1 Juni 2012

Apakah Yesus itu Allah?

Sumber :http://y-jesus.org/indonesian/wwrj/3-apakah-yesus-itu-allah/ YESUS KOMPLEKS: Pernahkanh Anda bertemu dengan seseorang yang punya magnet personal begitu besar, sehingga dia selalu jadi pusat perhatian? Mungkin karena kepribadiannya atau kepintarannya – tapi ada sesuatu dari dia yang mempesona. Itulah yang terjadi dua ribu tahun lalu terhadap Yesus Kristus. Keagungan Yesus sangat jelas bagi mereka yang melihat dan mendengar-Nya. Tapi, ketika hampir seluruh orang besar pelan-pelan hilang dalam buku-buku sejarah, Yesus dari Nazareth tetap jadi fokus kontroversi di banyak buku dan media. Dan sebagian besar kontroversi berada disekitar klaim radikal Yesus mengenai dirinya sendiri. Sebagai tukang kayu dari sebuah desa di Galilea di Israel, Yesus mengklaim djrinya, jika benar, memberikan implikasi besar terhadap hidup kita. Menurut Yesus, Anda dan saya istimewa, bagian dari rencana besar kosmis dan Dia adalah pusat dari semuanya. Klaim ini dan yang lain semacamnya mengagetkan mereka yang mendengarnya. Klaim tersebit membuat banyak orang marah saat itu, Yesuslah yang menyebabkan Dia dipandang sebagai pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Kendati Dia adalah orang luar yang tidak punya kredensial atau basis politik, dalam waktu tiga tahun, Yesus mengubah dunia selama dua puluh abad terakhir ini. Pemimpin moral dan agama lain meninggalkan dampak – tapi tidak seperti tukang kayu yang tidak dikenal dari Nazareth.

 Ada apa tentang Yesus Kristus yang membuatnya berbeda? Apakah dia hanya seorang besar atau sesuatu yang lebih? Pertanyaan-pertanyaan ini masuk ke inti siapa Yesus sebenarnya. Ada yang percaya dia hanyalah guru moral yang besar, yang lain percaya dia hanyalah pemimpin dari agama terbesar dunia. Namun banyak yang percaya lebih jauh lagi. Orang Kristen percaya Allah telah melawat kita dalam bentuk manusia. Dan mereka percaya ada bukti-bukti yang mendukungnya. Jadi, siapa sebenarnya Yesus? Mari kita lihat lebih dekat. Ketika kita melihat lebih dalam dari pribadi yang paling kontroversial di dunia, kita mulai bertanya apa mungkin Yesus hanyalah seorang guru moral yang besar? Guru Moral Yang Besar? Hampir semua ahli mengakui Yesus adalah guru moral yang besar. Pada kenyataannya, kedalaman-Nya dalam moralitas kemanusiaan adalah sebuah pencapaian yang juga diakui oleh agama-agama lain.[1] Dalam bukunya, Jesus of Nazareth, pakar Yahudi, Joseph Klausner menulis, “Secara universal diakui …. Kristus mengajarkan etika yang paling murni dan sempurna… yang melempar semua persepsi dan pepatah dari manusia paling bijak di zaman kuno jauh kedalam bayangan.”[2] Khotbah Yesus diatas bukit telah disebut sebagai pengajaran etika manusia paling unggul etika manusia yang pernah diutarakan oleh seorang individu. Pada kenyataannya yang sekarang kita kenali sebagai “persamaan hak” adalah hasil dari pengajaran Yesus. Sejarahwan Will Durant menyatakan jika Yesus hidup dan memperjuangkan persamaan hak di era modern Dia akan langsung dikirim ke Siberia. “Dia yang terbesar diantara kamu, adalah dia yang melayani kami” – ini telah membalikkan semua kebijaksanaan politik yang sudah wajar.[3] Sebagian orang mencoba memisahkan pengajaran etika Yesus dari klam-Nya tentang diri-Nya, dan percaya Dia hanyalah manusia biasa yang besar dan mengajarkan prinsip – prinsip moral luhur (mulia). Inilah pendekatan yang diambil dari salah satu bapa pendiri Amerika. Presiden Thomas Jefferson, seorang rasionalis duduk di Gedung Putih dengan dua copy identik Perjanjian Baru, sebuah silet dan kertas. Sepanjang beberapa malam, dia menggunting dan menempelkan kitab sucinya yang tipis dan disebutnya “Filsafat Yesus dari Nazareth”. Setelah memotong semua ayat/kalimat yang menyebutkan (menyiratkan) ke-Tuhan-an Yesus, Jefferson mempunyai Yesus yang tidak lebih dan tidak kurang daripada sebuah panduan etika yang baik.[4] Ironisnya, kata-kata Jefferson yang dikenang di Deklarasi Kemerdekaan berakar pada pengajaran Yesus bahwa setiap orang sangat berharga dan penting bagi Allah, terlepas dari jenis kelamin, ras, atau status sosial. Dokumen terkenal itu menambahkan, “Kami pegang teguh kebenaran yang telah membuktikan dirinya sendiri, bahwa semua manusia diciptakan setara, dan bahwa mereka diperlengkapi oleh Penciptanya dengan hak-hak asasi.” Tapi Jefferson tidak pernah bertanya, bagaimana Yesus bisa jadi pemimpin moralitas besar jika Dia berbohong tentang Dia adalah Allah? Jadi mungkin Dia tidak benar-benar bermoral, tapi motifnya adalah memulai sebuah agama besar. Mari kita lihat jika itulah penjelasan tentang kebesaran Yesus. Pemimpin Besar Agama? Apakah Yesus pantas disebut sebagai “pemimpin besar agama”? Kejutannya, Yesus tidak pernah mengklaim diri-Nya sebagai pemimpin agama. Dia tidak pernah masuk dalam perpolitikan agama atau didorong oleh agenda ambisius dan Dia melayani (berkotbah) diluar kerangka kelembagaan agama. Ketika membandingkan Yesus dengan pemimpin besar agama lain, perbedaan besar muncul. Ravi Zacharias yang besar dalam budaya Hindu, mempelajari agama-agama dunia dan mengamati perbedaan fundamental antara pendiri agama lain dengan Yesus Kristus. “Apapun yang kita buat terhadap klaim mereka, satu realitas tidak akan terlewatkan. Mereka adalah guru-guru yang menunjuk pengajaran atau memperlihatkan jalan tertentu. Dari semua muncul perintah-perintah dan cara hidup. Bukanlah Zoroaster yang jadi panutan; Zoroaster yang Anda dengarkan. Bukan Buddha yang membebaskan Anda; Kebebarannya yang Agung yang memerintahkan Anda. Bukan Muhammad yang mengubah Anda; keindahan Quran yang menarik Anda. Kontrasnya, Yesus tidak hanya mengajar atau menjelaskan pesan-pesanNya. Dia identik dengan pesan-Nya.”[5] Kebenaran Zacharias diperjelas dengan beberapa kali di Injil pesan pengajaran Yesus hanyalah. “Datang kepada-Ku” atau “Ikut Aku” atau “Patuhi Aku”. Juga, Yesus menegaskan bahwa misi utama-Nya adalah untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Tidak ada pemimpin agama besar yang pernah mengklaim berkuasa mengampuni dosa. Tapi bukan klaim itu saja yang memisahkan Yesus dari yang lain. Dalam The World’s Great Religions, Huston Smith mengamati, “Hanya dua orang yang sangat mengejutkan orang pada zamannya sehingga pertanyaan yang ditujukan kepadanya bukanlah “Siapa dia?” tapi ‘Dia itu apa’? Mereka adalah Yesus dan Buddha. Jawaban keduanya atas pertanyaan ini bertentangan. Buddha dengan tegas menyatakan dia hanyalah seorang manusia bukan Allah – seakan-akan dia bisa memperkirakan belakangan ada upaya untuk memujanya. Yesus, disisi lain, mengklaim…. Dia itu Tuhan.”[6] Apakah Yesus Mengklaim Dirinya Adalah Allah? Sudah jelas, sejak awal gereja, Yesus dipanggil Tuhan dan dipandang oleh orang Kristen sebagai Allah. Namun tetap saja ke-Tuhan-an Yesus terus jadi perdebatan besar. Jadi pertanyaan — dan memang pertanyaannya — adalah : Apakah Yesus mengklaim diri-Nya adalah Allah (Pencipta), atau semacam mahluk mulia yang diciptakan atau diasumsikan oleh para penulis Perjanjian Baru? (Lihat “Apa Yesus Mengklaim diri-Nya adalah Allah”) Beberapa ahli percaya Yesus adalah guru yang sangat berkuasa dan mempunyai kepribadian yang mendorong murid-muruid-Nya berasumsi Dia adalah Allah Atau mereka hanya ingin untuk berpikir Dia adalah Allah, John Dominic Crossan dan Seminar Yesus (kelompok pakar yang skeptis, yang memiliki prasangka menolak mujizat) adalah sebagian orang yang percaya Yesus didefinisikan salah. Kendati buku seperti “The Da Vinci Code” berpendapat ke-Tuhan-an Yesus adalah doktrin gereja saja, bukti-bukti memperlihatkan sebaliknya (Lihat “Apa ada Konspirasi Da Vinci?”). Sebagian besar orang Kristen yang menerima Injil menekankan Yesus memang mengklaim diri-Nya sebagai Tuhan (Allah). Dan kepercayaan ini bisa ditelusuri kebelakang sampai pada pengikut Yesus di awalnya. Tapi ada juga mereka yang menerima Yesus sebagai guru agung, tapi tidak bersedia menyebut-Nya sebagai Allah. Thomas Jefferson tidak mempersoalkan untuk menerima pengajaran Yesus atas moral dan etika tapi menolak ke-Tuhan-anNya.[7] Tapi seperti kami sudah katakan, dan akan dijelaskan kemudian, jika Yesus bukanlah seperti yang diklaim-Nya, maka kita harus mencari alternatif lain, yang tidak satupun akan membuat Dia jadi guru agung moral. Bahkan membaca sekilas Injil akan mengungkapkan bahwa Yesus mengklaim lebih dari nabi seperti Musa atau Daniel. Tapi sifat dasar klaim-klaim itu jadi perhatian kita. Dua pertanyaan perlu diperhatikan. Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah? Ketika Dia katakan “Allah”, apakah Yesus benar-benar memaksudkannya Dia adalah Pencipta alam semesta seperti yang disebut oleh Kitab Suci Yahudi?[8] Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, kita perlu mempertimbangkan kata-kata Yesus di Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Apa yang dimaksudkan dengan Yesus telah “diberikan” kuasa? Sebelum menjadi manusia, kita diberitahu bahwa Dia bersama-sama dengan Bapa, dan sebagai Allah, Dia punya semua kuasa. Namun Filipi 2:6-11 menceritakan kepada kita kendati Yesus telah ada dalam bentuk Allah, Dia “melepaskan” kekuasaan Allah untuk lahir jadi manusia. Namun bagian surat itu juga menyatakan kepada kita bahwa setelah kebangkitan, Yesus dipulihkan lagi dalam kemulian-Nya semula dan satu hari nanti “setiap lutut akan bertelut kepada-Nya dan menyebut Tuhan.” Jadi, apa yang dimaksud Yesus ketika Dia mengklaim memiliki seluruh kuasa di surga dan di bumi? Kekuasaan merupakan istilah yang dikenal baik di Israel, yang dijajah Romawi kala itu. Pada saat itu, Kaisar adalah kekuasaan tertinggi diseluruh Romawi. Keputusannya bisa langsung mengirim pasukan untuk berperang, menghukum penjahat, dan menetapkan hukum dan peraturan pemerintah. Pada kenyataannya, kekuasaan Kaisar begitu besar sehingga dia sendiri mengklaim dirinya sama dengan Tuhan. Jadi, paling kecil kemungkinannya apabila Yesus mengklaim punya otoritas sama dengan Kaisar. Tapi Dia tidak hanya mengatakan Dia punya kekuasaan lebih dari para pemimpin Yahudi atau penguasa Romawi; Yesus mengklaim memiliki otoritas (kuasa) tertinggi di alam semesta. Bagi mereka yang mendengar-Nya, itu berarti Dia adalah Allah. Bukan salah satu allah — tapi Allah. Baik perkataan dan tindakan menegaskan fakta bahwa mereka benar-benar percaya Yesus adalah Allah. (Lihat “Apakah Para Rasul Percaya Yesus adalah Allah?“) Apakah Yesus Mengklaim Sebagai Pencipta? Tapi mungkin Yesus hanya merefleksikan otoritas Allah dan tidak menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta. Sekilas dibaca kelihatannya tidak meyakinkan. Namun klaim Yesus memiliki seluruh kuasa akan masuk akal jika Dia adalah Pencipta alam semesta. Kata “seluruh” berarti segala sesuatu termasuk penciptaan itu sendiri. 

Ketika kita menggali lebih dalam kata-kata Yesus sendiri, sebuah pola mulai muncul. Yesus membuat penegasan tentang diri-Nya, tidak salah lagi merujuk pada ke-Tuhan-anNya. Inilah sebagian pernyatan yang dicatat oleh para saksi mata. “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25) “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12) “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30) “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” (Wahyu 22:13). “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6) “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6) “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9) Sekali lagi, kita harus kembali kepada konteks. Dalam Kitab Suci Yahudi, ketika Musa bertanya kepada Allah nama-Nya di depan semak yang berapi, Allah menjawab, “AKU”. Dia mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah satu-satunya Pencipta, abadi dan ada disemua tempat. Sejak zaman Musa, tidak ada satupun orang Yahudi yang berani menyebut dirinya atau orang lain dengan sebutan “AKU”. Karena itu, klaim Yesus sebagai “AKU” langsung membuat para pemimpin Yahudi sangat marah. Contohnya, beberapa pemimpin Yahudi menjelaskan kepada Yesus kenapa mereka mencoba membunuh-Nya, “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” (Yohanes 10:33). Tapi pada intinya bukan hanya kalimat-kalimat itu yang membuat para pemimpin agama marah. Pointnya adalah mereka tahu persis apa yang Dia katakan – Dia mengklaim diri-Nya sebagai Allah, Pencipta alam semesta. Hanya dengan klaim ini membawa pada tuduhan penghujatan. Membaca teks klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah sudah sangat jelas, bukan hanya oleh kalimat-Nya, tapi juga oleh reaksi mereka yang mendengarnya. Ide bahwa kita semua bagian dari Allah dan didalam kita ada bibit ke-Tuhan-an, tidaklah bisa diterapkan bagi kata-kata dan tindakan Yesus. Pemikiran semacam itu berasal dari kaum revisionis, asing bagi pengajaran-Nya, asing bagi keyakinan yang dikatakanNya, dan asing bagi para murid-Nya yang mengerti pengajaran-Nya. 

