inkarnasi yaitu semangat berkorban mencerahkan dan mendorong hati dan pikiran serta tindakan kita untuk memberitakan Injil dan rela membayar harga demi Injil tersebut. Ketika kita rela mengorbankan apapun demi Kristus, percayalah, jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia, mengapa ? Karena Kristus sendiri bersabda, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:10-12).

Di tengah arus dunia berdosa yang semakin gelap, tak menentu, tak berarah, tak bermakna, bahkan putus asa ini, kepada siapakah kita meletakkan dasar hidup kita? Kepada diri sendiri atau harta atau orang lain yang hebat/baik, dll? Ataukah kita dengan kerendahan hati mengaku bahwa kita yang terbatas harus mendasarkan hidup hanya kepada Allah, Sang Pencipta dan Sumber Kehidupan, sehingga hidup kita menjadi bermakna? Biarlah perenungan di momen Natal ini menjadi perenungan dan komitmen hidup dan hati kita di hadapan-Nya bahwa di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya di dalam Kristus, kita hanya mau menTuhankan dan meRajakan Kristus di dalam kehidupan kita, sehingga nama-Nya sajalah yang dipermuliakan sampai selama-lamanya. Maukah kita berkomitmen demikian ? Ingatlah : ada pengharapan sejati di dalam Kristus di hari Natal. Selamat Natal. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Soli Deo Gloria. Solus Christus.

Amin.

Artikel Lain:

- Natal 25 Desember Mengapa Harus Dipersoalkan?

- Benarkah Yesus Lahir Tanggal 10 Tisyri

- Teologia Sistematika - Diktrin Allah

cid:image001.gif@01C7E2A7.B636D0D0 Ingin berlangganan gratis “Elia’s Stories” kirimkan email kosong ke elia-stories-subscribe@yahoogroups.com atau click Sign Up, selanjutnya, ‘reply’ balasan dari yahoogroups sebagai konfirmasi

Renungan: Menulis Surat Ke Surga

Di sebuah kota kecil di Inggris, ada seorang pegawai kantor pos yang bernama Fleter. Dia adalah seorang pengantar surat yang handal, semua surat yang alamatnya kurang jelas atau tulisannya yang kabur begitu berada di tangannya, tidak ada sepucuk surat pun yang tidak tepat sasaran, surat yang seharusnya berstatus mati (harus dikirim kembali ke pengirim) pun dapat menjadi surat hidup. Setiap hari Fleter selalu pulang ke rumah dengan kegembiraan dan bertutur pada istrinya tentang penemuan barunya. Sehabis makan malam dia selalu menggandeng anak lelaki dan perempuannya ke halaman depan rumah untuk mendongeng. Begitu cerianya dia bagaikan seorang detektif yang ulung.

Akan tetapi pada suatu hari yang naas, anak lelakinya jatuh sakit, ia dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan, namun tidak berhasil dan akhirnya meninggal dunia.

Sejak kejadian itu jiwa Fleter juga ikut mati, setiap hari dia pagi – pagi bangun dari tidur, bagaikan orang yang mimpi tidur berjalan pergi ke kantor, dia bekerja sambil membisu, sepulang dari kantor setibanya di rumah ia juga makan dengan bungkam seribu bahasa, dan ia selalu berada di atas ranjang saat hari masih sore. Hanya istrinya yang mengetahui bahwa setiap malam dilewati Fleter dengan hanya memandangi langit – langit, segala hiburan dan nasehat dari sanak keluarga tidak berguna sama sekali.

Hari Natal sudah dekat, suasana kegembiraan di sekitarnya masih tidak bisa mengurangi kepedihan dari keluarga ini. Anak perempuan Fleter yang bernama Maria bersama adiknya sungguh mendambakan tibanya hari besar ini, akan tetapi sekarang ia sudah tidak lagi mendambakannya, dia juga tidak ingin melewati hari besar itu lagi karena dia tahu di hari besar itu ayahnya akan lebih merindukan adiknya, dan akan lebih sedih.

Hari ini Fleter sedang di depan meja kerjanya memilah-milah surat, dia memungut sepucuk surat yang beramplop warna biru tua. Tertulis di situ dengan beberapa huruf besar : “Kirim ke Surga --- Kepada Nenek”. Saat itu dia berpikir, ini pastilah bukan sembarang orang yang mampu mengirim surat ini, meskipun Detektif Polo dari Belgia didatangkan kesini pun pasti akan kehabisan akal. Fleter menggeleng – gelengkan kepala sambil berpikir hendak mengesampingkan surat itu. Kemudian ia berpikir, tidak masalah jika dibuka untuk dilihat, mungkin ia bisa membantu. Lalu ia buka surat itu dan tulisan di dalamnya :

Nenek yang tercinta,

Adik telah meninggal dunia. Aku bersama ayah dan ibu sangat sedih. Ibu bilang, orang baik jika meninggal akan masuk surga, adik sekarang sedang bersama dengan Nenek di surga, apakah dia ada mainan? Kuda – kuda kayu adikku tidak berani aku tunggangi lagi, aku juga tidak bermain mainan balok kayu lagi, aku khawatir kalau sampai mainan – mainan itu terlihat oleh ayah, ayah akan bersedih hati. Ayah sekarang ini, tidak pernah berbicara lagi. Aku senang mendengar dongeng ayah, tapi ayah tidak pernah mau bercerita lagi. Ada suatu waktu ibu menasehati ayah untuk tidak terlalu bersedih, ayah bilang, sekarang ini hanya Tuhan-lah yang mampu menolong diri-nya. Nek, dimana Tuhan berada? Aku harus menemuiNya, aku ingin memohon kepadaNya untuk menolong ayahku keluar dari kepedihan ini, agar ayah berbahagia lagi, agar ayah mau berbicara dan bercerita lagi.

Cucumu, Maria.

Hari itu, pulang dari kantor, lampu jalanan sudah menyala. Fleter dengan langkah cepat pulang ke rumah, dia sudah tidak lagi memperhatikan bayangan dirinya berjalan, yang sebentar di depan, lalu menjadi di belakang, karena dia sudah berjalan dengan kepala tegak menatap ke depan. Dia menginjakkan kaki di atas tangga teras di depan pintu rumahnya, dan masuk ke rumah. Dia tertawa seperti dulu terhadap istri dan anak perempuannya yang menyambut kedatangannya, pelan – pelan tersenyum, dan suasana kehangatan yang telah lama tidak mereka jumpai itu pun muncul kembali.

12 Januari 2010

MESIAS MASIH DITOLAK

Sumber : Elia Stories

ami.ortiz.jpg“Rivka” tidak mengerti mengapa ia dipanggil ke ruang kepala sekolah dari ruang kelas enamnya di Israel. Ia tidak mengerti mengapa tiga orang pria sedang menunggunya di sana dan menanyakan begitu banyak pertanyaan mengenai ayahnya yang pendeta, gerejanya dan jemaatnya. Rivka juga tidak mengerti mengapa sang kepala sekolah mengatakan kepadanya (yang berusia 11 tahun) untuk tidak menceritakan kepada orang tuanya mengenai pertemuan ini.

Dua minggu kemudian, mobil ayahnya dilempar bom api di pekarangan rumah. Api dari bom itu tidak menyebar dan tidak seorangpun terluka. Institut Keadilan Yerusalem melayangkan protes mewakili pihak keluarga. Rivka berpikir mungkin itu adalah saatnya mengatakan kepada orang tuanya tentang apa yang terjadi di kantor kepala sekolah. Dicurigai bahwa para pria yang menanyainya adalah seorang rabi terkemuka dan dua orang aktifis dari Yad L’Achim, suatu organisasi yang tujuannya adalah “memerangi misionaris Kristen.”

Keluarga Rivka sedang menghadapi apa yang telah menjadi masalah yang sedang bergejolak di Israel: penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh kelompok-kelompok ekstrimis Yahudi. Keluarga ini dijadikan sasaran karena ayahnya adalah seorang Yahudi Messianic – seorang Yahudi yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan seorang yang mengikuti ajaran Perjanjian Lama dan Baru (Richard dan Sabina Wurmbrand juga adalah orang-orang Yahudi Messianic yang memimpin jemaat di Bucharest). Menurut Kementrian Luar Negeri Amerika, ada sekitar 10.000 Yahudi Messianic di Israel dan wilayah Palestina. Laporan tahunan International Religious Fredom 2008 menyatakan bahwa orang-orang Kristen Yahudi melaporkan kejadian-kejadian intimidasi dan pelecehan oleh organisasi-organisasi ultra-Orthodox Yahudi termasuk Yad L’Achim.

“…Para missionaris mempunyai kibbutz* (tempat pemukiman atau pertanian dimana anak-anak dikumpulkan untuk diasuh dan dibesarkan), tempat pertemuan, asrama anak muda, kedai kopi, percetakan sendiri dan banyak lagi untuk menyebarkan pesan mereka.”

Catatan: Kibbutz adalah kata yang mulai dipakai oleh anak-anak muda Israel di Israel pada tahun 1906 untuk menyebut sebuah emukiman atau pertanian dimana mereka (hanya anak-anak muda) belajar tentang persamaan hak dan kesatuan dalama suatu kehidupan bernegara, yang mana saat itu negara Israel sendiri belum terbentuk (* diambil dari website Yad L’Achim, organisasi non profit yang didirikan untuk para imigran Yahudi.)

Di wilayah otoritas Palestina, beberapa anak Kristen dipaksa membayar lebih untuk bersekolah di sekolah-sekolah swasta yang merupakan satu-satunya pilihan di antara dominasi sekolah-sekolah ‘agama lain’. Tahun ini kami membantu beberapa murid Kristen membayar uang sekolah supaya mereka bisa terus sekolah.

Orang kristen yang lain menghadapi bahaya yang lebih besar akibat iman mereka.

Pada 20 Maret 2008, Ami Ortiz, berusia 15 tahun putra seorang pendeta Yahudi, membuka sebuah parsel yang ditinggalkan di depan pintu rumahnya. Parsel tersebut meledak, menyemburkan ratusan pecahan tajam bom ke tubuh Ami dan meninggalkannya dalam kondisi kritis. Parsel itu sebenarnya ditujukan untuk ayahnya.

Berbulan-bulan sebelumnya, sebuah kelompok yang tidak dikenal membagi-bagikan selebaran di beberapa kota. Selebaran itu memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai para msionaris. Sepertinya siapapun yang meninggalkan bom di kediaman Ortiz mengenali mereka melalui selebaran itu.

Syukurlah, Ami sudah membaik sekarang, walaupun ia masih menderita sakit yang sangat menyiksa karena kerusakan syaraf. Ia membutuhkan operasi untuk tangan kiri, kaki kiri, gendang telinga kiri dan luka bakar yang luas pada tubuhnya. Leah, ibunya Ami, menulis, “..Kami berhasil bertahan dan memercayai Tuhan saja oleh karena kebesaranNya, kasih karuniaNya dan hadiratNya di dalam hidup kami dan karena doa-doa anda..”

Sebagai bagian dari dukungan tanpa henti kami kepada orang-orang Kristen teraniaya belahan dunia ini, tahun lalu kami mensponsori suatu perayaan Natal khusus bagi orang-orang Kristen di Tepi Barat. Sekitar 1000 orang hadir dalam perayaan ini di tiga kota pada bulan Desember 2008. Perayaan ini memberikan kesempatan kepada orang-orang Kristen ‘tersembunyi’ untuk bersekutu dengan orang-orang Kristen lain.

“Adalah sangat tidak mudah menjadi seorang Kristen di wilayah Palestina,” kata Steven Khoury, seorang pendeta di Bethlehem. “Tetapi kami tetap percaya diri melalui dukungan dan doa-doa saudara dan saudari seiman di seluruh dunia.”

Penganiayaan terhadap Orang Kristen di Israel dan Tepi Barat:

15 Mei 2008: Para pemukim Or Yehuda terang-terangan membakar ratusan kitab Perjanjian Baru di depan sebuah sinagog sementara para murid menari mengelilingi api unggun yang melumat habis kitab Perjanjian Baru tersebut.

1 Mei 2008: Dua orang pemimpin para Rabi membatalkan Bible Quiz Jewish International setelah mengetahui salah seorang finalis yang berusia 15 tahun adalah seorang Kristen Yahudi.

20 Maret 2008: Ami Ortiz – anak muda dengan dua kewarganegaraan dan putra seorang pendeta Yahudi – terluka serius ketika sebuah bom meledak di rumahnya di pemukiman Ariel, Tepi Barat.

23 Oktober 2007: Seorang misterius melempar bom api ke sebuah gereja di Barat Yerusalem yang digunakan oleh jemaat Baptis dan Yahudi Messianic.

Source:

Buletin KDP (Kasih Dalam Perbuatan) Edisi Desember 2009

P.O. Box 1411

Surabaya 60014

Artikel Lain:

- Al-Masih, Muhammad Dan Saya?

- Percaya Yesus, Pasti Masuk Surga

Renungan: Gerombolan ‘Agama Lain’ Menyerang Orang-Orang Kristen

pakistan.jpgPakistan

Orang-orang Kristen di desa Bahmaniwala di Punjab, Pakistan, diserang oleh orang-orang ‘Agama Lain’ pada 30 Juni setelah seorang Kristen difitnah menghujat ‘Agama lian’. Pada 29 Juni ketika Sardar Masih (38 tahun) dan putranya sedang dalam perjalanan pulang dengan traktornya, mereka meminta kepada seorang ‘Agama lain’ dan keponakannya (yang dilaporkan sedang mabuk) untuk memindahkan sepeda motor mereka yang menghalangi jalan. Dibuat marah karena dia (‘kafir’) memerintah mereka, dua orang pria ini menarik Sardar turun dan memukulinya. Kemudian sore harinya sekelompok orang ‘Agama lain’ berjumlah sekitar 20 menyerang rumahnya. Traktornya hancur dan saudara-saudaranya mengalami luka bacok serius. Pria ‘Agama lain’ itu lalu melapor pada polisi setempat dan mengatakan fitnah kepada pemimpin agama setempat bahwa Sardar telah melakukan penghujatan.

Keesokan harinya, seorang pemimpin ‘Agama lain’ menggunakan corong mesjid menyerukan orang-orang ‘Agama lain’ untuk menyerang orang-orang Kristen. Sore itu, lebih dari 500 orang ‘Agama lain’ melucuti dan merusak lebih dari 100 rumah orang Kristen, membakar kendaraan dan menyerang orang Kristen. Listrik dan air juga diputus. Lusinan orang Kristen terluka, termasuk wanita dan anak-anak yang dilaporkan disiram dengan air keras. Salah seorang wanita hamil yang dipukul mengalami keguguran.

Kentang

Sumber : Come and Follow Jesus
Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) tersebut mengadakan " permainan ". Ibu Guru menyuruh anak tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik ransparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang di beri nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : " Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak
merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun
mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari " permainan " yang mereka lakukan.

Ibu Guru : " Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain.

Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita
pergi. Itu hanya 1 minggu bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
Alangkah tidak nyamannya ...

Karena itu lepaskanlah pengampunan kepada orang yang Anda benci, karena ketika Anda tidak mau mengampuni, Anda seperti sedang memegang bola berduri. Semakin Anda tidak mau melepaskan bola berduri itu, Anda sendiri yang akan merasakan sakit. Karena itu tidak ada jalan lain kecuali melepaskan pengampunan. GBU

Efesus 4:32, "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu."
--------------------

Ketegaran Carol Schuller

Sumber : Come and Follow Jesus
Carol Schuller adalah putri Robert Schuller. Ia mewarisi sikap tegar ayahnya yang mengatakan, "Masa sulit pasti berlalu, manusia tegar mampu bertahan." Carol mengalami kecelakaan, sehingga kakinya harus diamputasi, tetapi keadaan itu tidak membuatnya minder atau putus asa. Dalam kecacatannya itu ia mampu menunjukkan ketegaran dan keuletan, sehingga ia menjadi salah satu pemain yang handal dalam tim softball-nya.