Yesus mengajarkan Dia adalah Allah seperti yang dipahami orang Yahudi tentang Allah dan sama dengan Kitab Suci Yahudi gambarkan atas Allah, bukan seperti gerakan Abad Baru pahami mengenai Allah. Yesus maupun para pendengarnya tidak pernah tahu tentang Star Wars, sehingga jika mereka berbicara tentang Allah, mereka tidak membicarakan kekuatan kosmis. Tapi jika Yesus bukan Allah, apakah kita bisa tetap menyebut-Nya sebagai guru agung moral? C. S. Lewis berargumen, ”Saya disini mencoba mencegah siapapun menyatakan hal bodoh yang sering dikatakan orang mengenai diri-Nya: ‘Saya siap menerima Yesus sebagai guru agung moral, tetapi saya tidak menerima klaimnya sebagai Allah.’ Hal ini tidak boleh dikatakan.”[9] Dalam pencarian akan kebenaran, Lewis tahu bahwa dia tidak bisa mengambil dua jalan itu berkaitan dengan identitas Yesus. Benar, klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah dalam daging atau klaim-Nya salah. Dan jika salah, Yesus bukanlah guru agung moral. Dia bisa dengan sengaja berbohong atau Dia hanyalah orang gila, yang menganggap diri-Nya Allah. Tentusaja ada orangorang yang menerima Yesus sebagaigurubesar, namun bersedia untuk memanggil Dia Allah. Sebagai Deis kita lihat bahwa Thomas Jefferson tidak punya masalah menerima ajaran Yesus tentang moral dan etika, sementara ia menyangkal keilahian-Nya. [10] Tapikita katakan, dan akanmengeksplorasi lebihlanjut, jika Yesus bukan siapa dia mengaku, makakita harus meneliti beberapa alternatif lain, tidak ada yangakan membuatnya seorang guru moral yangagung. Lewis, berpendapat, “Saya berusaha di sini untukmencegah orang darimengatakan halyang benarbenar bodoh bahwa orang seringberkata tentang Dia:”Saya siap menerima Yesus sebagai gurumoralyang agung, Burt saya tidak menerima klaimnya sebagaiAllah. ‘Itu adalah satu hal yang kita tidak harus mengatakan. “[11] Apakah Yesus Pembohong? Salah satu buku politik paling terkenal dan berpengaruh ditulis oleh Noccolo Machiavelli 1532. Dalam buku klasik, The Prince, Machiavelli menjelaskan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, sukses, dan efesiensi adalah melampaui kesetiaan, iman, dan kejujuran. Menurut Machiavelli, berbohong itu bagus jika untuk mencapai tujuan politik. Mungkinkah Yesus Kristus membangun seluruh pelayanan-Nya berdasarkan kebohongan untuk memperoleh kekuasaan, kemaahuran, atau keberhasilan? Faktanya, orang Yahudi, musuh Yesus, secara konstan berusaha memperlihatkan Dia sebagai pembohong dan penipu. Mereka akan menyerang Dia dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjebakNya dan membuat Dia berkontradiksi dengan diriNya sendiri. Namun Yesus selalu menjawab dengan konsistensi yang mengagumkan. Pertanyaan yang harus kita hadapi adalah, apa mungkin motivasi Yesus hidup seperti hidupNya adalah kebohongan? Dia mengajar Allah menentang kebohongan dan kemunafikan, jadi Dia tidak akan melakukan itu untuk menyenangkan Bapa-Nya. Dia pasti tidak berbohong demi keuntungan para pengikut-Nya. (seluruh murid kecuali satu orang mati terbunuh jadi martir.) Akhirnya kita tinggal punya dua kemungkinan penjelasan. Keuntungan Banyak orang berbohong untuk memperoleh keuntungan pribadi. Faktanya, kebanyakan bohong dimotivasi oleh keuntungan pribadi. Apa yang Yesus harapkan dari berbohong atas identitasNya? Kekuasaan jadi jawaban paling mudah diperoleh. Jika rakyat percaya Dia adalah Allah, Dia bisa punya kekuasaan luar biasa besar. (Itulah sebabnya banyak pemimpin zaman dulu, seperti Kaisar, mengklaim punya asal usul ilahi.) Jawaban atas penjelasan ini adalah Yesus menolak semua upaya untuk mendudukkan-Nya sebagai penguas la, lebih suka mengecam mereka yang menyalah-gunakan kekuasaan dan hidup untuk mengejar kekuasaan. Dia juga memilih untuk menjangkau orang yang terbuang (pelacur dan penderita lepra), mereka yang tidak punya kekuasaan, dan menciptakan jaringan dari orang-orang yang pengaruhnya kurang dari nol. Bisa digambarkan sebagai aneh, semua yang Yesus lakukan dan katakan bergerak menjauhi kekuasaan. Kelihatannya, jika kekuasaan jadi motivasi Yesus, Dia akan menghindari salib dengan segala cara. Namun, dalam beberapa kesempatan, Dia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa salib adalah tujuan dan misinya. Bagaimana kematian di salib Romawi bisa memberikan kekuasaan kepada orang itu? Kematian, tentu saja, membawa segalanya memasuki fokus yang tepat. Banyak orang martir mati karena perjuangan yang mereka percayai, tapi hanya sedikit orang mau mati untuk kebohongan yang sudah diketahui. Tentunya seluruh harapan Yesus untuk memperoleh keuntungan pribadi akan lenyap di kayu salib. Tapi, sampai pada napas terakhirnya, Dia tidak pernah mencabut klaim-Nya sebagai Anak Allah. Yesus menggunakan istilah “Anak Manusia” dan “Anak Allah” untuk mengidentifikasi sifat dasar sebagai manusia dan Allah. (Lihat “Apakah Yesus Mengklaim diriNya adalah Allah?”).[12] Warisan Jadi jika Yesus berbohong bukan untuk keuntungan pribadi, mungkin klaim radikalnya dipalsukan untuk meninggalkan sebuah warisan. Tapi prospek dipukuli hancur-hancuran dan dipaku di salib dengan cepat akan menyurutkan siapapun yang paling antusias, untuk jadi bintang super masa depan. Ada fakta lain yang sering timbul. Jika Yesus mencabut saja klaim sebagai Anak Allah, Dia tidak akan disalib (hukum). Karena klaim-Nya sebagai Allah dan ketidaksediaan untuk mencabutnya, yang membawanya ke salib. Jika meneliti reputasi kredibilitas dan historis mengenai apa yang memotivasi Yesus untuk berbohong, seseorang harus menjelaskan bagaimana seorang tukang kayu dari desa miskin Yudea bisa mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan mengangkat namanya jadi terkemuka di dunia. Bagaimana Dia tahu pesan-pesan-Nya akan bertahan (ada terus sampai sekarang)? Murid-murid Yesus sudah lari dan Petrus menyangkal Dia. Ini semua bukanlah sebuah formula untuk menanamkan warisan religius. Apakah para sejarahwan percaya Yesus berbohong? Para ahli telah menyidik kalimat-kalimat Yesus dan kehidupanNya untuk melihat apakah ada bukti kejanggalan pada karakter moral-Nya. Pada kenyataannya, bahkan yang paling skeptispun kaget oleh kemurnian moral dan etika Yesus. Salah satu skeptis dan antagonis, John Stuart Mill (1806 – 73) menulis mengenai Yesus, “Tentang kehidupan dan perkataan Yesus ada tanda orisinilitas personal dikombinasikan dengan kedalaman pengertian manusia jenius yang spesies kita bisa utarakan. Pada saat jenius terbesar (terhebat tak ada yang melebihi) dikombinasi dengan kualitas reformer moral terbesar dan martir untuk misi yang pernah hidup di bumi, agama tidak bisa dikatakan melakukan pilihan salah dalam memilih orang ini sebagai wakil ideal dan panduan bagi kemanusiaan.”[13] Menurut sejarahwan Philip Schaff, tidak ada bukti dalam sejarah gereja atau sekuler, yang mencatat Yesus berbohong atas apapun. Schaff berargumen, bagaimana, atas nama logika, masuk akal, dan pengalaman, seorang penipu, egois, telah menciptakan dan secara konsisten dari awal mulai sampai akhir, dikenal sebagai karakter paling mulia dan murni dalam sejarah dengan aroma kebenaran sempurna dan realitas?[14] Untuk tetap pada pilihan kebohongan, tampak seperti berenang melawan arus atas apa yang diajarkan dan dihidupi sampai matioleh Yesus. Bagi sebagian besar ahli, itu tidak masuk akal. Kendati begitu, untuk menolak klaim Yesus, seseorang harus mengajukan penjelasan. Dan jika klaim Yesus tidak benar dan Dia tidak berbohong, satu-satunya pilihan tersisa adalah Dia membohongi diri-Nya sendiri. Apa Yesus Gila? Albert Schweitzer, penerima Nobel Prize 1952 karena upaya-upaya kemanusiannya, punya pandangan sendiri tentang Yesus. Schweitzer menyimpulkan bahwa kegilaan ada dibelakang klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah. Dalam kata lain, Yesus salah atas klaim-Nya tapi tidak secara sengaja berbohong. Menurut teori ini, Yesus disesatkan sedemikian rupa hingga Dia percaya Dialah Mesias. C. S. Lewis mempertimbangkan pilihan ini dengan hati-hati. Lewis mendeduktif klaim Yesus – seakan-akan tidak benar. Dia mengatakan seseorang yang mengklaim sebagai Allah tidak mungkin jadi guru agung moralitas. Bahkan mereka yang paling skeptis terhadap kekristenan sangat jarang mempertanyakan kesadaran Yesus. Reformis sosial William Channing (1780–1842), mengaku bukan orang Kristen, melakukan pengamatan terhadap Yesus,”Tuduhan secara berlebihan, secara antusias membohongi-diri adalah yang paling akhir bisa dikatakan tentang Yesus.” Dimana kita bisa temukan jejak itu dalam sejarah? Apakah kita bisa mendeteksinya dalam pemikiran-Nya? persepsi-Nya? Meski kehidupannya dipenuhi oleh imoralitas dan skeptisme personal, filsuf terkemuka Perancis, Jean-Jacques Rousseau (1712 -78) mengakui superioritas karakter dan pemikiran Yesus. “Ketika Plato menggambarkan manusia kebenaran manussia, imajinasinya, dipenuhi oleh hukuman akan kesalahan, tetapi tetap berhak atas ganjaran keutamaan (kebijaksanaan) tertinggi. Dia dengan tepat menggambarkan karakter Kristus. … Pemikiran yang luar biasa. … Ya, jika kehidupan dan kematian Socrates adalah filsuf, kehidupan dan kematian Yesus Kristus adalah Allah.”[15] Schaff melontarkan pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri, ” Apa ada kepintaran pada tingkat itu — sepenuhnya sehat dan bersemangat, selalu siap dan selalu percaya diri — menyerahkan diri secara radikal dan sangat serius kepada khayalan berkaitan dengan karakter dan misinya sendiri?”[16] Jadi, apakah Yesus seorang pembohong, gila, atau Dia adalah Anak Allah? Dapatkah Jefferson benar ketika menjuluki Yesus “hanya guru moral yang bagus” dan pada saat yang sama menolak ke-Tuhan-anNya? Menariknya, para pendengar Yesus — mereka yang percaya dan musuh-musuhNya — tidak pernah memandang Dia hanya sebagai guru moral. Yesus menghasilkan tiga dampak utama bagi orang yang bertemu denganNya: kebencian, ketakutan, atau penyembahan (pemujaan). Dan sekarang, dua ribu tahun kemudian, Yesus masih tetap pribadi yang membelah dunia kita. Bukan moral, etika, atau warisanNya yang membakar gairah. Pesan yang dibawa Yesus kepada dunia adalah Allah menciptakan kita dengan tujuan dan tujuan itu ada pada Anak-Nya.

 Klaim Yesus Kristus memaksa kita untuk memilih. Seperti dikatakan Lewis, kita tidak bisa mengkategorikan Yesus hanya sebagai pemimpin besar agama atau guru moral yang baik. Mantan pengajar Oxford dan skeptis menantang kita mengambil keputusan sendiri mengenai Yesus, “Anda harus mengambil keputusan sendiri. Apa orang ini adalah Anak Allah atau orang gila atau yang lebih buruk lagi. Anda bisa menyebut-Nya bodoh, anda meludahi-Nya dan membunuh-Nya sebagai setan atau Anda bisa jatuh didepan kaki-Nya dan memanggil-Nya Tuhan dan Allah. Tetapi kita tidak bisa menyatakan hal yang tidak masuk akal dengan menyebutnya sebagai guru yang agung dan manusia. Dia tidak menyediakan (pandangan itu) terbuka untuk kita. Dia tidak menghendakinya.”[17] Dalam tulisan “Kekristenan Biasa”, Lewis menjelaskan kenapa dia menyimpulkan Yesus Kristus persis sama dengan klaimNya. Dia secara hati-hati meneliti kehidupan dan perkataan Yesus. Hal ini membawa penulis jenius ini membuang ateismenya dan jadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian? Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia Allah dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya? (Lihat “Apakah Para Rasul Percaay Yesus adalah Allah?”) Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai Allah, diri-Nya, dan kita. Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan? Apakah Yesus masih relevan sekarang? KENAPA YESUS ? Banyak orang berpandangan Kristus menghendaki kita menjadi orang yang religius. Mereka berpikir Yesus datang untuk mengambil semua kesenangan hidup dan memberi kita aturan-aturan yang tidak mungkin dijalankan. Mereka bersedia menyebut Dia pemimpin besar dari masa lalu, tapi mengatakan Dia tidak relevan dengan kehidupan masa kini. Josh McDowell adalah mahasiswa yang diajarkan bahwa Yesus cuma salah satu pemimpin religius yang menetapkan aturan hidup yang tidak mungkin dijalankan. Jadi untuk McDowell, Yesus sama sekali tidak relevan dalam hidupnya. Kemudian sampai suatu hari, pada saat makan siang, seorang mahasiswi duduk di sebelah Mc Dowell dengan senyuman lebar. Merasa tertarik, dia bertanya kenapa mahasiswi tu begitu bahagia. Jawaban langsungnya adalah, “Yesus Kristus!” “Yesus Kristus? “, pikir McDowell, yang berbalik mengatakan: “Oh, demi Tuhan, jangan beri saya sampah itu! Saya muak dengan agama; saya muak dengan gereja; saya muak dengan Alkitab! Jangan beri saya sampah tentang agama!” Tapi tanpa terganggu rekan mahasiswi itu dengan tenang menjelaskan, “Tuan, saya tidak katakan agama, saya katakan Yesus Kristus.” McDowell terkejut. Dia tidak pernah memandang Yesus lebih dari sekedar tokoh agama, dan tidak ingin menjadi bagian dari kemunafikan religius. Namun perempuan Kristen yang gembira ini berbicara tentang Yesus sebagai seseorang yang membawa arti kehidupan kepadanya. Kristus mengklaim akan menjawab semua pertanyaan mendalam mengenai eksistensi kita. Pada satu saat, kita semua akan mempertanyakan apa arti kehidupan itu. Apakah Anda pernah melihat ke langit yang gelap gulita dan merenungkan siapa yang menaruh bintang-bintang itu di sana? Atau apakah Anda pernah melihat matahari terbenam dan berpikir tentang pertanyaan terbesar dalam hidup: “Siapa saya?” “Kenapa saya ada di sini?” “Kemana saya pergi setelah meninggal?” Meski para filsuf dan pemimpin agama lain menawarkan jawaban tentang arti kehidupan, hanya Yesus Kristus yang sudah membuktikan kredensial-Nya (apa yang dikatakanNya) dengan bangkit dari kematian. Skeptis seperti McDowell, yang pada awalnya mengejek kebangkitan Yesus, telah menemukan banyak bukti yang menyatakan, bahwa hal itu benar-benar terjadi. Yesus menawarkan hidup dalam arti yang sebenarnya. Dia mengatakan hidup lebih besar dari mengumpulkan harta, bersenang-senang, sukses dan berakhir di kuburan. Kendati begitu, masih banyak orang mencoba menemukan arti kehidupan dalam ketenaran dan kesuksesan, bahkan juga bintang-bintang terbesar… Madonna mencoba menjawab pertanyaan, “Kenapa saya di sini?” dengan menjadi seorang penyanyi terkenal (diva). Ia mengakui, “Bertahun-tahun lalu saya pernah berpikir bahwa ketenaran, kekayaan dan penerimaan publik akan memberikan kebahagiaan. Tapi suatu hari kamu akan bangun dan menyadari bukan itu. Saya masih merasa kurang. Saya ingin tahu arti kebenaran dan kebahagiaan sejati serta bagaimana saya menemukannya.”[1] Yang lain, Kurt Cobain sudah menyerah untuk menemukan arti kehidupan itu, Kurt Cobain seorang vokalis Nirvana, grup band grunge asal Seattle, merasa putus asa pada usia 27 tahun dan bunuh diri. Kartunis era Jazz, Ralp Barton, juga menemukan hidup tanpa arti dan meninggalkan pesan bunuh dirinya, “Saya punya beberapa kesukaran, banyak teman, sukses hebat; saya sudah berpindah dari satu istri ke istri yang lain, dari rumah ke rumah, mengunjungi negara-negara di dunia, tapi saya muak dengan upaya menemukan allah-allah untuk mengisi 24 jam sehari.”[2] Pascal, filsuf besar Perancis percaya kekosongan hati yang kita semua alami hanya bisa diisi oleh Allah. Dia mengatakan, “Allah membentuk ruang kosong di hati setiap orang yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus”[3] Jika Pascal benar, maka kita akan berharap bahwa Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan tentang identitas kita dan arti kehidupan, tapi juga memberi kita harapan akan kehidupan setelah kematian. Apakah ada arti kehidupan tanpa Allah? Tidak menurut ateis Bertrand Russell, yang menulis, “Sampai Anda berasumsi adanya allah, pertanyaan tujuan hidup itu tidak ada artinya.”[4] Dalam bukunya, Why I am not a Christian (Kenapa saya bukan orang Kristen), Russell membantah semua yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan, termasuk janjiNya akan kehidupan kekal. Tapi jika Yesus benar-benar mengalahkan kematian seperti klaim para saksi mata, (Lihat “Did Jesus Rise from the Dead?”) maka Dia sendiri yang akan memberitahu kami semua tentang hidup dan menjawab, “Kemana saya pergi?” Memahami kata-kata Yesus mengenai kehidupan dan kematian dapat membentuk identitas kita, memberi kita makna dalam hidup dan memberikan harapan untuk masa depan. Oleh karena itu kita perlu memahami apa yang dikatakan tentang Tuhan, tentang kami dan tentang diriNya sendiri. Apa yang Yesus katakan tentang Allah? Allah Itu Relasional Banyak orang berpendapa,t Allah hanya sebagai sebuah kekuatan, bukan satu pribadi, yang bisa kita kenal dan bergaul denganNya. Allah yang disebutkan Yesus bukanlah kekuatan impersonal di Star Wars, yang kebaikannya bisa diukur dalam voltase. Dia juga bukan sosok besar menakutkan di angkasa, yang senang membuat hidup kita sengsara. Sebaliknya, Allah itu relasional seperti kita, tapi lebih dalam lagi. Dia berpikir, Dia mendengar, dan Dia berkomunikasi dalam bahasa yang kita pahami. Yesus menjelaskan kepada kita dan memperlihatkan Allah itu seperti apa. Menurut Yesus, Allah tahu setiap kita dengan sangat baik dan personal, dan terus memikirkan kita. Allah Itu Kasih Dan Yesus mengatakan kepada kita, Allah itu kasih. Yesus mendemonstrasikan kasih Allah kemanapun Dia pergi, seperti ketika Dia menyembuhkan orang sakit, serta menolong yang disakiti dan miskin. Kasih Allah sangat berbeda secara radikal dengan (kasih) kita, karena tidak berdasarkan ketertarikan atau penampilan. Kasih (Allah) itu secara total mengorbankan diri dan tidak mementingkan diri. Yesus membandingkan kasih Allah dengan kasih bapa/ayah yang sempurna. Ayah yang baik menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya, berkorban untuk mereka, dan memberikan kebutuhan mereka. Tapi untuk kepentingan terbaik mereka, dia juga mendisiplinkan mereka. Yesus mengilustrasikan hati kasih Allah dengan cerita tentang seorang anak, yang memberontak dan menolak nasehat ayahnya mengenai yang terpenting dalam kehidupan. Kesombongan dan keinginan diri membuat, anak itu berhenti bekerja dan “hidup semaunya”. Daripada menunggu sampai ayahnya membagi warisan, dia mulai memaksa ayahnya untuk memberikan warisan itu kepadanya. Dalam cerita Yesus, ayahnya memberi permintaan anaknya. Tapi keadaan buruk menimpa anaknya. Setelah menghabiskan uang untuk bersenang-senang, anak pemberontak itu terpaksa bekerja di peternakan babi. Ketika dia begitu lapar makanan babi pun terlihat enak (diceritakan dia memakan makanan babi). Putus asa dan tidak yakin ayahnya akan menerimanya kembali, dia membereskan tasnya dan pulang ke rumah. Yesus menceritakaan kepada kita bukan saja sang ayah menyambutnya, tapi dia lari memeluknya. Dan kemudian secara radikal total dalam kasihnya, sang ayah menyelenggarakan pesta besar untuk merayakan kembalinya si anak. Ini sangat menarik. Kendati ayahnya sangat mengasihi putranya, dia tidak mengejarnya. Dia membiarkan sang anak yang dikasihinya, merasakan kesakitan dan penderitaan karena konsekuensi pilihan pemberontakannya. Dengan cara yang sama, ayat-ayat Alkitab mengajarkan kasih Allah tidak pernah mengkompromikan tentang apa yang terbaik untuk kita. Kasih itu akan membiarkan kita menderita atas pilihan-pilihan salah kita. Yesus juga mengajarkan Allah tidak akan pernah mengkompromikan karakterNya. Karakter adalah siapa kita adanya. Itu adalah esensi kita, dimana pikiran-pikiran dan tindakan kita berasal. Jadi seperti apa Allah — esensinya? Allah Itu Suci Disepanjang Alkitab (hampir 600 kali), Allah disebut sebagai “suci”. Suci artinya karakter Allah secara moral murni dan sempurna dalam semua jalanNya. Sempurna. Ini berarti Dia tidak pernah mempunyai pikiran tidak murni atau inkonsisten dengan kesempurnaan eksistensi moralNya. Karena itu, kesucian Allah berarti Dia tidak bisa hadir jika ada kejahatan. Karena kejahatan bertentangan dengan keberadaan Allah, Dia membencinya. Itu seperti polusi bagiNya. Tapi jika Allah itu Suci dan menolak kejahatan, kenapa Dia tidak membuat karakter kita seperti Dia? Kenapa ada yang melecehkan anak-anak, pembunuh, pemerkosa, dan penyesat? Dan kenapa kita terus berjuang dengan pilihan-pilihan moral kita sendiri? Hal ini membawa kita lebih lanjut pada pencarian kita akan arti (kehidupan). Apa yang Yesus katakan mengenai diri kita? Apa yang Yesus katakan tentang Allah? Diciptakan Untuk Berhubungan Dengan Allah Jika Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, Anda akan menemukan bahwa Yesus terus-menerus berbicara tentang nilai yang tinggi (berharga) diri kita bagi Allah, mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk jadi anakNya. Bintang rock band Irlandia, U2, Bono menegaskan dalam sebuah wawancara,” Konsep mengejutkan bahwa Allah pencipta alam semesta mungkin mencari teman dan hubungan sungguh-sungguh dengan manusia….”[5] Dengan kata lain, sebelum alam semesta diciptakan, Allah berencana untuk mengadopsi kita menjadi keluargaNya. Tidak hanya itu, tapi Dia merencanakan warisan luar biasa bagi kita. Seperti ayah pada inti cerita Yesus, Allah ingin melimpahkan kita sebuah warisan berkat, yang tidak terbayangkan, dan hak istimewa. Di mata-Nya, kita spesial (khusus). Kebebasan Memilih Dalam sebuah film, Stepford Wives, dalam kondisi lemah dan terbaring, orang serakah dan pembunuh ini telah menciptakan robot-robot penurut dan patuh untuk menggantikan istri-istri mereka yang bebas, dan mereka nilai sebagai ancaman. Kendati laki-laki diharapkan mencintai istri-istri mereka, mereka menggantikannya dengan mainan untuk memaksakan kepatuhan. Allah bisa membuat kita seperti itu – manusia robot (iPeople) – diprogram untuk mengasihi dan mematuhi Dia, program puji-pujian dimasukkan kepada kita seperti “screensaver”. Tapi akibatnya, kasih terpaksa itu tidak ada artinya. Allah ingin kita mengasihi Dia dengan bebas. Dalam hubungan sebenarnya, kita ingin seseorang mencintai kita apa adanya, bukan karena paksaan. Andaikan ada seorang raja yang mencintai pelayan sederhananya. Raja itu tidak seperti raja-raja lain. Semua pejabat negara gemetar dihadapan kuasanya ….. dan tetap saja raja, yang sangat kuat ini, meleleh karena cinta terhadap pelayan sederhana itu. Bagaimana dia menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Dalam cara yang tidak biasa, dia terikat oleh “wibawa raja”. Jika dia membawanya ke istana dan memahkotai dia dengan permata … dia pasti tidak akan menolak – tidak seorangpun berani menolak dia. Tapi apakakh pelayan itu mencintainya? Tentu saja dia akan mengatakan dia mencintainya, tapi apakah sungguh-sungguh?