Pada suatu musim panas, keluarga Robert Schuller diundang sebagai tamu dalam sebuah pelayaran selama seminggu ke Hawai. Pada malam terakhir diadakan pertunjukan bakat yang dapat diikuti oleh seluruh penumpang. Dengan penuh percaya diri, Carol berkata kepada papanya, "Papa, saya akan ikut acara pertunjukan bakat malam ini." Papanya tahu bahwa Carol tidak pandai menyanyi ataupun menari, tapi ia yakin pada kemampuan putrinya.

Pada malam pertunjukan, para peserta tampil dengan bakat yang cukup memukau. Ketika tiba giliran Carol, ia muncul di atas panggung dengan mengenakan gaun panjang dan dia terlihat cantik. Dengan penuh percaya diri dia berjalan menuju mikrofon.
"Saya tidak tahu apa bakat saya sebenarnya, namun ini adalah kesempatan yang baik untuk mengutarakan apa yang ingin Anda ketahui. Anda semua terus-menerus memperhatikan saya sepanjang minggu ini dan penasaran dengan kaki palsu saya. Saya mengalami kecelakaan dan nyaris tewas, namun tim dokter terus mentransfusi darah sehingga denyut jantung saya kembali menguat. Mereka memotong kaki saya tepat di bawah lutut dan belakangan mereka memotong juga lutut saya. Saya harus berada di rumah sakit selama tujuh bulan dengan infus antibiotik untuk melawan infeksi yang meradang. Kalau saya memiliki bakat, maka bakat saya adalah : Saya dapat memberitahukan kepada Anda semua bahwa selama masa-masa sukar itu, keyakinan menjadi sangat nyata bagi diri saya. Saya melihat pada gadis-gadis yang berjalan tanpa ketimpangan dan saya ingin berjalan seperti mereka. Saya tidak dapat, namun inilah yang dapat saya pahami dan sekaligus ingin saya beritahukan kepada Anda semua. Bukan cara berjalan Anda yang diperhitungkan, namun siapa yang berjalan dengan Anda dan dengan siapa Anda berjalan. Terima kasih."
Malam itu tidak ada mata yang kering, tidak ada hati yang tak tersentuh, mereka paham bahwa masa sukar pasti berlalu, manusia tegar mampu bertahan karena Tuhan berjalan bersama mereka!

Jangan terpaku pada masalah yang ada di depan kita, karena itu hanya akan menambah sesak dada kita, tetapi pandanglah Tuhan yang selalu setia berjalan bersama kita. Mengapa orang2 tegar mampu bertahan? Bukan strategi yang memampukan mereka, tetapi hati yang kuat yang selalu memandang dan terpaut pada Tuhan.

Mazmur 31:24-25
(24)Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihiNya! TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjarNya dengan tidak tanggung-tanggung. (25)Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
--------------------

CERITA DARI AFRIKA

Sumber : Come and Follow Jesus
Suatu malam Saya bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit; tapi apapun yang kami lakukan, dia meninggal dan meninggalkan bayi premature yang sangat mungil serta seorang anak perempuan usia 2 tahun yang menangis.
Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, Karena kami tidak punya incubator ( kami tidak punya listrik untuk Menyalakan incubator)

Kami juga tidak punya makanan khusus bayi. Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa, di malam hari seringkali udara sangat dingin dan anginnya kencang.

Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkus bayi dengan kain wol. Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas.

Kemudian muridku yang mengisi botol air panas segera kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa saat mengisi botol itu dan ternyata meledak (Karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis)

"Dan ini adalah botol air panas terakhir kita," dia berseru. "Oke," kataku, "taruh bayi itu didekat api dalam jarak yang cukup aman,dan tidurlah diantara bayi itu dan pintu untuk menjaga nya dari angin. Tugasmu adalah menjaga bayi tetap hangat."

Siang hari berikutnya, seperti hari sebelumnya, Aku pergi berdoa dengan beberapa anak yatim piatu yang berkumpul denganku. Aku berikan mereka bermacam-macam saran untuk mendoakan dan bercerita pada mereka tentang bayi mungil itu.

Aku menceritakan masalah kami soal menjaga bayi supaya cukup hangat, menyebutkan tentang botol air panas, dan bagaimana bayi itu bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Saya juga bercerita pada mereka tentang saudara perempuannya yang berumur 2 tahun, yang menangis karena ibunya meninggal.

Selama berdoa, seorang gadis usia 10 tahun, Ruth, berdoa dengan doa singkat seperti anak Afrika kami.

"Tolong, Tuhan" dia berdoa, "kirim kan botol air. Tidak baik besok, Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini."

Saat aku menarik napas dalam hati karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan, "Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bahwa Engkau sungguh mengasihinya?"
Seringkali dalam doa anak-anak, aku merasa ditempatkan pada pusatnya. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, "Amin". Oya aku tahu bahwa Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, kan? (pikiran manusia selalu ingin membatasi kuasa Tuhan)
Dan menurutku satu-satunya jalan Tuhan dapat menjawab doa-doa kami yaitu jika keluargaku di Amerika mengirimi bingkisan. Namun aku sudah tinggal selama hampir 4 tahun, dan tidak pernah, sama sekali menerima bingkisan dari rumah. Tapi, bila sesorang mengirimi ku bingkisan, siapa yang akan memberi botol air panas. Sebab aku tinggal di daerah Tropis!

Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parcel dikirimkan dengan mobil didepan pintu rumahku.

Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi disana, di beranda, ada dua puluh dua pon parcel yang sangat besar. Aku merasa pedih dimataku.

Aku tidak dapat membuka parsel itu sendirian, jadi aku meminta ke anak-anak yatim piatu untuk membantuku. Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Kami melipat kertasnya, supaya tidak menyobeknya. Kegembiraan meningkat.

Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. Dari atas, kami mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah. Mata kami langsung silau melihatnya. Ada perban rajutan untuk pasien kusta, dan anak-anak mulai terlihat sedikit bosan. Lalu ada sekotak kismis, ini bisa dipakai untuk membuat setumpuk kue kismis di akhir pekan.

Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, aku merasa .... benarkah ini?? Aku menariknya keluar .... yaa .... ini baru, botol air panas karet. Aku menangis terharu.

Aku tidak meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku tidak percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya. Ruth ada di barisan depan dari anak2. Ia cepat2 maju, sambil menangis, " Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia harus mengirim bonekanya juga!" Sambil mengobrak-abrik bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah.

Matanya berkilau ! Dia tidak pernah sangsi! Sambil melihatku, dia berkata : " Dapatkah aku pergi bersamamu & memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu, Yesus sangat mencintainya??
Ternyata parcel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Di bungkus oleh Siswa Kelas Hari Mingguku, yang mana saat mempersiapkan parcel itu, Tuhan telah memerintahkannya juga untuk mengirimi botol air panas walaupun di daerah Tropis. Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan ke anak Afrika - Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya "sore itu"

(Yesaya 65:24)
"Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya."
--------------------

ALLAH SEBELUM ISLAM

Sumber : Elia Stories

"Pihak Berwajib Malaysia menyita 15.000 Alkitab yang diimpor dari Indonesia karena memuat nama Allah."

Inilah berita hangat saat ini, ada apa dengan Malaysia? Berita demikian sebenarnya tidak aneh karena dua hal: Pertama, memang orang Malaysia terkenal berwatak ego-possesive, bayangkan angklung, reog, batik, dan lainnya yang milik Indonesia di klaim sebagai miliknya, dan sekarang nama 'Allah' bahasa Arab milik orang Arab diklaim sebagai miliknya pula, padahal itu bukan bahasa mereka. Kedua, Umat Islam Malaysia merasa terusik karena belakangan ini makin banyak orang Malaysia yang masuk kristen, maka isu nama 'Allah' diangkat. Gejala fundamentalisme demikian memang gejala baru karena orang Arab sendiri, baik yang beragama Islam, Yahudi maupun Kristen, dari dahulu sampai sekarang, menggunakan nama 'Allah' itu bersama-sama untuk menunjuk 'Allah Monotheisme Abraham/Ibrahim' yang mereka sembah sekalipun masing-masing memiliki aqidah berbeda mengenai 'Allah' yang sama itu. Secara hukum peradilan sebenarnya pengadilan Malaysia tidak bisa melarang penggunaan itu namun keputusan politik yang didasari sentimen agama mayoritas ditambah watak orang Malaysia yang diskrimintatif terhadap kelompok minoritas menjadikan pencekalan itu terjadi.