[6] Anda lihat masalahnya. Ini masalah yang lebih sederhana: bagaimana Anda putus dengan pacar yang sudah tahu segalanya? (“Ini tidak berhasil buat kita, tapi saya rasa kamu sudah tahu.”) Namun untuk memungkinkan saling mencintai, Allah menciptakan manusia dengan kapasitas unik: kehendak bebas. Pemberontakan Melawan Hukum Moral Allah C.S. Lewis menjelaskan meski kit secara internal diprogram dengan keinginan untuk mengetahui Allah, kita memberontak atas itu sejak saat kita lahir.[7] Lewis juga memulai penelitiannya dengan motifnya sendiri, dimana dia menemukan bahwa secara insting dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Lewis heran darimana berasal perasaan salah dan benar ini. Kita semua mengalami rasa salah dan benar. Ketika kita membaca Hitler membunuh enam juta orang Yahudi, atau seorang pahlawan mengorbankan nyawanya untuk orang lain. Kita, secara insting, tahu bahwa salah untuk berbohong dan curang. Rasa pengakuan inilah, telah diprogram dalam hati kita dengan hukum moral, yang membuat seorang mantan ateis mencapai kesimpulan pasti ada “pemberi hukum” moral. Sebenarnya, menurut Yesus dan Alkitab, Allah telah memberi kita hukum moral untuk dipatuhi.. Dan bukan hanya menolak berhubungan dengan Allah, kita juga telah melanggar hukum-hukum moral yang telah ditetapkan Allah. Sebagian besar dari kita mengetahui Sepuluh Perintah Allah: “Jangan berbohong, mencuri, membunuh, berzinah, dan seterusnya.” Yesus menyimpulkannya dengan mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan seluruh jiwa kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri. Dosa, karena itu, tidak hanya melakukan kesalahan ketika kita melanggar hukum, tapi juga kegagalan kita melakukan apa yang benar. Allah membuat alam semesta dengan hukum-hukum yang mengatur segalanya. Hukum-hukum ini tidak bisa dihindarkan dan tidak berubah. Ketika Einstein menemukan formula E=MC2. dia membuka misteri energi nuklir. Campur bahan-bahan yang tepat dengan kondisi tertentu dan tenaga sangat besar akan terlepaskan. Alkitab mengatakan kepada kita hukum moral Allah tidak berubah karena keluar dari esensi karakter-Nya. Sejak laki-laki dan perempuan pertama, kita telah melanggar hukum-hukum Allah, kendati hukum ada demi kebaikan kita. Dan kita telah gagal melakukan apa yang benar. Kita mendapat warisan kondisi ini dari manusia pertama, Adam. Alkitab menyebut ini sebagai ketidakpatuhan, dosa, yang berarti “tidak kena sasaran”, seperti seorang pemanah yang gagal mengenai sasarannya. Jadi dosa kita telah mematahkan hubungan yang sudah dikehendaki Allah dengan kita. Memakai ilustrasi pemanah sebagai contoh, kita telah gagal mengenai sasaran yang sebenarnya merupakan tujuan penciptaan kita. Dosa menyebabkan pemutusan semua hubungan: manusia dengan lingkungannya (keterasingan), individu-individu saling terpecah (rasa salah dan malu), masyrakat terputus hubungan dari masyarakat lain (perang, pembunuhan), dan manusia terputus dari Allah (kematian spiritual). Seperti mata rantai, sekali satu mata rantai putus antara Allah dengan manusia, seluruh hubungan jadi tidak menyambung lagi. Dan kita sudah putus. Seperti disimpulkan Kayne West, “saya tidak berpikir bahwa saya tidak bisa melakukan apapun untuk membenarkan kesalahan saya….. saya ingin berbicara dengan Allah. Tapi saya takut karena kita sudah lama tidak saling berbicara.” Pernyataan ini diambil dari lirik lagu West yang berbicara mengenai perpisahan yang dibawa oleh dosa dalam kehidupan kita. Dan menurut Alkitab, perpisahan ini lebih dari sekedar lirik di sebuah lagi rap. Itu punya konsekuensi mematikan. Dosa Kita Telah Memisahkan Kita Dari Kasih Allah Pemberontakan kita (dosa) telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Allah (lihat Yesaya 59:2). Dalam ayat Alkitab, “perpisahan” berarti kematian spiritual. Dan kematian spiritual berarti terpisah sepenuhnya dari cahaya dan kehidupan Allah. “Tapi tunggu dulu,” mungkin ini yang Anda katakan. “Bukankah Allah tahu semua sebelum Dia menciptakan kita? Kenapa Dia tidak melihat bahwa rencanaNya sudah gagal total?” Tentu saja, Allah maha tahu akan menyadari bahwa kita akan memberontak dan berdosa. Kenyatannya, kegagalan kita membuat rencanaNya jadi sangat mengejutkan. Hal ini membawa kita pada alasan Allah datang ke bumi dalam bentuk manusia. Dan bahkan lebih menakjubkan —- alasan yang harus dicatat karena kematiannya. Apa yang Yesus katakan tentang Allah? Solusi Sempurna Allah Selama tiga tahun kehidupan pelayanan-Nya, Yesus mengajarkan kita bagaimana untuk hidup dan melakukan banyak mukjizat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Tapi Dia menyatakan misi utamanya adalah menyelamatkan kita dari dosa kita. Yesus memproklamirkan Dia adalah Mesias yang sudah dijanjikan dan akan mengangkat beban kesalahan kita. Nabi Yesaya telah menulis mengenai Mesias 700 tahun sebelumnya dan memberi kita beberapa tanda atas identitasnya. Namun tanda yang paling sukar dipahami adalah. Mesias adalah manusia sekaligus Allah!. ” Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, …. dan namanya disebut orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” (Yesaya 9:5) Penulis Ray Stedman menuliskan janji Allah atas Mesias,”Sejak permulaan Perjanjian Lama, ada pengharapan yang digambarkan seperti suara langkah kaki yang mendekat: seseorang datang!…. Harapan itu meningkat sepanjang catatan nabi ke nabi yang memproklamirkan tanda-tanda menjanjikan: ada yang datang!”[8] Para nabi telah menyatakan Mesias akan jadi korban dosa sempurna bagi Allah, untuk memuaskan keadilan-Nya. Manusia sempurna ini akan memenuhi kualifikasi untuk mati bagi kita. (Yesaya 53:6) Menurut para penulis Perjanjian Baru, satu-satunya alasan Yesus pantas mati untuk kita adalah karena sebagai Allah, Dia menjalani hidup sempurna secara moral dan tidak berdosa. Sukar untuk mengerti bagaimana kematian Yesus itu menebus dosa-dosa kita. Mungkin analogi yudisial akan memperjelas bagaimana Yesus menyelesaikan dilema, Allah, yang sempurna kasih-Nya dan keadilan-Nya. Bayangkan Anda memasuki ruang sidang, bersalah karena pembunuhan (Anda punya isu serius disini) Ketika Anda mendekati meja, Anda menyadari bahwa hakim itu ayah Anda. Karena tahu dia mengasihi Anda, Anda langsung mulai memohon,”Pak, bebaskan saya!” Dia menjawab,”Aku mengasihimu, nak, tapi saya hakim. Saya tidak bisa membebaskanmu begitu saja.” Akhirnya, dia mengetuk palu dan menyatakan Anda bersalah. Keadilan tidak bisa dikompromikan, paling tidak oleh seorang hakim. Tapi karena dia mengasihi Anda, dia turun dari kursi, membuka jubahnya, dan menawarkan diri untuk membayar denda untuk Anda. Pada kenyataannya, dia menggantikan Anda di kursi listrik. Inilah gambar yang dilukis di Perjanjian Baru. Allah turun memasuki sejarah manusia, dalam bentuk manusia Yesus Kristus dan duduk di kursi listrik (baca: salib) menggantikan kita, untuk kita. Yesus bukanlah pihak ketiga kambing hitam, mengambil dosa kita, tapi Dia adalah Allah sendiri. Lebih jelas lagi, Allah punya dua pilihan: menghakimi dosa kita atau mengambil alih hukuman itu kepada diri-Nya sendiri. Dalam Kristus, Dia memilih yang terakhir. Meski Bono U2 tidak berkehendak jadi teolog, dia secara akurat mengatakan alasan kematian Yesus, “Maksud kematian Kristus adalah Kristus mengambil dosa-dosa dunia, sehingga apa yang kita lakukan tidak kembali lagi kepada kita, dan sifat dosa kita tidak menghasilkan kematian. Inilah alasan utamanya. Hal ini seharusnya membuat kita rendah hati. Bukan perbuatan baik yang membuat kita bisa melewati gerbang surga”[9] Dan Yesus menegaskan hanya Dia satu-satunya, yang bisa membawa kita kepada Allah. Dikatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorangpun bisa datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes14:6) Tapi banyak yang berargumentasi klaim Yesus bahwa Dia adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu terlalu sempit. Disebutkan ada banyak jalan menuju Allah. Mereka yang percaya bahwa semua agama sama, menolak bahwa kita punya masalah dosa. Mereka tidak menerima perkataan Yesus dengan serius. Mereka mengatakan kasih Allah akan menerima kita semua, apapun yang sudah kita buat. Mungkin Hitler pantas diadili, menurut pandangan mereka, tapi bukan mereka atau yang lain yang “hidup layak”. Ini sama saja mengatakan Allah memberikan nilai, dan semua yang dapat D- atau lebih baik akan masuk (surga). Tapi ini menelurkan dilema. Seperti sudah kita lihat, dosa bertentangan dengan karakter suci Allah. Jadi kita telah menghina (menyinggung) Pencipta kita, yang telah mengasihi kita sampai mengorbankan Anak-Nya bagi kita. Pemberontakan kita sama seperti meludahi muka-Nya.Kebaikan, agama, meditasi, atau karma tibak bisa membayar hutang dosa kita yang telah terjadi. Menurut teolog R. C. Sproul, hanya Yesus sendiri satu-satunya yang mampu membayar hutang itu. Dia menulis, “Musa jadi perantara hukum; Muhammad bisa mengangkat pedang; Buddha bisa memberikan konsultasi personal; Konfusius menawarkan kalimat-kalimat kebajikan; tapi tidak satupun orang ini punya kualifikasi untuk jadi penebus dosa dunia. Hanya Kristus satu-satunya yang pantas mendapat pujian dan pelayanan tidak terbatas.”[10] Pemberian Yang Tidak Semestinya Istilah Alkitab untuk menggambarkan pengampunan gratis Allah melalui pengorbanan kematian Yesus adalah anugerah. Diampuni dan menyelamatkan kita dari apa yang seharusnya kita terima, anugerah dari Allah, memberi kita apa yang seharusnya tidak pantas kita terima. Mari kita tinjau sebentar apa yang Kristus telah lakukan terhadap kita yang tidak bisa kita sendiri lakukan: Allah mengasihi kita dan menciptakan kita untuk berhubungan denganNya.[11] Kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak hubungan itu.[12] Dosa dan pemberontakan kita terhadap Allah dan hukum-Nya telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Dia.[13] Meski kita pantas dihukum selama-lamanya, Allah telah membayar lunas hutang kita dengan kematian Yesus yang menggantikan kita. Hal ini memungkinkan kita hidup selama-lamanya bersama Dia.[14] Bono memberi kita perspektifnya atas anugerah. “Anugerah melampaui akal dan logika. Kasih menginterupsi, jika Anda suka istilah ini, konsekuensi tindakan Anda, Dalam kasus saya ini benar-benar berita baik, karena saya melakukan banyak hal-hal bodoh… Saya akan mendapat masalah besar jika karma pada akhirnya jadi hakim saya…. itu tidak memaafkan kesalahan-kesalahan saya, tapi saya berpegang pada anugerah. Saya memegang (janji) bahwa Yesus menanggung dosa saya di Kayu Salib, karena saya tahu siapa saya, dan saya berharap saya tidak harus bergantung pada ke-religius-an saya sendiri.”[15] Sekarang kita punya gambaran rencana Allah selama ini. Tapi masih ada satu hal yang belum lengkap. Menurut Yesus dan para penulis Perjanjian Baru, setiap dari kita, secara individu, harus menjawab pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Yesus kepada kita. Dia tidak akan memaksa kita menerimanya. Anda Sendiri Memilih Akhirnya Kita terus membuat pilihan-pilihan …… apa yang akan dipakai, apa yang akan dimakan, karir, pasangan perkawinan, dan seterusnya. Hal yang sama juga terjadi pada hubungan dengan Allah. Penulis Ravi Zacharias menulis, “Pesan Yesus mengungkap bahwa setiap orang yang datang untuk mencari Allah bukan karena kebajikan kelahiran, tetapi oleh kesadaran pilihan untuk mempersilahkan Dia masuk dan hukum-hukum-Nya mengatur hidupnya.”[16] Pilihan-pilihan kita sering dipengaruhi orang lain. Namun dalam beberapa hal, kita diberi nasihat yang salah. Pada 11 September 2001, enam ratus orang tak bersalah pecaya pada nasihat yang salah, dan menderita konsekuensinya. Kisah nyatanya seperti ini. Seseorang yang sedang ada di lantai 92 tower selatan World Trade Center, baru saja mendengar sebuah jet menabrak tower utara. Kaget karena ledakan, dia menelepon polisi dan meminta instruksi apa yang harus diperbuat. “Kita perlu tahu apakah kita harus keluar dari sini, karena kita tahu ada ledakan,” tanyanya di saluran darurat. Suara di ujung lainnya menasihati dia untuk tidak keluar gedung. “Saya akan menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya.” “Baiklah, ” sang penelepon menjawab. “Jangan keluar gedung.” Kemudian dia menutup telepon itu. Beberapa saat setelah pukul 09.00, sebuah jet lain menabrak lantai 80 di tower selatan. Hampir enam ratus orang di lantai atas tower selatan meninggal. Kegagalan evakuasi dari gedung merupakan salah satu tragedi terbesar hari itu.[17] Ke 600 orang tewas karena mereka menggantungkan diri pada informasi yang salah, walaupun diberikan oleh orang yang mencoba menolong. Tragedi tidak akan terjadi jika ke 600 korban diberi informasi yang benar. Kesadaran pilihan kita terhadap Yesus sangatlah jauh lebih penting daripada menghadapi korban-korban 9/11 yang salah informasi. Taruhannya keabadian. Kita bisa memilih satu dari tiga respon berbeda. Kita bisa tidak memperdulikan Dia kita bisa menolak Dia atau, kita bisa menerima Dia. Alasan kenapa banyak orang hidup dengan tidak mempedulikan Allah adalah mereka terlalu sibuk mendesakkan agendanya sendiri. Chuck Colson seperti itu. Pada usia 39 tahun, Colson menempati kantor disebelah kantor presiden Amerika Serikat. Dia adalah “orang tangguh” Gedung Putih era Nixon, “pembunuh bayaran” yang akan mengambil keputusan-keputusan sulit. Pada tahun 1972, skandal Watergate menghancurkan reputasinya dan dunianya terpecah-belah. Setelah itu dia menulis: “Saya hanya memikirkan diri sendiri. Saya melakukan ini dan itu, saya mencapai tujuan, saya sukses dan saya tidak memberi Allah kehormatan (atas semua keberhasilan itu), tidak pernah berterima kasih kepada-Nya atas pemberian Dia kepada saya. Saya tidak pernah berpikir ada pribadi “tak terhitung superioritasnya” dibandingkan saya, atau jika penah berpikir tentang ke-maha kuasa-an Allah, saya tidak menghubungkannya dengan kehidupan saya.”[18] Banyak orang sama dengan Colson. Sudah terperangkap dalam kecepatan kehidupan dan hanya punya sedikit atau tidak ada waktu untuk Allah. Kendati begitu, tidak mempedulikan tawaran anugerah Allah akan pengampunan punya konsekuensi mengerikan. Hutang dosa kita tetap tidak terbayar. Dalam kasus-kasus kriminal, hanya sedikit sekali yang memperoleh pengampunan penuh (pembebasan). George Burdick, 1915, editor kota New York Tribune, melakukan pelanggaran hukum. President Woodrow Wilson mengumumkan pengampunan penuh terhadap Burdick atas semua kesalahan “diperbuat atau mungkin diperbuatnya”. Yang membuat kasus Burdick bersejarah adalah dia menolak pengampunan itu. Keputusannya membuat kasusnya masuk ke Makamah Agung, yang akhirnya mendukung dan Burdick, menyatakan pengampunan presiden tidak bisa dipaksakan kepada siapapun. Ketika menolak pengampunan penuh Kristus, orang-orang memberi berbagai alasan. Banyak yang mengatakan kurang bukti, Bertrand Russell dan skeptis lain tidak cukup tertarik untuk sungguh-sungguh melakukan investigasi. Yang lainnya menolak melihat lebih jauh karena beberapa orang Kristen munafik yang mereka kenal. Merekamenunjuk orang-orang tersebut menampilkan perilaku tidak berbelas kasihan. Selebihnya menyebutkan inkonsisten sebagai alasan. Dan lainnya masih tetap menolak Kristus karena mereka menyalahkan Allah atas pengalaman sedih atau tragis yang mereka derita. Namun, Zacharias, yang berdebat dengan banyak intelektual di ratusan universitas, percaya, bahwa alasan utama kebanyakan orang menolak Allah adalah moral. Dia menulis: “Seseorang menolak Allah bukan karena tuntutan intelektual, juga bukan karena kelangkaan bukti. Seseorang menolak Allah karena perlawanan moral menolak mengakui kebutuhannya akan Allah.[19] Keinginan kebebasan moral telah menjauhkan C.S. Lewis dari Allah disebagian besar masa kemahasiswaannya. Setelah pencarian akan kebenaran membawanya kepada Allah, Lewis menjelaskan bagaimana menerima Kristus melibatkan lebih dari persetujuan intelektual atas fakta-fakta. Dia menulis: “Orang yang jatuh bukanlah hanya karena mahluk tidak sempurna yang membutuhkan perbaikan: dia pemberontak yang harus menyerahkan senjatanya. Menyerahkan senjata, menyerah, mengatakan Anda minta ampun, menyadari bahwa Anda berada pada jalan yang salah dan siap memulai hidup baru lagi…. itulah yang disebut orang Kristen sebagai lahir baru.”[20] Lahir baru adalah kata yang berarti cara berpikir yang secara dramatis berbalik arah.. Itulah yang terjadi terhadap mantan “pembunuh bayaran” Nixon. Setelah Watergate terbuka, Colson mulai memikirkan tentang hidup secara berbeda. Merasa dia tidak punya tujuan (tidak tahu apa yang harus dilakukan), dia mulai membaca buku “Kekristenan Biasa” (Mere Christianity), ditulis oleh Lewis, yang diberikan seorang teman kepadanya. Dilatih sebagai pengacara, Colson mengambil buku tulis dan menuliskan semua argumen-argumen Lewis. Colson mengingat: “Saya tahu waktunya sudah tiba bagi saya. . Apakah saya akan menerima Yesus Kristus tanpa syarat sebagai Tuhan aas hidup saya. Itu seperti sebuah gerbang untuk saya? Tidak ada jalan untuk melangkah memutarinya. Saya masuk atau saya tetap diluar. Satu ‘mungkin’ atau ‘saya butuh tambahan waktu’ sama dengan memperolok diri sendiri.” Setelah pergulatan di dalam hati, mantan pembantu presiden Amerika Serikat ini akhirnya menyadari Yesus Kristus pantas memperoleh kesetiaan total darinya. Dia menulis: “Kemudian, pada Jumat pagi, ketika saya duduk sendirian melihat ke laut yang saya cintai, kalimat yang saya tidak pasti bisa saya pahami atau katakan meluncur begitu saja dari bibir saya, “Tuhan Yesus, saya percaya Engkau”. Saya terima Engkau. Mohon masuklah dalam hidup saya. Saya berkomitmen kepada-Mu.”[21] Colson menemukan bahwa pertanyaannya, “Siapa saya?” “Kenapa saya ada di sini?” dan “Kemana saya pergi?” Semua terjawab dalam hubungan personal dengan Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis, “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan.” (Efesus 1:11 ) Ketika kita memasuki hubungan personal dengan Yesus Kristus, Dia mengisi kekosongan dalam hati kita, memberi kita kedamaian, dan memuaskan keinginan kita akan arti kehidupan dan harapan. Dan kita tidak lagi membutuhkan stimultan sementara untuk mengisi kita. Ketika Dia masuk kedalam kita, Dia juga memuaskan keinginan paling dalam dan kebutuhan akan kasih dan kedamaian sejati. Dan hal paling menakjubkan adalah Allah sendiri datang sebagai manusia untuk membayar seluruh hutang kita. Karena itu, kita tidak lagi ditindas hukuman dosa. Paulus menulisnya dengan jelas kepada jemaat Roma, ketika ditulisnya, “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Kolose 1:21b-22a). Jadi Allah melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Kita dibebaskan dari dosa oleh pengorbanan Yesus sampai mati. Ini seperti pembunuh massal datang kepada hakim dan diberikan pengampunan penuh dan menyeluruh. Dia tidak pantas menerima pengampunan itu, dan juga kita. Pemberian kehidupan abadi Allah sepenuhnya gratis —- dan dibagi-bagikan (kepada siapapun yang mau). Tapi meski pengampunan ditawarkan kepada kita, tetap tergantung kepada kita untuk menerimanya (atau tidak). Pilihan ada pada Anda. Apakah Anda ada pada titik dalam hidup dimana Anda akan menerima tawaran gratis Allah? Mungkin seperti Madonna, Bono, Lewis, dan Colson, hidup Anda juga kosong. Tidak satupun yang telah Anda coba bisa memuaskan kekosongan (jiwa) yang Anda rasakan. Allah bisa mengisi kekosongan itu dan mengubah Anda dalam sekejab. Dia telah menciptakan Anda agar Anda mempunyai hidup yang membanjir dengan arti dan tujuan. Yesus mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b) Atau mungkin semua berjalan baik-baik dalam hidup Anda, tetapi Anda tidak bisa istirahat dan tidak ada kedamaian. Anda menyadari Anda telah melanggar hukum-hukum Allah dan terpisah dari kasih dan pengampunan-Nya. Anda takut akan penghakiman Allah. Yesus mengatakan, “Saya pergi dengan memberi kamu berkat –kedamaian pikiran dan hati. Dan kedamaian yang saya beri tidak sama dengan yang diberikan dunia.” Jadi kapanpun Anda lelah akan kekosongan hidup atau terusik oleh ketiadaan perdamaian dengan Pencipta Anda, jawabannya ada dalam Yesus Kristus. Ketika Anda percaya dalam Yesus Kristus, Allah akan mengampuni semua dosa-dosa Anda – di masa lalu, sekarang, dan masa depan dan menjadikan Anda anak-anak-Nya. Dan sebagai anak yang dikasihi-Nya, Dia memberi Anda tujuan dan arti kehidupan di bumi dan menjanjikan kehidupan abadi bersama-Nya. Firman Tuhan, “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” (Yohanes 1:12) Pengampunan dosa, tujuan hidup, dan kehidupan abadi semuanya untuk Anda jika Anda memintanya. Anda bisa mengundang Kristus memasuki hidup Anda sekarang ini dengan iman melalui doa. Berdoa adalah berbicara dengan Allah. Allah tahu hati Anda dan tidak terlalu memperhatikan kata-kata Anda karena Dia melihat sikap hati Anda. Di bawah ini ada saran doa: “Ya Allah, saya ingin mengenal-Mu secara pribadi dan hidup abadi bersama-Mu. Terima kasih, Tuhan Yesus, karena mati di kayu salib bagi dosa-dosa saya. Saya buka pintu kehidupan saya dan menerima Engkau sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ambil hidup saya dan ubah saya, jadikan saya orang yang Engkau kehendaki.” Apakah doa ini mengekspresikan keinginan hati Anda? Jika ya, berdoalah seperti saran di atas dalam bahasa Anda sendiri. Jika Anda sudah meminta Yesus Kristus masuk dalam hidup Anda, kami mendorong Anda untuk mulai membaca Firman (Alkitab) dan bergabung dengan yang lain yang juga ingin hidup untuk Dia. Sangat penting bagi Anda untuk belajar rahasia-rahasia kehidupan indah yang Allah rencanakan bagi Anda. Di bawah ada studi Alkitab yang akan membantu Anda menghubungkan potongan-potongan rencana indah-Nya bagi Anda dan bagi pertumbuhan iman Anda. Apakah Yesus masih relevan sekarang? Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian? Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya: Paulus, Johannes, dan yang lainnya? Para saksi mata berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka kekristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mukjizat itu memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diri-Nya, dan kita. Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja? Apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan? Apa Ada Konspirasi Da Vinci? “Senyum Monalisa” menginvestigasi teori besar dunia tentang konspirasi, Yesus Kristus. Yesus dan Maria Magdalena menikah Apakah (Kaisar) Constantine memerintahkan penghancuran catatan yang sebenarnya mengenai Yesus Kristus dan menciptakan Dia sebagai Allah yang dipuja orang Kristen sekarang?

Apakah ada Konspirasi Da Vinci?

Sumber : http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6792960161789393606#editor SENYUMAN MONA LISA: Da Vinci Code tidak bisa dikesampingkan hanya sebagai rancangan fiksi belaka. Premisnya adalah Yesus Kristus telah dibentuk (direkayasa) kembali untuk kepentingan politik, telah menyerang lansung pondasi utama KeKristenan. Pengarangnya, Dan Brown, didepan televisi nasional menyatakan kendati cerita itu fiksi, dia percaya ceritanya mengenai identitas Yesus benar. Jadi apa itu kebenaran? Mari kita lihat. Apa Yesus secara rahasia menikah dengan Maria Magdalena? Apakah ke-Tuhan-an Yesus diciptakan oleh Konstantin dan gereja? Apakah catatan orsinil Yesus dihancurkan? Apakah penemuan terbaru manuskrip menceritakan kebenaran akan Yesus? Apakah konspirasi maha besar itu bermuara pada rekayasa kembali (penciptaan kembali) Yesus? Menurut buku itu dan filmnya, The Da Vinci Code, itulah yang terjadi. Beberapa bagian buku memperlihatkan bau konspirasi mengenai Yeus. Contohnya, buku menyebutkan, “Tidak seorangpun menyatakan Kristus merupakan kebohongan, atau membantah Dia pernah berjalan di bumi dan menginspirasi jugaan orang untuk hidup lebih baik. Kita hanya mengatakan Konstantin memanfaatkan substansi dari pengaruh dan pentingnya Yesus itu. Dan dalam melakukannya, dia membentuk wajah KeKristenan yang kita kenal sekarang ini.”[1] Apa mungkin pernyataan dari buku laris Dan Brown ini benar? Atau premis dibelakangnya hanyalah bahan-bahan yang bagus untuk novel konspirasi — sama dengan kepercayaan bahwa pesawat luar angkasa asing jatuh di Roswell, New Mexico, atau ada penembak kedua di lapangan rumput di Dallas ketika JFK dibunuh. Apapun itu, cerita memang menarik. Tidak heran buku Brown telah jadi salah satu buku paling laku dalam satu dekade terakhir. Konspirasi Yesus The Da Vinci Code dimulai dengan pembunuhan kurtor museum Perancis bernama Jacques Sauniere. Seorang pakar dari Universitas Harvard dan perempuan cantik Perancis ahli kritologi diminta mengartikan sebuah pesan yang ditinggalkan kurator sebelum kematiannya. Pesan itu ternyata mengungkap konspirasi besar dalam sejarah manusia: sebuah penipuan pesan sebenarnya tentang Yesus Kristus oleh tangan rahasia gereja Katolik Roma disebut Opus Dei. Sebelum kematiannya, sang kurator punya bukti yang akan menghapuskan ke-Tuhan-an Kristus. Kendati (menurut cerita di buku) gereja selama berabad-abad mencoba menghapus bukti-bukti, para pemikir dan seniman besar telah menanam petunjuk dibanyak tempat: dalam lukusan seperti Mona Lisa dan Perjamuan Malam Terakhir oleh da Vinci, dalam arsitektur katedral-katedral, bahkan dalam kartun-kartun Disney. Klaim utama buku adalah: Kaisar Romawi Konstantin berkonspirasi untuk men-Tuhan-kan Yesus Kristus. Konstantin secara pribadi memilih buku-buku di dalam Perjanjian Baru. Injil Gnostik dilarang oleh para laki-laki untuk menindas perempuan. Yesus dan Maria Magdalena secara rahasia menikah dan punya anak. Ada ribuan dokumen yang bertentangan dengan poin-poin kunci KeKristenan. Brown mengungkapkan konspirasinya melalui seorang ahli, fiksi, sejarahwan bangsawan Inggris, bernama Sir Leigh Teabing. Digambarkan sebagai seorang pakar yan bijak dan tua, Teabing mengungkapkan kepada ahli kriptologi Sophie Neveu bahwa pada sidang Dewan Nicaea tahun 325 “banyak aspek dari KeKristenan diperdebatan dan diambil pemungutan suara (untuk memutuskannya),” termasuk ke-Tuhan-an Yesus. “Sampai pada momen historis,” katanya, “Yesus dipandang oleh para pengikutnya sebagai nabi fana …. seorang besar dan berkuasa, tapi tetap seorang manusia biasa.” “Relatif menang tipis dalam pemungutan suara,” tukas Teabing yang sangat mengejutkan ahli kriptologi itu.