Apakah nama 'Allah' itu milik agama Islam? kalau begitu mengapa sudah digunakan sebelum agama Islam lahir? Nama Allah sudah ada setua kelahiran bahasa Arab. Jauh sebelumnya di Mesopotamia dimana rumpun semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El/Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon babilonia. Namun bagi sebagian besar keturunan Sem (dimana nama rumpun Semitik berasal), nama itu dimengerti sebagai 'Tuhan Yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.' Nama El berkembang ke wilayah Utara dan Barat menjadi Ela, Elah, dan khususnya di Aram-Siria nama itu disebut Elah/Alaha dan dikalangan Ibrani disebut El/Elohim/Eloah. Sedangkan nama Il berkembang di wilayah Timur dan Selatan menjadi Ila, Ilah, dan di Arab disebut Ilah/Allah.

Catatan tertua pada milenium kedua sebelum Kristus menunjukkan bahwa keturunan Abraham yang disebut suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah dikenal sebagai kaum Hanif (jmk. Hunafa) menyebut nama 'Allah' dalam dialek Arab sejak zaman kuno.Ensiklopedia Islam (hlm.50-51) menyebutkan, bahwa: "Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail."

Dalam penemuan inskripsi dikalangan suku Lyhian/Tamud ditemukan catatan dari sekitar abad VI/V SM (semasa Ezra) bahwa nama Allah sudah digunakan, dan menarik mengetahui bahwa suku Lyhian sangat erat dengan suku Dedan, dimana Dedan adalah cucu Ketura, isteri Abraham: "Inskripsi Arab Utara. . Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks Lyhian. . Bukti ditemukannya nama Allah menunjukkan bahwa Lyhian adalah pusat penyembahan Allah di Arab. . " Orang Siria, menekankan kata benda umum 'allah' menjadi nama diri dengan menambahkan elemen "a": allaha = "the god" lalu menjadi "God". . Ketika orang Lyhian mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen "a"." (F.V. Winnet, Allah Before Islam, dalam The Muslim World, Vol.38, 1938, hlm.245-248)

Ada yang mencoba memberikan stigmatisasi seakan-akan nama Allah itu nama berhala Siria kuno, namun dari Tanakh kita mengetahui bahwa dalam kitab Ezra yang berasal abad VI SM, kita mengenal ada banyak nama 'Alaha' yang ditujukan kepada 'Elah Yisrael' (Ezr 5:1;6:14). Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya 'Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times', yaitu bahwa nama 'Allah' sudah lama digunakan dikalangan suku-suku Arab termasuk yang kristen dan berasal dari 'Alaha' Aram, bahasa Arab diketahui berkembang dari Nabati-Aram. Jadi adanya dugaan bahwa 'Allah sesembahan Lihyan itu dewa Siria oleh Winnet dan Trimingham disebutkan bahwa nama itu ditujukan kepada 'Alaha' Aram yang menunjuk kepada 'Elah Yisrael.' Pendapat Trimingham tidak bisa diabaikan, sebab ia belajar ilmu sosial (Birmingham) dan studi Arab & Persia (Oxford) kemudian mengambil doktor dan mengajar 'Studi Arab & Islam' selama 11 tahun di University of Glasgow, ia juga menjabat sekertaris badan misi ke Sudan dan melakukan kunjungan secara intensif ke Afrika. Setelah memperdalam bahasa Arab di Siria dan Palestina ia mengajar Sejarah Arab selama 13 tahun di American University (Beirut).

Berbeda dengan anggapan sekelompok orang yang menyebutkan bahwa orang Kristen Arab semula menyebut 'Al-Ilah' dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama 'Allah,' fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama 'Allah' dalam ibadat mereka. Pater Pacerillo, arkeolog Franciscan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari abad IV dengan inskripsi 'Bism Ellah al Rahmani al Rahimi' (Dalam nama Allah yang pengasih dan penyayang). Trimingham juga menyebutkan bahwa pada Konsili Efesus (431) hadir seorang uskup Arab bernama Abdelas/Abdullah(Abdi Allah), sedangkan Bambang Noorsena S.H. yang mengambil pasca-sarjana dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyebut bahwa sebelum Islam lahir, pemakaian istilah Allah di lingkungan Kristen bisa dilihat dari sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan disekitar wilayah Syria dimana nama Al-Ilah/Allah disebut: "Ada dua inskripsi penting: pertama inskripsi Zabad (tahun 512) yang diawali dengan rumusan 'Bism al-Ilah' (Dengan nama al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen Syria, dan kedua, Inskripsi 'Umm al-Jimmal' (juga berasal abad ke-6 Masehi) yang diawali dengan ucapan 'Allahu ghafran' (Allah mengampuni)." (History of Allah, hlm.10)

Noorsena juga menyebutkan bahwa ada teks Aram Suryani masa itu dimana nama 'Alaha' diterjemahkan menjadi teks 'Allah' Arab: "Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad (bahasa Suryani-Arab), karya Mar Ya'qub al-Rahawi (James of Eddesa). Buku ini diawali kalimat: Allah..., menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha... (teks asli Suryani ditulis tahun 578 M)". (The History of Allah, hlm.12.)

Menarik juga mengamati penggunaan nama 'Allah' di kalangan Arab beragama Yahudi, dimana sebelum Islam lahir ada Imam Sinagoge di Medinah yang bernama 'Abdallah bin Saba.' Bukan hanya itu, data Al-Quran sendiri menyebutkan bahwa pada masa Muhammad di gereja dan sinagoge sudah banyak disebut nama Allah: "(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS.22:40)

Muhammad menyebut bahwa nama 'Allah' sudah disebut orang Yahudi dan Nasrani, ia tidak menyebut orang-orang itu mengucapkan 'Al-Ilah,' maka karena waktu itu Islam dan Al-Quran baru lahir, tentunya penggunaan nama 'Allah' dikalangan Arab beragama Yahudi dan Nasrani sudah lebih dahulu terjadi lama sebelumnya.

Dari kenyataan diatas kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan pra-tulis, penggunaan nama 'Allah' bisa terjadi sebagai derivasi 'allaha' Aram, dan sekalipun mayoritas pakar Arab menyebutnya padanan 'Al-Ilah,' belakangan ini dikembangkan pendapat sebagai nama diri yang berdiri sendiri. Memang pada masa modern dengan berkembangnya ilmu tata-bahasa (gramatika) orang berusaha untuk merumuskan bahasa secara diskriptif, namun bahasa adalah ilmu yang berkembang sepanjang waktu, karena itu tidak bisa dibatasi dengan gamatika modern sebagaimana halnya rumus-rumus ilmu pasti/fisika yang mengamati hukum-hukum alam yang tetap.

Nama 'Allah' sudah digunakan Alkitab bahasa Arab sedini tahun 630-an sebelum Al-Quran ditulis, dimana fragmen-fragmen dalam bahasa Arab mulai ditulis oleh Patriakh Aby Sedra II, dan yang disusun lengkap berasal dari Hunayan bin Ishaq dan Saadia Gaon pada abad IX. Sejak itu nama 'Allah' terus digunakan dalam Alkitab bahasa Arab termasuk empat versi yang sekarang digunakan oleh sekitar 29 juta umat kristen Arab diseluruh dunia. Di Indonesia sejak masuknya agama Islam (abad XIII) dan Kristen (abad XVI), nama 'Allah' sudah terserap dalam bahasa Melayu dan kemudian masuk kosa-kata bahasa Indonesia, dan sudah digunakan sedini ditulisnya terjemahan Melayu pada tahun 1629 dan kemudian digunakan sampai sekarang, dan sekalipun Indonesia memiliki populasi Islam terbesar di dunia selama ini tidak ada yang mempersoalkan penggunaan nama Allah itu mengingat nama itu sudah menjadi kosa-kata bahasa Indonesia dan digunakan dalam Alkitab Kristen sejak awal selama 4 abad, kecuali dipersoalkan oleh sekelompok kecil orang.

Menarik juga untuk diamati bahwa di Timur Tengah, penggunaan nama 'Allah' oleh mereka yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam yang berbahasa Arab digunakan bersama tanpa masalah, karena itu memang aneh kalau masakini ada orang diluar Palestina yang bukan Arab atau berbahasa ibu Arab yang memberikan stigmatisasi seakan-akan itu nama 'berhala dewa bulan.' Mereka kurang mengerti bahwa dalam Al-Quran tidak pernah disebut Allah sebagai nama dewa bulan, bahkan ayat-ayat Al-Quran menyebutkan sebaliknya, a.l. dalam ayat berikut:

"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)." (QS.29:61)

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah." (QS.41:37)

Ini tidak menutup kemungkinan bahwa dikalangan Arab Lihyan dan Arab Jahiliah, disamping kaum Hanif ada juga penyembah berhala yang menyebut dewa mereka dengan sebutan Allah. Namun pada masa Islam hadir, keyakinan monotheisme kaum Hanif itu dipulihkan.

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju-kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. Menjelang abad ke-7, kesadaran agama Ibrahim di kalangan bangsa Arab ini telah menghilang, dan kedudukan-nya digantikan oleh pemujaan sejumlah berhala ... dalam waktu 20 tahun seluruh tradisi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran Tuhan yang terakhir, yakni Risalah Islam". (Ensiklopedia Islam, hlm.50-51)

"Karena Islam memperbaiki agama yang dibawa Ibrahim, yakni agama fitrah, maka jahiliyah dipandang sebagai sebuah zaman sebelum kedatangan Islam, ibarat kegelapan sebelum terbit fajar. Pada zaman ini ajaran monotheisme Ibrahim telah musnah berganti dengan sistem paganisme, dan diwarnai dekadensi moral. Sejumlah berhala sesembahan didatangkan ke Makkah dari berbagai negeri di Timur Tengah. Namun tidak semua warga Arab pada saat itu menganut sistem keyakinan pagan, melainkan terdapat beberapa suku Arab memeluk agama Kristen dan Yahudi. Bahkan terdapat sejumlah pribadi yang menekuni dunia spiritual, mereka itu dinamakan 'hunafa' (tgl. hanif) yang mana mereka tidak memihak kepada satu di antara kedua agama tersebut, melainkan mereka bertahan pada ajaran monotheisme Ibrahim". (Ensiklopedia Islam, hlm.190)

Kemerosotan penggunaan nama sesembahan 'Allah' tidak hanya terjadi dikalangan Arab, sebab dikalangan Yahudipun kemerosotan yang sama juga terjadi. 'Elohim' disamping untuk menyebut 'Pencipta Langit dan Bumi' (Kej.1:1) juga digunakan untuk menyebut 'berhala anak lembu' (Kel.32:1,4), bahkan 'berhala anak lembu' itu juga disembah sebagai YHWH (Kel.32:5).

Menarik juga melihat fakta bahwa ada Al-Quran dalam bahasa Ibrani yang diterbitkan di Israel dimana nama 'Allah' diterjemahkan 'Elohim' (Al-Quran Tirgem Avrit, Devir Publishing House, Tel-Aviv, 1945).

Marilah kita mendoakan mereka yang tidak merasa damai sejahtera dengan penggunaan nama 'Allah' oleh kalangan Kristen, sebab itu juga berarti bahwa mereka menolak 'YHWH' yang nama lainnya 'El/Elohim/Eloah' dalam dialek Arab 'Allah' ditolak bahkan diberikan stigmatisasi sebagai 'berhala.'

"Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin." (Rm 15:33).

Salam kasih dari Sekertariat www.yabina.org.

DISKUSI

Artikel "Allah Sebelum Islam' (lihat di www.yabina.org) mendapat banyak appresiasi, namun ada juga yang menanggapinya. Tanggapan yang penting untuk didiskusikan adalah seperti berikut :

(Tanggapan-1)
Tidak benar bahwa nama 'Allah' sudah digunakan umat kristen Arab sebelum Islam, sebab dalam 'Arab Bible' nama itu ditulis 'Al-Ilaah' sesuai nama yang digunakan kalangan kristen sebelum ada Islam. Ini bisa dilihat dalam inskripsi Umm al-Jimal (abad-6). Inskripsi Zabad tidak memuat nama 'Allah' itulah sebabnya 'Al-Ilaah' digunakan dalam Arab Bible dan bukan 'Allah.'

(Diskusi-1)
Sebelum mendiskusikannya, ada baiknya mengetahui lebih dahulu apakah 'Arab Bible' itu. Arab Bible (2004) adalah karya plagiat dari 'Arabic Bible' yang selama ini digunakan umat Kristen berbahasa Arab (Bustani-van Dijk, 1865), dengan hanya mengubah nama 'Allah' didalamnya dengan 'Al-Ilaah', karena itu klaim 'Arab Bible' bahwa mereka lebih tahu bahasa Arab perlu diuji. Arabic Bible menggunakan nama 'Allah' sudah satu-setengah abad, meneruskan penggunaannya dalam Alkitab Arab dan oleh orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sejak awal, dan kini digunakan 29 juta umat Kristen berbahasa Arab.

Inskripsi Umm al-Jimal memuat nama al-Ilah, namun penggunaan nama 'Allah' sebelum Islam banyak. Ada uskup Arab hadir di Konsili Efesus (431) bernama 'abdellas' (Abdullah, band. dengan 'Wahab Allah' yang diterjemahkan ke Yunani sebagai 'ouaballas')). Dalam fragmen pra-Islam yang ditemukan di Damaskus (1901) ada teks LXX Mazmur 78 dimana 'ho-theos' (elohim) diterjemahkan dalam bahasa Arab yang ditulis dengan aksara yunani sebagai 'allau' (ayat 22,31,59) dan 'el ileu ( (ayat 56) dalam inskripsi itu huruf 'ha' Arab ditulis sebagai 'upsilon' Yunani. Seorang martir kristen Arab dari Najran bernama 'Abdullah ibn Abu Bakr ibn Muhammad' (523), dan di kalangan Arab beragama Yahudi pra-Islam ada Imam Sinagoge di Medinah yang bernama 'Abdallah bin Saba.'

Inskripsi Zabad (512) 'memuat nama Allah,' banyak pakar menyebut inskripsi itu memuat 'Allah Gafran' (Allah mengampuni) sebagai pembuka bahkan digambarkan dalam buku 'Islamic Caligraphy' oleh 'Yasin Hamid Safadi' (London: Thames and Hudson Limited, 1978, hlm.6).

Jadi, nama Al-Ilah dan Allah digunakan bersama dan saling dipertukarkan terlebih pada zaman pra-Islam. Dalam Ensyclopaedia of Islam disebutkan: "Bagi umat Kristen dan monotheis, al-ilah terbukti berarti Tuhan; bagi penulis lain artinya "yang disembah", dan al-ilah menunjukkan 'tuhan yang sudah disebutkan' . penggunaannya bertahan sampai sekarang ('Abd al-Ilah). Allah sering digunakan sebagai kontraksi al-ilah, khususnya dalam tulisan pra-Islam, kemudian menjadi nama diri (ism 'alam)." (Brill, Vol.III, hlm.1093)

Adalah gegabah kalau membangun sebuah teologi hanya dengan mengutip satu-dua contoh yang mendukung, padahal banyak contoh lainnya yang berbeda diabaikan.


(T-2)
Allah adalah 'nama diri' yang sama dengan bentuk feminim 'nama diri' dewi pagan Arab 'Allat' yang ditemukan kuil penyembahannya di Petra dari kaum Nabatea, dan Lihyan adalah pusat penyembahan dewa HLH dari Siria. Tidak ada nama 'Allah' muncul di Inskripsi kristen Zabad (512).