[2] Neveu kaget sekali. “Bukan Putra ALLAH?” Tanyanya. Teabing menjelaskan, ”Penetapan Yesus sebagai ‘Putra ALLAH’ secara resmi diusulkan dan dipilih oleh Dewan Nicaea.” “Tunggu. Anda katakan Ke-Tuhan-an Yesus adalah hasil pemungutan suara.” Jadi menurut Teabing, Yesus belum dipandang sebagai ALLAH sampai Dewan Nicaea bersidang tahun 325, ketika catatan sebenarnya tentang Yesus dikatakan dilarang dan dihancurkan. Jadi, menurut teori itu, seluruh dasar KeKristenan berdiri diatas kebohongan. The Da Vinci Code telah menjual ceritanya denga bagus,menarik komentar dari para pembaca seperti “jika tidak benar maka tidak akan dipublikasikan!” Yang lain menulis dia “tidak akan menginjakkan kakinya di gerja lagi.” Seorang pengulas buku memujinya karena “riset sempurna (meyakinkan)[3] Cukup meyakinkan buat sebuah cerita fiksi. Mari kita sebentar menerima pandangan Teabing yang mungkin benar. Kenapa, dalam kasus ini, Dewan Nicaea memutuskan untuk mengangkat Yesus menjadi ALLAH? “Karena kekuasaan,” imbuh Teabing. “Kristus sebagai Mesias sangat penting supaya Gereja dan negara bisa berfungsi. Banyak ahli mengklaim gereja mula-mula secara harafiah mencuri Yesus dan para pengikut asli, membajak pesan kemanusiaannya, menutupiNya dengan jubah Ke-Tuhan-an yang tidak bisa ditembus, dan menggunakanNya untuk memperluas kekuasaan mereka sendiri.”[4] Dalam banyak cara, The Da Vinci Code adalah konspirasi teori paling lengkap. Jika penuturan Brown benar, maka kita telah dibohongi oleh — gereja, oleh sejarah, dan oleh Kitab Suci. Mungkin bahkan oleh mereka yang paling kita percayai: orangtua kita atau guru-guru kita. Dan itu semua hanya untuk meraih kekuasaan. Meskipun The Da Vinci Code merupakan cerita fiksi, sebagian besar premisnya diambil dari kejadian nyata (Dewan Nicaea), orang-orang nyata (Konstantin dan Arius), dan dokumen nyata (injil Gnostik). Jika kita memasuki dasar dari konspirasi, proyek kita harus meneliti tuduhan Brown dan memisahkan fakta dengan fiksi. Konstantin Dan Kekristenan Beberapa ratus tahun sebelum Konstantin berkuasa di Kekaisaran Romawi, orang Kristen mengalami penindasan berat. Tapi kemudian, ketika akan melancarkan perang, Konstantin dilaporkan melihat salib terang di angkasa dengan tulisan “Taklukkan dengan ini.” Dia bertempur dengan tanda salib dan mengambil alih kekuasaan kekaisaran. Pertobatan Konstantin jadi Kristen terlihat jelas dalam sejarah gereja. Roma jadi kekaisaran Kristen. Untuk pertama kalinya, selama hampir 300 tahun, orang Kristen relatif aman dan bahkan merasa keren untuk jadi Kristen. Orang Kristen tidak lagi ditindas karena iman mereka. Kemudian Konstantin berusaha menyatukan Kekaisaran Barat dan Timur, yang terpecah karena perbedaan keyakinan, sekte, dan golongan, sebagian besar berpusat pada isu identitas Yesus Kristus. Ada bagian-bagian yang benar dalam The Da Vinci Code, dan bagian-bagian yang benar ini jadi prasyarat bagi sebuah kesuksesan teori konspirasi apapun. Tapi cerita dalam buku membuat Konstantin jadi tokoh konspirator. Jadi, mari dilihat pertanyaan kunci yang ditujukan kepada teori Brown: apakah Konstantin menciptakan doktrin Kristen tentang Ke-Tuhan-an Yesus? Ke-Tuhan-An Yesus Untuk menjawab tuduhan Brown, kita pertama-tama harus menemukan apa yang dipercaya orang Kristen secara umum sebelum Konstantin menyelenggarakan sidang Nicaea. Orang Kristen telah memuja Yesus sebagai ALLAH sejak abad pertama. Tapi pada abad ke empat, seorang pemimpin gereja dari timur, Arius, melakukan kampanye untuk mempertahankan ke-esa-an ALLAH. Dia mengajarkan Yesus merupakan ciptaan khusus, lebih tinggi dari malaikat, tapi bukan ALLAH. Athanasius dan sebagian besar pemimpin gereja, dipihak lain, yakin bahwa Yesus adalah ALLAH dalam daging. Konstantin ingin menyelesaikan pertikaian ini, berharap membawa damai di kekaisarannya, menyatukan timur dan barat yang terpecah. Jadi, tahun 325, dia menyelenggarakan konvensi lebih dari 300 uskup di Nicaea (sekarang bagian dari Turki) dari seluruh dunia Kristen. Pertanyaan penting adalah, apakah gereja purba berpikir Yesus adalah Pencipta atay hanyalah ciptaan — Anak ALLAH atau anak seorang tukang kayu? Jadi, apa yang ajarkan oleh para rasul tentang Yesus? Dari catatan paling awal, mereka memandang Dia sebagai ALLAH. Sekitar 30 tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Paulus menulis kepada orang Filipi bahwa Yesus adalah ALLAH dalam bentuk manusia (Filipi 2:6-7). Dan Yohanes, saksi mata yang dekat, mengkonfirmasikan Ke-Tuhan-an Yesus dengan kalimat ini: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan ALLAH dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita. (Yohanes 1: 1-4, 14). Kalimat ini dari Johanes 1, ditemukan dalam manuskrip kuno dan sudah dihitung dengan tehnik karbon berasal dari tahun 175 – 225. Jadi Yesus dengan sangat jelas diberitakan sebagai Allah lebih dari seratus tahun sebelum Konstantin menyelenggarakan konvensi Dewan Nicaea. Sekarang kita melihat bukti forensik manuskrip bertentangan dengan klaim The Da Vinci Code, yang menyatakan ke-Tuhan-an Yesus diciptakan pada abad ke empat. Tapi apa yang dikatakan sejarah kepada kita mengenai Dewan Nicaea? Brown dalam bukunya, melalui Teabing, menyatakan mayoritas uskup di Nicaea meniadakan kepercayaan Arius bahwa Yesus adalah nabi biasa (manusia biasa) dan mengadopsi doktrin Ke-Tuhan-an Yesus dengan “hasil pemungutan suara (menang) tipis”. Benar atau salah? Dalam kenyataan hasil pemungutan suara menang mutlak: hanya dua dari 318 uskup yang berbeda pandangan. Arius percaya bahwa hanya Bapa yang Allah, dan Yesus adalah ciptaan terutamaNya, dewan mengambil kesimpulan bahwa Yesus dan Bapa satu hekekat ke-Allah-an. Bapa, Anak, dan Roh Kudus, berbeda, hadir bersama-sama, berpribadi, tapi tetap Allah yang Esa. Doktrin Allah yang Esa dalam tiga pribadi (Trinitas) dikenal dalam Pengakuan Iman Rasuli Nicene dan jadi pusat utama keimanan Kristen. Sekarang, apakah benar Arius itu mudah mempengaruhi orang lain dan punya pengaruh kuat. Hasil pemungutan suara, yang menang mutlak, dilakukan setelah perdebatan panjang. Tapi pada akhirnya dewan secara mayoritas besar menyatakan Arius bidah (sesat), karena pengajarannya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh para rasul tentang ke-Tuhan-an Yesus. Sejarah juga mengkonfirmasi Yesus dimuka umum menerima pemujaan para muridnya. Dan, seperti kita telah lihat, Paulus dan para rasul lain dengan jelas mengajarkan Yesus adalah Allah dan pantas menerima pemujaan. Sejak hari pertama gereja Kristen, Yesus dipandang lebih dari sekedar manusia biasa, dan kebanyakan pengikutnya memuja dia sebagai Tuhan — Pencipta alam semesta. Jadi, bagaimana Konstantin menciptakan doktrin Ke-Tuhan-an Yesus, jika gereja telah memandang Yesus sebagai Allah lebih dari 200 tahun? The Da Vinci Code tidak membahas pertanyaan ini. Menembak Kanon The Da Vinci Code juga menyebutkan Konstantin menghancurkan semua dokumen mengenai Yesus selain yang ditemukan pada kanon Perjanjian Baru seperti sekarang (diakui oleh gereja sebagai laporan saksi mata otentik para rasul). Ditambahkan bahwa catatan Perjanjian Baru diubah oleh Konstantin dan para uskup untuk menciptakan Yesus yang baru. Eleman kunci lain konspirasi The Da Vinci Code adalah ke empat Injil dipilih dari total “lebih dari 89 Injil”, kebanyakan dimusnahkan oleh Konstantin.[5] Ada dua isu sentral disini, dan kita perlu membahas keduanya. Pertama adalah apakah terjadi bias atau ‘asal pilih’ Konstantin atas buku-buku di Perjanjian Baru. Kedua adalah apakah dokumen-dokumen, yang dilarangnya, seharusnya dimasukkan dalam Kitab Suci. Mengenai isu pertama, surat-surat dan dokumen yang ditulis para pemimpin gereja abad kedua dan juga termasuk aliran (sekte-sekte) sesat mengkonfirmasikan penggunaan buku-buku Perjanjian Baru. Hampir 200 tahun sebelum Konstantin menyelenggarakan konvensi Dewan Nicaea, aliran sesat Marcion mendaftar 11 dari 27 buku Perjanjian Baru sebagai tulisan otentik para rasul. Pada saat yang hampir bersamaan, aliran sesat lain, Valentinus, memakai secara luar tema dan banyak tulisan dari Perjanjian Baru. Diketahui, kedua aliran sesat ini adalah musuh dari kepemimpinan gereja mula-mula, dan mereka tidak menulis apa yang diinginkan oleh para uskup. Kendati begitu, sama seperti gereja mula-mula, mereka masih tetap memegang referensi yang sama dengan Perjanjian Baru dengan apa yang kita baca sekarang. Jadi, kalau Perjanjian Baru sudah digunakan secara luas 200 tahun sebelum Konstantin dan Dewan Nicaea, bagaimana kaisar bisa menciptakan atau mengubahnya? Pada saat gereja sudah tersebar luas dan meliputi ratusan, kalau bukan jutaan, orang percaya, dan mereka semua akrab dengan catatan Perjanjian Baru. Dalam bukunya The Da Vinci Deception (Tipuan Da Vinci), mengenai analisa terhadap buku The Da Vinci Code, Dr. Erwin Lutzer mencatat, “Konstantin tidak memutuskan buku-buku mana yang masuk dalam kanon; sesungguhnya topik kanon tidak muncul dalam sidang Dewan Nicaea. Pada saat gereja mula-mula membaca sebuah buku-buku kanon maka sudah diputuskan bahwa itu adalah Firman Allah dua ratus tahun sebelumnya.”[6] Meskipun kanonisasi resmi masih membutuhkan waktu tahunan sebelum difinalisasikan, Perjanjian Baru saat ini sudah ditegaskan otentik lebih dari 200 tahun sebelum Nicaea. Hal ini membawa kita kepada isu kedua; kenapa injil-injil Gnostik, yang misterius itu, dimusnahkan dan dikeluarkan dari Pernjanjian Baru? Dalam buku itu, Teabing meyakinkan bahwa tulisan-tulisan Gnostik dihapuskan dari 50 Kitab Suci yang ditulis oleh dewan atas perintah Konstantin. Dengan antusias dia berkata kepada Neveu: “Karena konstantin mengangkat status Yesus empat abad sejak kematian Yesus, ada ribuan dokumen eksis yang menceritakan kehidupanNya sebagai manusia biasa. Untuk menulis ulang buku sejarah, Konstantin tahu dia membutuhkan tindakan besar dan keras. Dari sinilah momen paling penting dalam sejarah KeKristenan. … Konstantin memerintahkan dan membiayai Kitab Suci baru, yang tidak memasukkan injil-injil yang berbicara bahwa Yesus manusia biasa dan mengangkat injil-injil yang membutNya menjadi seperti Allah. Injil-injil awal dilarang, dikumpulkan, dan dibakar.”[7] Apakah tulisan-tulisan Gnostik ini adalah sejarah Yesus Kristus yang benar? Mari kita lihat lebih dalam agar kita bisa memisahkan antara kebenaran dari fiksi. Rahasia “Mereka Yang Tahu” Injil Gnostik dikaitkan dengan sebuah kelompok sebagai (kejutan besar disini) Gnostik. Nama mereka diambil dari kata Yunani gnosis, berarti “pengetahuan”. Mereka adalah orang-orang yang berpikir mereka punya rahasia, pengetahuan khusus yang disembunyikan dari orang biasa. Dari 52 tulisan, hanya ada 5 yang benar-benar pernah didaftar sebagai injil. Seperti kita lihat, apa yang disebut sebagai injil itu ditandai berbeda dari injil Perjanjian Baru, Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ketika KeKristenan meluas, Gnostik mencampur sejumlah doktrin dan elemen KeKristenan kedalam kepercayaan mereka, mengubah Gnostikisme jadi KeKristenan palsu. Mungkin mereka melakukan itu untuk menarik pengikut baru lebih banyak dan membuat Yesus sebagai tokoh dari perjuangan mereka. Kemdati begitu, bagi sistim pemikiran mereka agar masuk dalam KeKristenan, Yesus perlu diubah, ditelanjangi dari kemanusianNya dan juga ke-Allah-anNya. Dalam The Oxford History of Christianity John McManners menulis Gnostik mencampur kepercayaan Kristen dengan mistis. “Gnostikisme pernah (dan masih) jadi “upaya pencerahan diri” dengan banyak bumbu. Okultisme dan mistik timur bercampur dengan astrologi, sihir. … Mereka mengumpulkan perkataan Yesus dibentuk agar sesuai dengan interpretasi mereka (seperti pada Injil Thomas) dan menawarkan kepercayaan mereka sebagai alternatif atau bentuk pesaing dari KeKristenan.”