(D-2)
Mengenai Allah sebagai nama diri bisa menunjuk sesembahan pagan Arab atau Yang Mahaesa, dan penggunaan dengan satu 'l' (alah) atau dua 'l' (allah) dengan pengertian sama merupakan kebiasaan dalam inskripsi kuno sebelum gramatika abjad Arab menjadi baku. Dalam Tanakh, 'El/Elohim' berarti nama diri dan sebutan yang tertuju Tuhan yang Esa maupun kepada dewa/berhala.

Lihyan disebutkan sebagai pusat penyembahan 'HLH' dan tidak ada indikasi bahwa nama itu tertuju 'dewa Siria' sekalipun ditemukan kuil penyembahan di Petra. Perlu disadari bahwa inskripsi di Arab Utara (Sabean, Lihyan, Tamudic, Safaitic) menunjukkan bahwa Lihyan merupakan pusat penyembahan 'Allah' dan disana berkembang dialek-dialek Arab dimana ada yang menggunakan kata sandang 'al' tapi juga 'ha' untuk menunjukkan 'Tuhan yang Satu.' F.V. Winnet dalam penelitian yang mendalam atas inskripsi Lihyan menyebutkan bahwa pujian kepada Allah dalam inskripsi itu bersifat netral dan bias diarahkan kepada sesembahan mana saja, tapi teks Lihyan menunjukkan adanya kata kunci 'abtar' yang hanya ada dalam Al-Quran (QS.108) yang mengarah kepada 'Allah yang Esa dan Kekal' (QS.112).

"Inskripsi Arab Utara. . Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks Lyhian. . Bukti ditemukannya nama Allah menunjukkan bahwa Lyhian adalah pusat penyembahan Allah di Arab. . "Orang Siria, menekankan kata benda umum 'allah' menjadi nama diri dengan menambahkan elemen "a": allaha = "the god" lalu menjadi "God". . Ketika orang Lyhian mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen "a"." (Allah Before Islam, The Moslem World, Vol.38, 1938, hlm.245-248)

Apalagi, Inskripsi Lihyan abad VI BC itu berada di Arab Utara yang berasal dari bahasa Nabatea Arami itu dekat dengan Yerusalem dimana dikenal kitab Ezra yang sezaman (abad VI BC) yang memuat nama Aram 'Alaha' yang ditujukan kepada 'Elah Yisrael' (Ezr.5:1;6:14). Lagipula, pendahulu suku Lihyan adalah Dedanite yang adalah keturunan Dedan cucu Keturah, isteri Abraham, tentu ada kaitannya dengan keyakinan Hanif. Ensiklopedi Islam menyebut:

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju-kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail." (Glasse, hlm.50-51).

Nabi Islam Muhammad sebelum menjadi rasul berhubungan dengan biarawan Nestorian Waraqah ibn Nawfal yang adalah sepupu Khadijah. Ia juga menghadiri pengajaran guru kristen dekat Mekah, dan setelah memulai agamanya ia mengaku menulis kitab sebagai penerus kitab-kitab Yahudi dan Kristen yang sudah ada, ini menunjukkan bahwa ia mengaku nama 'Allah' yang sama dalam dua agama pendahulunya, hal itu secara jelas terlihat dalam Al-Quran:

"(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS.22:40)

Dalam Surrah Al-Quran disebut "orang Yahudi menyebut Allah" (5:64), dan "orang Yahudi & Nasrani beriman kepada Allah" (2:62) dan menyebut "kami anak-anak Allah" (5:18). Orang Nasrani menyebut "Isa Almasih putra Allah" (9:30) dan "rasul utusan Allah" (4:157,171;61:6), dan "Isa menjawab: Bertakwalah kepada Allah" (5:112) dan berkata "Aku ini hamba Allah" (19:30), dan "Allah mengangkat Isa kepada-Nya" (3:55;4:158;5:110). Ini menunjukkan 'Allah' sudah dipakai umat Yahudi dan Kristen Arab termasuk dalam kitab-kitab mereka (QS.2:97;5:48) semasa pra-Islam.


(T-3)
Arab Bible mengutip ucapan Sidney Griffith bahwa: "Bahasa Arab semakin banyak digunakan oleh para pemimpin Kristen Timur, dan akhirnya menggantikan bahasa Yunani. Nampaknya, bahkan di dalam gereja, ada pergeseran besar ke arah mengadopsi segala hal yang bersifat islami. Migrasi ke arah kebudayaan Arab yang sedang berjaya sedang digemari (dan juga lebih aman), oleh karena peradapan Arab kemudian dipandang sebagai kebudayaan yang lebih superior dari yang lainnya. Dengan situasi seperti ini maka tidaklah mengejutkan jika kita melihat adanya penggunaan kata 'Allah'."

(D-3)
Sidney Griffith kurang mengerti sejarah Arab-kristen dengan menganggap umat kristen pada masa Islam mengikuti bahasa Arab dan meninggalkan bahasa yunani. Sekalipun sejak penguasa Islam (630) bahasa Arab menggeser budaya dan bahasa Yunani, itu tidak berarti orang Arab kristen semula berbahasa Yunani dan baru menggunakan bahasa Arab sesudah itu. Kekuasaan Arab saat itu hanya sebagian saja dari dunia berbahasa Arab yang sudah menyebar sampai ke Mesopotamia, Arab Selatan, seluruh Afrika, dan Eropah beberapa abad sebelum hadir agama Islam.

Sekalipun PB ditulis dalam bahasa Yunani, tidak berarti hanya itu bahasa yang dikenal umat. Kekristenan Arab sudah dimulai sedini abad pertama dimana orang Arab sudah mendengar kotbah Yesus (Mrk.3:7-8) dan dihari Pentakosta mereka mendengar dalam bahasa Arab (Kis.2:11), dan Paulus mengunjungi jemaat kristen Arab (Gal.1:17). Alkitab Peshita dalam bahasa Aram ditulis pada abad II dimana El/Elohim Ibrani ditulis 'Alaha' sebelum kemudian menjadi 'Allah' Arab Nabatea dan bahasa Arab. Pada tahun 244 seorang Arab kristen Phillip the Arab menjadi kaisar Roma dan pada Konsili Nicaea (325) hadir 6 uskup Arab dari kawasan imperium Romawi dan tiga uskup lainnya dari kawasan Arab non Romawi. Ini menunjukkan bahwa umat kristen Arab dengan bahasa Arabnya sudah menyebar bahkan menduduki jabatan tinggi kaisar Romawi dan Uskup jemaat Arab.

Menarik untuk membandingkan isi Injil Apokrif Infancy Gospel of Thomas (abad II) dimana ada cerita mengenai 'Allah yang mengizinkan Yesus membuat mujizat burung dari tanah liat' yang dikutip dalam Injil Anak-anak apokrif dalam bahasa Arab 'Injilu' t Tufuliyyah' dan kemudian diceritakan Al-Quran (QS.5:110, abad VII). Pada abad III Origen menulis dalam introduksi Hexapla bahwa ia berkonsultasi dengan salinan bahasa lain termasuk Arab, ini berarti pada abad III sudah ada fragmen Alkitab dalam bahasa Arab. Pada abad VI, Waraqah ibn Nawfal di Mekah menerjemahkan fragmen Alkitab ke dalam bahasa Arab, pada tahun 520 umat Kristen di Najran memiliki Injil dengan dialek Arab yang ditulis dengan aksara Musnad, dan pada tahun 570 ditemukan tulisan di salah satu batu Kaabah kutipan dari Mat.7:16 dalam bahasa Arab. John of Sedra pada awal abad VII menulis terjemahan keempat Injil dalam bahasa Arab untuk digunakan oleh para cendekiawan Muslim.