[8] Kritik Awal Bertentangan dengan Brwn, bukanlah Konstantin yang melabelkan kepercayaan Gnostik sebagai sesat; tetapi para rasul sendiri. Aliran filsafat telah mulai tumbuh pada abad pertama, hanya beberapa puluh tahun setelah kematian Yesus. Para rasul, dalam pengajaran dan tulisan mereka, bertutur panjang lebar mengecam kepercayaan ini sebagai bertentangan dengan kebenaran Yesus, dimana mereka adalah saksi mata. Kita cek, contohnya, apa yang ditulis rasul Yohanes pada akhir abad pertama, “Siapa pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antiKristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun anak.” (1 Johanes 2:22) Mengikuti pengajaran para rasul, pemimpin gereja mula-mula secara bulat mengutuk Gnostik sebagai sekte sesat. Bapa gereja Irenaeus, menulis 140 tahun sebelum Dewan Nicaea, mengkonfirmasikan Gnostik dikutuk oleh gereja sebagai sesat. Dia juga menolak “injil” mereka. Namun, dengan referensi Injil Perjanjian Baru, dia mengatakan, “Tidak mungkin Injil lebih atau kurang jumlahnya dari yang sudah ada.”[9] Teolog Kristen Origen menulis pada awal abad ke tiga, lebih dari seratus tahun sebelum Nicaea, Saya tahu beberapa injil yang disebut “Injil menurut Thomas” dan “Injil menurut Matthias”, dan banyak lagi yang lain yang sudah kita baca — supaya jangan kita dianggap bodoh karena mereka yang mengkhayal mereka memiliki sejumlah pengetahuan jika mereka memperolehnya dengan itu (Injil Thomas dan Injil Matthias). Walaupun begitu, dari semua yang kita sudah setujui dari apa yang akui gereja, dimana hanya ada empat injil seharusnya diterima.[10] Itulah kata-kata dari pemimpin terkemuka gereja mula-mula. Gnostik sudah dikenal sebagai sekte non-Kristen jauh sebelum Dewan Nicaea. Tapi masih ada lebih banyak bukti yang bisa dipertanyakan terhadap klaim-klaim The Da Vinci Code. Siapa Yang Bias Gender? Brown menyatakan salah satu motif Konstantin melarang tulisan Gnostik adalah keinginan untuk menindas perempuan dalam gereja. Irosnisnya, justru Injil Gnostik Thomas yang merendahkan martabat perempuan. Injil menyimpulkan (katanya mengutip Petrus) dengan pernyataan yang mengagetkan,” Biarkan Maria pergi dari kita, karena perempuan tidak pantas bagi kehidupan.” (114). Kemudian Yesus disebutkan mengatakan kepada Petrus bahwa dia akan mengubah Maria jadi laki-laki sehingga dia bisa memasuki kerajaan surga. Baca: perempuan lebih rendah. Dengan sentimen seperti itu diperlihatkan, sangat sukar untuk meyakinkan bahwa tulisan Gnostik sebagai dasar dari perjuangan pembebasan perempuan. Dengan kontras yang jelas, Yesus di Injil (Kitab Suci) selalu memperlakukan perempuan dengan menjujung harga dirinya dan hormat. Ayat revolusioner seperti ini ditemukan dalam Perjanjian Baru dan jadi dasar dari upaya peningkatan status perempuan: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba, atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28). Penulis Misterius Ketika membahas injil Gnostik, sama seperti setiap buku yang menyandang nama karakter Perjanjian Baru, Injil Filipus, Injil Petrus, Injil Maria, Injil Yudas, dan seterusnya. (Terdengar seperti kumpulan panggilan dengan pemikiran sempit) Ini adalah kuku-buku dimana teori konspirasi seperti The Da Vinci Code mendasarkan dirinya. Tapi apakah mereka pernah menuliskan siapa penulisnya? Injil Gnostik ditulis sekitar 110 – 300 tahun setelah Kristus, dan tidak ada ahli yang kredibel percaya ada salah satu buku yang menuliskan penulisnya. Dalam buku, yang membahas secara menyeluruh, James M. Robinson, berjudul The Nag Hammadi Library, kita pelajari injil Gnostik ditulis oleh “penulis anonim dan tidak saling berhubungan.”[12] Dr. Darrell L. Bock, pengajar studi Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, menulis, “Material, yang banyak ini, adalah generasi-generasi yang keluar dari dasar-dasar iman Kristen, ini poin vital untuk diingat ketika meneliti isinya.”[13] Ahli Perjanjian Baru Norman Geisler berkomentar atas dua tulisan Gnostik, Injil Petrus dan Perbuatan Yohanes (Tulisan Gnostik ini tidak terkait dengan buku-buku Perjanjian Baru yang ditulis oleh Yohanes dan Petrus): “Tulisan Gnostik tidak ditulis oleh para rasul, tapi oleh orang pada abad ke dua (dan setelahnya) seakan-akan menggunakan otoritas kerasulan untuk mengajukan pengajaran mereka sendiri. Hari ini, kita menyebutnya sebagai penipuan dan penjiplakkan.”[14] Injil Gnostik bukanlah catatan historis kehidupan Yesus tapi sebagian besar berisi mistis, diselimuti misteri, tidak mengindahkan detil historis seperti nama-nama, tempat, dan peristiwa. Ini sangat kontras dengan Injil Perjanjian Baru, yang berisi banyak sekali fakta historis tentang kehidupan Yesus, pelayananNya, dan firmanNya. Nyonya Yesus Bagian paling menarik dari konspirasi Da Vinci adalah pernyataan bahwa Yesus dan Maria Magdalena diam-diam menikah dan punya anak, yang menurunkan keturunan. Karena itu, rahim Maria Magdalena, yang ada anak Yesus, digambarkan di buku sebagai ‘Holy Grail’, rahasia yang dijaga sangat ketat oleh organisasi Katolik dengan nama ‘Priory of Sion’. Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci disebutkan sebagai anggotanya. Romantika. Skandal. Intrik. Bahan sangat bagus bagi teori konspirasi. Tapi apa benar? Lihat apa yang dikatakan para pakar. Artikel di majalah Newsweek menyimpulkan pendapat para ahli, teori Yesus dan Maria Magdalena menikah diam-diam tidak punya dasar sejarah.[15] Cerita yand disodorkan The Da Vinci Code dibangun hanya berdasarkan satu ayat di Injil Filipus yang mengindikasikan Yesus dan Maria Magdalena ‘berteman’. Dalam buku, Teabing membangun kasus dengan argumen kata ‘berteman’ (koinonos) bisa berarti ‘pasangan’. Tapi teori Teabing tidak diterima oleh para ahli. Juga ada satu ayat di Injil Filipus yang menyatakan Yesus mencium Maria. Menyambut teman dengan ciuman sudah biasa dilakukan di abad pertama, dan tidak punya konotasi seksual. Tapi meski interpretasi The Da Vinci Code benar, tidak ada dokumen historis yang mengkonfirmasi teori itu. Juga karena Injil Filipus ditulis sekitar 150 – 220 tahun setelah Yesus oleh penulis tak diketahui, pernyataannya mengenai Yesus tidak bisa diandalkan secara historis. Mungkin Gnostik (para penganut Gnostik) merasa Perjanjian Baru sedikit malu-malu mengungkapkan romatika dan memutuskan menambahkan bumbu itu sedikit. Apapun alasannya, ayat yang terisolasi dan tidak jelas ini, ditulis dua abad setelah Yesus dan tidak kuat untuk dijadikan dasar sebuah teori konspirasi. Menarik di baca, mungkin, tapi jelas bukan sejarah. 

Bagaimana tentang ‘Holy Grail dan the Priory of Sion’, tulisan fiksi Brown kembali mendistorsi sejarah. Legenda ‘Holy Grail’ diperkirakan adalah gelas Yesus pada saat makan malam terakhir (malam sebelum penyaliban) dan tidak ada kaitan apapun dengan Maria Magdalena. Dan Leonardo da Vinci tidak pernah tahu tentang ‘Priory of Sion’, karena organisasi ini belum dibentuk sampai tahun 1956, 437 tahun setelah kematiannya. Kembali, fiksi menarik, tapi kebohongan sejarah. Dokumen Rahasia Tapi bagaimana dengan pengungkapan Teabing bahwa ada “ribuan dokumen rahasia” yang membuktikan KeKristenan itu kebohongan. Apakah ini benar? Jika ada dokumen-dokumen seperti itu, para ahli penentang KeKristenan akan langsung melahapnya. Tulisan-tulisan pemalsuan yang ditolak oleh gereja mula-mula karena pandangan sesatnya bukanlah rahasia, sudah dikenal selama lebih dari satu abad. Tidak ada kejutan disini. Mereka tidak pernah dipertimbangkan sebagai bagian tulisan otentik para rasul. Dan jika Brown (Teabing) mengambil referensi catatan-catatan yang tidak jelas asalnya atau injil-injil yang belum jadi, hal ini akan membuat cerita jadi hambar. Tulisan-tulisan ini bukan rahasia, apalagi tulisan itu tidak menentang KeKristenan. Ahli Perjanjian Baru Raymond Brown mengatakan Injil Gnostik, “Kami pelajari tidak ada fakta baru, yang bisa diverifikasi, tentang sejarah pelayanan Yesus, dan hanya ada beberapa pernyataan yang mungkin berasal dari Yesus.”[17] Tidak seperti injil-injil Gnostik, yang penulisnya tidak dikenal dan bukan saksi mata, Perjanjian Baru, yang kita miliki sekarang, telah melewati banyak ujian ke-otentik-an. (Klik untuk membaca Jesus.doc) Kontras sangat mengejutkan bagi mereka yang mendesakkan teori-teori konspirasi. Sejarahwan Perjanjian Baru F. F. Bruce menulis : “Tidak ada literatus kuno di dunia yang memiliki kekayaan teksual, dalam kondisi baik, seperti Perjanjian Baru.”[18] Ahli Perjanjian Baru Bruce Metzger mengungkapkan kenapa Injil Thomas tidak diterima oleh gereja mula-mula: “Tidak benar untuk menyatakan Injil Thomas dikeluarkan oleh sebagian dewan: hal benar untuk melihatnya, Injil Thomas itu sendiri mengeluarkan dirinya sendiri! Injil tidak mempunyai harmoni dengan testimoni lain tentang Yesus sehingga orang Kristen mula-mula menerimanya untuk bisa dipercaya.”[19] Putusan Sejarah Jadi, apa yang kita simpulkan berkaitan dengan berbagai teori konspirasi mengenai Yesus Kristus? Karen King, dosen sejarah di Harvard, telah menulis beberapa buku mengenai injil Gnostik, termasuk Injil Maria Magdalena dan Apa itu Gnostikisme? King, meskipun dia membela dengan keras pengajaran Gnostik, menyimpulkan, “Pernyataan-pernyataan mengenai teori konspirasi — semuanya adalah ide-ide marginal saja dan tidak punya dasar sejarah.”[20] Meski tidak ada bukti sejarah, teori konspirasi terus menjual jutaan buku dan membuat rekor ‘box office’. Para ahli dibidang yang berkaitan, sejumlah orang Kristen dan mereka yang tidak punya keimanan, telah mempertanyakan klaim ‘The Da Vinci Code’. Namun, mereka yang mudah terombang-ambing tetap merenung, apa ada sesuatu di sana? Wartawan televisi, yang mendapat beberapa penghargaan, Frank Sesno, bertanya kepada panel para ahli sejarah mengenai ketertarikan orang dengan teori-teori konspirasi. Professor Stanley Kutler dari University of Wisconsin menjawab, “Kita suka sekali misteri— tapi yang lebih kita sukai adalah konspirasi.” Jadi jika anda ingin membaca teori konspirasi,yang sangat menarik, tentang Yesus, novel Dan Brown, The Da Vinci Code, mungkin akan memuaskan anda. Tapi kalau anda ingin membaca catatan yang sejati tentang Yesus Kristus, maka Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes akan membawa anda kepada apa yang dilihat, didengar, dan ditulis para saksi mata. Siapa yang anda lebih percayai ? Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian? Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya. Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita. Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan? Klik di sini untuk melihat bukti-bukti untuk klaim yang paling fantastis yang pernah dibuat — kebangkitan Yesus Kristus! Endnotes 1. Dan Brown, The Da Vinci Code (New York: Doubleday, 2003), 234. 2. Brown, 233. 3. Quoted in Erwin Lutzer, The Da Vinci Deception (Wheaton, IL: Tyndale, 2004), xix. 4. Brown, 233. 5. Brown, 231. 6. Lutzer, 71. 7. Brown, 234. 8. John McManners, ed., The Oxford History of Christianity (New York: Oxford University Press, 2002), 28. 9. Darrell L. Bock, Breaking the Da Vinci Code (Nashville: Nelson, 2004), 114. Bock, 119-120. 10. Quoted in James M. Robinson, ed., The Nag Hammadi Library: The Definitive Translation of the Gnostic Scriptures (HarperCollins, 1990), 138. 11. Ibid.,13. 12. Bock, 64. 13. Norman Geisler and Ron Brooks, When Skeptics Ask (Grand Rapids, MI: Baker, 1998), 156. 14. Barbara Kantrowitz and Anne Underwood, “Decoding ‘The Da Vinci Code,’ “ Newsweek, December 8, 2003, 54. 15. Quoted in Robinson, 126. 16. Quoted in Lee Strobel, The Case for Christ (Grand Rapids, MI: Zondervan. 1998), 68. 17. Quoted in Lutzer, 32. 18. Quoted in Josh McDowell, The New Evidence that Demands a Verdict (San Bernardino, CA: Here’s Life, 1999, 37.) 19. Linda Kulman and Jay Tolson, “Jesus in America,” U. S. News & World Report, December 22, 2003, 2. 20. Stanley Kutler, interview with Frank Sesno, “The Guilty Men: An Historical Review,” History Channel, April 6, 2004. Permission to reproduce this article: Publisher grants permission to reproduce this material without written approval, but only in its entirety and only for non-profit use. No part of this material may be altered or used out of context without publisher’s written permission. Printed copies of Y-Origins and Y-Jesus magazine may be ordered at: www.JesusOnline.com/product_page