Karena itu, menyempitkan kekristenan sebagai hanya mengenal 'Al Ilah' sebelum Islam, dan mengganggap orang kristen terpengaruh tekanan dominasi kekuasaan Arab/Islam agar menggunakan nama 'Allah,' menunjukkan sikap meremehkan kekuatan kekristenan Arab yang dipimpin Roh Kudus sejak hari Pentakosta dan sejak itu meluas pengaruhnya ke hampir seluruh kawasan berbahasa Arab. Pada awal abad VII pada waktu restorasi 'kaabah' di Mekah ditemukan inskripsi disalah satu batu sudut yang memuat nama Maria & Yesus bersama beberapa nabi PL. Dengan adanya nama-nama tokoh kristen yang mengandung nama 'Allah' menunjukkan bukti bahwa kekristenan Alkitablah yang mempengaruhi pembentukan Al-Quran (sekitar 70% isinya ada dalam Alkitab kristen).

Makin jelas bahwa Al-Ilah dan Allah adalah padan kata atau kontraksi, yang tertuju kepada Yang Mahaesa pencipta langit dan bumi maupun dewa. Dalam ensiklopedi disebut:
"Allah ("Tuhan" Arab), Tuhan yang esa dan satu-satunya dalam agama Islam. Secara bahasa, nama Allah mungkin merupakan kontraksi al-Ilah Arab, "Tuhan itu." Asal-muasal nama itu dapat ditelusuri ke masa lalu sampai tulisan-tulisan Semitik yang paling awal dimana kata untuk Tuhan adalah Il atau El, yang terakhir adalah sinonim Yahweh Perjanjian Lama. Allah adalah kata standar Arab untuk menyebut 'Tuhan' dan digunakan oleh Arab Kristen sama halnya dengan Muslim." (Ensyclopaedia Britannica)

"Allah, nama Yang Mahakuasa Arab. Kata itu adalah kontraksi al-Ilah bahasa Arab, "Ilah Itu." Kedua ide dan kata itu sudah ada dalam tradisi Arab sebelum Islam, dimana ada beberapa bukti monotheisme primitive dapat ditemukan. Walaupun ada yang menyebutnya ilah-ilah yang lebih rendah, Arab sebelum Islam mengenal Allah sebagai Yang Mahakuasa." (Microsoft Encarta, 2009)

Demikian juga 'Ensiklopedi Islam' (Glasse) dan 'Ensyclopaedia of Islam' (Brill) menyebut:
"Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran diwahyukan .... Kata itu tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan" (Glasse, hlm.23)

"Sebagian besar beranggapan nama diri Allah ada asalnya (mushtakk, mankul), kontraksi al-ilah, dan menganggap ilah adalah tiga huruf akar kata." (Brill, Vol.III, hlm.1093).

"Allah sudah dikenal di Arab; ia adalah satu dari sesembahan yang disembah di Mekah kemungkinan sebagai tuhan yang mahakuasa dan tentu saja tuhan pencipta (band. QS.13:16;29:61,63;31:25;39:38;43:87). Ia sudah dikenal sejak dulu, sebagai 'Allah,' al-Ilah (asal kata yang paling mungkin; saran lainnya adalah Alaha Aram)." (Brill, Vol.I, hlm.406).

Ada teks Aram Suryani pra-Islam yang menulis 'Alaha' diterjemahkan 'Allah' Arab:
"Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad (bahasa Suryani-Arab), karya Mar Ya'qub al-Rahawi (James of Eddesa). Buku ini diawali kalimat: Allah..., menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha... (teks asli Suryani ditulis tahun 578 M)". (Bambang Noorsena, The History of Allah, h.12.)

Kebenaran sejarah tidak bisa diubah dan perlu disadari bahwa 'Ilah/Allah' (Arab) memiliki asal mula yang sama (cognate) dengan El/Elohim/Eloah (Ibrani), Elah/Alaha (Aram), maupun El/Il Semitik (Mesopotamia), yang dipercayai beberapa agama sebagai dewa, tuhan tertinggi, atau Tuhan yang Mahaesa pencipta langit dan bumi. (Di Kanaan El juga ditujukan kepala pantheon Kanaan, dan dalam Tanakh, Elohim juga kerap ditujukan kepada dewa, a.l. lembu muda, Kel.32:4).

Perlu dicamkan benar bahwa sekalipun penganut agama Yahudi (Tanakh), Kristen (PL+PB) dan Islam (Al-Quran) berbahasa Arab menggunakan nama 'Allah' yang sama dan menyebutnya sebagai 'Tuhan Monotheisme Abraham/Ibrahim,' ketiganya mempercayai pengajaran/aqidah berbeda sesuai kitab suci masing-masing. Kerancuan biasa terjadi karena mencampuradukkan nama 'Allah' sebagai nama sesembahan semitik/abrahamik dalam bahasa Arab dan doktrin/aqidah mengenai Allah yang sama itu, karena itu kalau mau membandingkan adalah antara 'Allah' Arab Kristen dibanding 'Allah' Arab Islam. Marilah kita mendengarkan wejangan Dr. Olaf Schumann, teolog kristen Jerman yang fasih berbahasa Arab yang selama 3 tahun belajar dan mengajar di Universitas Al-Azhar di Kairo:

"Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau 'aqida, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya." (Keluar dari Benteng-Benteng Pertahanan, hlm.177)

Akhirnya, untuk menguji siapakah dari 'Arab Bible' dan 'Arabic Bible' yang lebih mengerti bahasa Arab (termasuk tentang kata 'Allah'), cukuplah kalau Arab Bible menerjemahkan sendiri dengan bahasa Arab mereka (dengan doktrin nama 'Al-Ilaah'nya) seluruh isi Alkitab dari bahasa asli Ibrani (PL) dan Yunani (PB), dan menyerahkan hasilnya untuk diuji oleh orang Arab terutama para pakar bahasa Arab, Ibrani, Yunani, agar dari merekalah keluar kesimpulan siapa dibelakang 'Arab Bible' atau 'Arabic Bible' yang lebih mengerti bahasa Arab, Ibrani dan Yunani!

Salam kasih dari Herlianto www.yabina.org

SURAT PILATUS KEPADA KAISAR TIBERIUS

Ternyata selama masa pemerintahannya sebagai Gubernur Yudea, Pontius Pilatus pernah menulis sebuah surat kepada Kaisar Tiberius di Roma melaporkan mengenai aktivitas dari pelayanan Yesus. Surat ini ditulisnya pada tahun 32 AD. Berikut adalah isi suratnya : Kepada Yang Mulia Kaisar Tiberius ... Seorang anak muda telah muncul di Galilea dan atas nama Elohim yang mengutusnya, Dia telah berkhotbah dalam sebuah hukum yang baru, dengan perilaku yang rendah hati. Pada mulanya saya mengira tujuan-Nya adalah untuk menimbulkan gerakan revolusi rakyat untuk melawan pemerintahan Roma. Dugaan saya keliru, Yesus Orang Nazaret itu ternyata bergaul lebih akrab dengan orang Romawi daripada dengan orang Yahudi. Suatu hari saya memperhatikan, ada seorang anak muda di antara sekelompok orang, sedang bersandar pada sebatang pohon dan berbicara dengan tenang kepada kumpulan orang banyak yang mengelilingi-Nya. Orang-orang mengatakan kepada saya bahwa itulah Yesus. Terdapat perbedaan yang jelas antara Dia dan orang-orang yang mengelilingi-Nya. Dari rambut dan janggutnya yang pirang, Ia kelihatan seperti "Tuhan" (Lord). Ia berumur sekitar 30 tahun, dan saya belum pernah melihat orang dengan wajah sedemikian simpatik dan menyenangkan seperti Dia. Apa yang membuat Ia kelihatan begitu berbeda dengan orang-orang yang sedang mendengarkan-Nya adalah pada wajah-Nya yang ceria. Karena saya tidak ingin mengganggu-Nya, saya meneruskan perjalanan saya, tetapi saya menyuruh sekretaris saya untuk bergabung dengan mereka dan turut mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian sekretaris saya melaporkan bahwa belum pernah ia membaca karya-karya ahli filsafat manapun yang dapat disejajarkan dengan ajaran Orang itu, dan bahwa Orang itu (Yesus) sama sekali tidak membawa orang ke jalan yang sesat, dan tidak pula menjadi penghasut. Oleh karena itulah kami memutuskan untuk membiarkan-Nya. Ia bebas untuk melakukan kegiatan-Nya berbicara dan mengumpulkan orang. Kebebasan yang tidak terbatas ini menggusarkan orang-orang Yahudi dan menimbulkan kemarahan mereka. Ia tidak menyusahkan orang miskin, tetapi merangsang kemarahan orang-orang kaya dan para tokoh masyarakat. Kemudian saya menulis surat kepada Yesus, meminta Ia untuk diwawancarai dalam suatu pertemuan. Ia datang. Pada saat Orang Nazaret itu tiba, saya sedang melakukan jalan pagi. Dan ketika saya memperhatikan-Nya, saya begitu tertegun. Kedua kaki saya serasa dibelenggu oleh rantai besi yang terikat pada lantai batu pualam. Seluruh tubuh saya gemetar bagaikan seorang yang bersalah berat. Namun Ia tenang saja. Tanpa beranjak, saya begitu terpukau dengan orang yang luarbiasa ini beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan pada penampilan atau perilaku-Nya. Selama kehadiran-Nya saya menaruh hormat dan respek yang mendalam pada diri-Nya. Saya katakan kepada-Nya bahwa pada diri dan kepribadian-Nya terdapat sesuatu yang memancar dan menunjukkan kesederhanaan yang memukau, yang menempatkan Ia di atas para ahli filsafat dan cendekiawan masa kini. Ia meninggalkan kesan yang mendalam pada kami semua karena sikap-Nya yang simpatik, sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Saya telah meluangkan banyak waktu untuk mengamati aktivitas pelayanan menyangkut Yesus dari Nazaret ini. Pendapat saya adalah : Seseorang yang mampu mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan menenangkan gelombang laut, tidak bersalah sebagai pelaku perbuatan kriminal sebagaimana dituduhkan oleh orang banyak. Kami harus mengakui bahwa sesungguhnya Ia adalah Putra Elohim. Pelayan anda yang setia, Pontius Pilatus. Surat di atas tersimpan di Perpustakaan Kepausan di Vatikan, dan salinannya mungkin dapat diperoleh di Perpustakaan Kongres Amerika. Dari surat di atas, tahulah kita mengapa Pilatus "tidak berani" menjatuhkan vonis hukuman mati atas Yesus (Matius 27:24, Yohanes 18 : 31-40 dan 19 : 4,6 - 16)

PEREMPUAN ITU KU PANGGIL MAMA

Perempuan itu ku panggil Mama Yang setiap malam selalu terjaga saat hati sibuah hatinya sedang gelisah... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu sibuk di subuh hari untuk menyiapkan sarapan dan keperluan sibuah hatinya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengajariku untuk menjadi bijaksana,... Yang selalu mengajariku untuk selalu dekat dengan Sang Khalik... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu turut merasakan kesusahanku,.. Yang selalu barusaha memenuhi kebutuhanku... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengkhawatirkan keadaanku saat ku jauh,.. Yang selalu menanyaiku dengan penuh kasih saat ku murung... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat penyakit itu bersarang ditubuhnya dan kubisikan: mama izinkan aku untuk merawatmu dan menjagaimu... Perempuan itu ku panggil Mama Yang yang terbaring lamah di pembaringan... Perempuan itu ku panggil Mama Yang dengan lemah berusaha duduk di pembaringan dan mengatakan pesan terakhirnya kepadaku: "RIS MARI BERBAGI DENGAN MAMA DALAM HIDUPMU"... Perempuan itu ku panggil Mama Yang di saat-saat terakhir hidupnya masih memintaku untuk bernyanyi memuju Sang Khalik serta bertelut dan berdoa untuknya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang malam itu tarikan napasnya semakin berat.... Perempuan itu ku panggil mama Yang saat itu kubertelut di kakinya sambil memanjatkan doa: TUHAN KUMOHON KEBESARAN KASIHMU DAN MUJIZATMU UNTUK KESEMBUHAN DAN MEMBERI PANJANG UMUR BAGI MAMAKU TERCINTA... Perempuan itu ku panggil Mama Yang disaat-saat terakhir hidupnya ku bersujud di kakinya sambil menangis dan memeohon ampun atas semua dosa dan kesalahan yang pernah kubuat selama hidupku bersamanya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang mengatakan kepadaku: RIS MAMA CAPEK DAN MAMA INGIN ISTIRAHAT... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kubisikan: MAMA, KALAU MAMA CAPEK BERISTIRAHATLAH MAMA......... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat detik - detik terakhir tarikan napasnya, aku masih tetap besujud di kakinya sambil meneteskan air mataku ke kakinya sambil berkata: MAMAKU, TOLONG RASAKAN BETAPA AKU SANGAT MENYAYANGI MAMA LEWAT HANGATNYA AIR MATAKU YANG MENETES DI KAKI MAMA INI... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kasih sayangku kepadanya dikalahkan oleh kasih sayang Sang khalik kepada mamaku, sehingga saat itu juga mamaku menghembuskan napasnya yang terakhir untuk pergi menghadap Sang Khalik, untuk pergi meninggalkan kami selamanya dan untuk mengakhiri segala penderitaan hidupnya di dunia ini... Perempuan itu ku panggil Mama yang disaat tubuhnya terbujur kaku dan dingin, kucium mamaku sambil berbisik: MAMAKU TERSAYANG, KASIH SAYANG MAMA KEPADAKU AKAN TETAP MENJADI BINTANG DI DALAM HATIKU YANG AKAN TETAP BERSINAR DAN SINAR KASIH SAYANG ITU AKAN TETAP KUPANCARKAN KEPADA SEMUA ADIK - ADIKU, SAUDARA - SAUDARAKU, DAN SEMUA ORANG YANG BERADA DI SEKITARKU AGAR MEREKA TAHU BAHWA MAMAKU ADALAH FIGUR YANG TERBAIK DAN YANG TELAH MENDIDIKKU MENJADI MANUSIA YANG BIJAKSANA... Perempuan itu ku panggil Mama yang selalu menyebut namaku di dalam setiap doanya Perempuan itu kupanggil Mama Yang kini menetap disurga bersama Sang Khalik yang mengasihinya... TERIMA KASIH MAMAKU TERCINTA, ATAS SEMUA KEHIDUPAN YANG INDAH, YANG TELAH KAU HADIRKAN SELAMA ENGKAU BERSAMAKU DI DUNIA INI........ LIWAT HEMBUSAN NAPASKU SERTA DOAKU, KU TITIPKAN CIUM YANG PALING MANIS UNTUK MAMA DI SURGA SANA....... (Untuk mengenang mamaku yang meninggal tanggal 5 Mei 2009 di Ambon) Anakmu Richard Sahetapy yang Kau panggil RIS

SENG ADA MAMA LAI

SU SENG ADA MAMA LAI PAR BIKING COLO - COLO SU SENG ADA MAMA LAI PAR TUANG PAPEDA DI SEMPE SU SENG ADA MAMA LAI PAR ATOR MAKAN DI MEJA MAKAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR CUCI BETA PUNG PAKIAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR DENGAR BETA PUNG SUSAH SU SENG ADA MAMA LAI PAR JAGA BETA WAKTU SAKIT MAMAE.... PAR APA LAI BETA PULANG KA RUMAH TUA KALO MAMA SU SENG ADA PAR LIA BETA PAR APALAI BETA DUDU DI MEJA MAKAN KALO MAMA PUNG TAMPA GARAM SU SENG ADA PAR SAPA LAI BETA MAU MANYANYI KALO MAMA SU SENG ADA PAR DENGAR... SIOOO MAMA E.... MAMA SU JAUH DARI BETA DENG BASUDARA MAMA SU TENANG DI TETEMANIS PUNG PANGKO TAPI MAMA PUNG PASANG DENG MAMA PUNG DOA TETAP JADI BINTANG YANG BERSINAR DI BETA PUNG HATI SELAMA HIDOP DI DUNIA. JUST FOR MY LOVE MAMA

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

Yesus Manis