Tentang My Lord Jesus

Sumber : http://y-jesus.org/indonesian/wwrj/1-apakah-yesus-benar-benar-ada/ 1. Apakah Yesus benar-benar ada? IDENTITAS KELAHIRAN: Apakah Yesus Kristus benar-benar ada atau apakah kekristenan dibangun berdasarkan legenda saja?. Beberapa pakar mempertanyakan keberadaan Yesus, namun cukup banyak musuh kekristenan mencoba membuktikan Yesus tidak pernah ada. Dalam sebuah tuntutan hukum terhadap Vatikan, gereja dituduh menciptakan kisah keberadaan Yesus. Kasus tersebut diajukan ke pengadilan oleh Luigi Casciolli, Februari 2006, namun ditolak dan ditutup oleh pengadilan. Argumen menentang keberadaan Yesus disiarkan ke publik oleh jaringan televisi CNN, ketika Ketua Ateis Amerika Ellen Johnson menyatakan, “Kenyataannya, tidak ada sedikitpun bukti dari sumber sekuler bahwa Yesus Kristus itu ada.” Yesus Kristus dan kekristenan adalah agama modern. Dan Yesus Kristus adalah penggabungan dari tuhan-tuhan lain: Osiris dan Mithras, yang punya kesamaan asal-usul, kesamaan kematian seperti mitos Yesus Kristus,” (ateis, Ellen Johnson). Johnson dan panel para pemimpin religius pita-biru mendiskusikan pertanyaan “Apa yang terjadi setelah kita meninggal dunia” dalam acara televisi Larry King di CNN. King yang biasanya lancar berbicara sempat terdiam, merenung, dan kemudian mengatakan, “Jadi Anda tidak percaya keberadaan Yesus Kristus?”.Dengan nada yakin, Johnson menjawab,”Tidak pernah ada. Ini bukan apa yang saya percaya; tidak ada bukti sekuler bahwa JC, Yesus Kristus, pernah ada (hidup).” King tidak meneruskan diskusi dan langsung masuk iklan. Setelah itu, tidak ada diskusi mengenai bukti mendukung atau menentang keberadaan Yesus. Pemirsa televisi internasional itu dibiarkan terheran-heran.[1] Lima puluh tahun lalu, dalam bukunya Kenapa Saya Bukan Orang Kristen, penganut ateis Bertrand Russell mengagetkan generasinya dengan mempertanyaan eksistensi Yesus. Dia menulis, “Dari sudut pandang sejarah cukup diragukan apakah Yesus Kristus benar-benar ada, dan jika Dia ada, kita tidak mengetahui apapun mengenaiNya. Jadi saya tidak begitu mempedulikan pertanyaan historis itu, yang sangat sukar.”[2] Apa ada kemungkinan Yesus yang dipercaya begitu banyak orang pernah hidup, ternyata tidak pernah ada? Dalam kisah peradaban, sejarahwan sekuler Will Durant mengungkapkan pertanyaan ini,” Apa Yesus ada (pernah hidup/eksis)?.” Apakah cerita-cerita dari para pendiri kekristenan adalah produk dari kepedihan, imajinasi, dan harapan manusia — mitos yang bisa disejajarkan dengan legenda Krishna, Osiris, Attis, Adonis, Dionysus, dan Mithras?.”[3] Durant memperlihatkan bagaimana kisah kekristenan, “Dicurigai banyak kemiripan dengan legenda dewa-dewa (tuhan-tuhan pagan).”[4] Dalam artikel ini, kita akan lihat bagaimana sejarahwan besar ini menjawab pertanyaannya sendiri mengenai eksistensi Yesus. Jadi, bagaimana kita tahu dengan meyakinkan bahwa orang ini, yang dipuja orang dan dikutuki orang lain, nyata adanya?. Apakah Johnson benar, ketika dia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah penggabungan dari tuhan-tuhan lain?”, dan Russell benar ketika dia menyatakan keberadaan Yesus ” cukup diragukan”? Mitos Vs Realitas Mari kita mulai dengan pertanyaan yang lebih fundamental: apa yang membedakan mitos dengan realitas atau kenyataan?. Bagaimana caranya kita tahu, contohnya, apakah Alexander Agung benar-benar ada? Andaikata, tahun 336 SM, Alexander Agung jadi raja Makedonia pada usia 20 tahun. Seorang jenius militer, pemimpin tampan dan sombong ini melakukan pembantaian dari desa ke desa, kota ke kota, dan di seluruh kerajaan-kerajaan Yunani – Persia sehingga dia menguasai semuanya. Dalam waktu singkat, hanya delapan tahun, pasukan Alexander menempuh perjalanan penaklukan sejauh 22.000 mil. Dikabarkan, Alexander menangis ketika tidak ada lagi wilayah yang akan ditaklukkannya (saya merasa, inilah orang yang saya tidak ingin mengajaknya main monopoli.) Sebelum dia meninggal di usia 32, pencapaian militer Alexander dikabarkan lebih besar dari penaklukan militer siapapun sepanjang sejarah. Bukan hanya para raja yang hidup sebelumnya, tapi juga mereka yang lahir sesudahnya sepanjang sejarah kita. Tapi hari ini, selain beberapa kota yang diberi nama Alexandria, film membosankan yang dibuat Oliver Stone, dan beberapa buku, warisannya sudah lama dilupakan. Pada kenyataannya, nama Colin Farrell lebih mampu membuat film sangat laku (box office) daripada nama Alexander. Meski film itu gagal, para sejarahwan percaya Alexander ada karena tiga alasan utama: dokumentasi tertulis dari sejarahwan terdahulu dampak sejarah bukti-bukti sejarah lainnya dan bukti arkeologi Dokumen Sejarah Tentang Yesus Sejarah Alexander Agung dan penaklukan militernya diperoleh dari lima sumber kuno, yang semuanya bukan saksi mata. Kendati ditulis 400 tahun setelah Alexander, tulisan Plutarch berjudul Kehidupan Alexander merupakan catatan utama kehidupannya. Karena Plutarch dan para penulis lain terpisah beberapa ratus tahun dari saat kehidupan Alexander, maka mereka mendasarkan informasinya dari informasi-informasi yang sudah ada sebelumnya. Dari dua puluh catatan sejarah Alexander, tidak satupun ada sampai sekarang (sudah musnah). Catatan yang lebih kemudian memang ada, tapi tiap kisah memperlihatkan “Alexander” yang berbeda, yang kebanyakan bergantung pada imajinasi kita. Namun meski dengan perbedaan waktu beberapa ratus tahun, para sejarahwan yakin bahwa Alexander merupakan manusia nyata dan detil-detil utamanya, seperti yang kita baca mengenai kehidupannya benar. Melihat Alexander sebagai titik referensi, kita catat apa yang dikatakan sejarahwan religius dan sekuler mengenai Yesus. Tapi kita harus bertanya, apakah sejarah yang mereka tuliskan itu bisa diandalkan dan obyektif? Mari kita lihat sekilas. Perjanjian Baru Ke 27 buku Perjanjian Baru diklaim ditulis oleh penulis yang tahu secara langsung mengenai Yesus atau menerima informasi dari mereka yang kenal langsung. Empat Injil menceritakan kehidupan dan pengajaran Yesus dari perspektif berbeda. Tulisan-tulisan ini diteliti dengan sangat ketat oleh para ahli dari dalam dan dari luar kekristenan. Pakar John Dominic Crossan percaya, hanya kurang dari 20 persen dari apa yang kita baca di Injil secara orisinil berasal dari perkataan Yesus. Kendati ini pandangan skeptis, tidak dipersoalkan mengenai Yesus benar-benar pernah hidup. Kendati ada pandangan Crossan dan beberapa ahli lain, konsensus sebagian besar sejarahwan adalah catatan Injil yang memberi kita gambaran jelas mengenai Yesus Kristus. Mengenai apakah catatan Injil itu benar, ada artikel tersendiri (Lihat “Yesus.doc”), Jadi, kita akan melihat sumber-sumber non-Kristen untuk menjawab pertanyaan kita mengenai apakah Yesus ada (eksis). Catatan Awal Non-Kristen Jadi, sejarahwan abad pertama mana yang menulis mengenai Yesus, tapi tidak punya agenda kekristenan? Pertama-tama, mari kita lihat musuh-musuh Yesus. Orang Yahudi yang memusuhiNya punya keuntungan terbesar dengan cara meniadakan keberadaan Yesus. Tapi bukti memperlihatkan arah sebaliknya. “Beberapa tulisan Yahudi menceritakan kehidupan nyata manusia Yesus. Dua buku Gemara dari Talmud Yahudi mencatat Yesus. Kendati hanya disinggung sedikit kalimat yang dimaksudkan untuk menentang KeTuhanan Yesus, tulisan sangat awal Yahudi ini tidak memulai argumennya dengan pernyataan bahwa Dia bukan orang yang pernah hidup (bukan tokoh sejarah)[5] Flavius Josephus adalah sejarahwan terkemuka Yahudi yang mulai menulis pada zaman Romawi di tahun 67. Josephus, yang lahir hanya beberapa tahun setelah Yesus meninggal, tentu sangat tahu reputasi Yesus dimata orang Yahudi dan Romawi. Dalam tulisan terkenalnya, Jaman Kuno Yahudi (a.d. 93), Josephus menulis Yesus sebagai manusia nyata. ” Pada masa kehidupan Yesus, seorang yang suci, mungkin seperti itu Dia dipanggil, karena Dia melakukan hal-hal luar biasa, dan mengajar orang-orang, dan dengan gembira menerima kebenaran“. Dia dipercayai oleh banyak orang Yahudi dan Yunani. Dia adalah Mesias.”[6] Kendati ada perdebatan mengenai beberapa kata dari catatannya, terutama berkaitan dengan Yesus sebagai Mesias (para ahli yang skeptis berpikir bahwa orang Kristen menyisipkan kalimat ini), bisa dipastikan Josephus mengkonfirmasikan keberadaan (eksistensi) dari Yesus. Bagaimana dengan sejarahwan sekuler — mereka yang hidup di zaman itu tapi tidak punya motivasi religius? Saat ini, ada konfirmasi sedikitnya 19 penulis sekuler yang mencatat Yesus sebagai manusia nyata.[7] Salah satu sejarahwan terkemuka , Cornelius Tacitus, menegaskan bahwa Yesus telah menderita dibawah (pemerintahan Pontius) Pilatus. Tacitus lahir 25 tahun setelah Yesus wafat, dan dia melihat bagaimana penyebaran kekristenan mulai memberi dampak terhadap Roma. Sejarahwan Romawi menulis secara negatif mengenai Yesus dan orang Kristen, mengidentifikasi mereka, di tahun 115, sebagai ” ras manusia yang tidak disukai karena perilaku jahatnya, dan secara umum disebut Kristiani”. Nama itu diambil dari Kristus, yang pada pemerintahan Tiberius, menderita dibawah Pontius Pilatus, Penguasa Yudea.”[8] Fakta-fakta mengenai Yesus dibawah ini ditulis oleh sumber-sumber non-Kristen: Yesus dari Nazareth. Yesus hidup secara bijak dan saleh/suci. Yesus disalibkan di Palestina dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, pada saat Tiberius jadi kaisar ketika Paskah, dan disebut sebagai Raja Orang Yahudi. Yesus dipercaya oleh para muridNya telah mati dan bangkit dari kubur tiga hari kemudian. Para musuh Yesus mengakui Dia melakukan tindakan tidak-biasa (mukjizat) , yang mereka sebut sebagai sihir. Kelompok kecil murid Yesus berlipat ganda dengan cepat, meluas sampai mencapai Roma. Para murid Yesus menolak politeisme, hidup bermoral (suci), dan memuja Yesus sebagai ALLAH. Ahli teologi Norman Geisler mencatat : “ Penggambaran ini sangat cocok dengan apa yang ada di Perjanjian Baru.”[9] Semua di atas adalah catatan independen, religius dan sekuler, membicarakan manusia nyata yang cocok dengan Yesus di Injil. Ensiklopedia Britannica mencatat sejumlah tulisan sekuler sebagai bukti yang meyakinkan bahwa Yesus itu ada (eksis). Dituliskan, “Catatan-catatan independen ini membuktikan bahwa di zaman purba, bahkan oleh para musuh kekristenan tidak ragu akan Yesus sebagai tokoh sejarah (ada atau nyata)”.[10] Dampak Historis Perbedaan penting antara sebuah mitos dan manusia nyata adalah bagaimana tokoh itu memberi dampak historis. Contohnya, buku-buku telah ditulis dan film-film juga telah dibuat mengenai Raja Arthur dari Camelot dan Ksatria Meja Bundarnya. Karakter-karakter ini telah begitu melekat sehingga banyak orang percaya mereka pernah ada di zaman itu. Namun para sejarahwan, yang mencari tanda-tanda kehidupan mereka, tidak bisa menemukan dampak apapun dalam hukum, etika, atau agama. Sebuah kerajaan besar seperti Camelot tentunya akan meninggalkan jejaknya pada sejarah masa kini. Ketidakberadaan dampak historis ini mengindikasikan Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar hanyalah mitos saja. Sejarahwan Thomas Carlyle mengatakan, ” Tidak ada orang besar yang hidup sia-sia. Sejarah dunia adalah biografi orang besar.”[11] Seperti dicatat Carlyle, hanya orang yang benar-benar ada atau nyata, bukan mitos, yang memberi dampak pada sejarah. Sebagai orang yang pernah ada atau hidup, Alexander memberi dampak sejarah oleh penaklukan militernya, mengubah negara-negara, pemerintahan, dan hukum. Tapi apa dampak Yesus Kristus terhadap dunia kita? Pemerintahan Israel dan Romawi di abad pertama sebagian besar tidak tersentuh oleh kehidupan Yesus. Warga biasa kekaisaran Romawi tidak tahu Dia ada sampai bertahun-tahun kemudian setelah kematianNya, budaya Romawi juga sebagian besar tidak terpengaruh oleh ajarannya selama puluhan tahun, dan diperlukan beberapa ratus tahun sebelum pembunuhan orang Kristen di arena (Coliseum) jadi rekreasi nasional. Selain itu, dunia hanya tahu sedikit atau tidak sama sekali mengenai Dia. Yesus tidak pernah jadi panglima sebuah bala tentara. Dia tidak menulis buku atau mengubah hukum apapun. Para pemimpin Yahudi berharap menghapus ingatan mengenaiNya, dan tampaknya mereka akan berhasil. Namun, sekarang, Romawi kuno tinggal reruntuhan. Pasukan Kaisar dan kekuasaan imperial Romawi sudah lenyap. Bagaimana Yesus dikenang sekarang ini? Apakah dia masih punya pengaruh? Lebih banyak buku ditulis mengenai Yesus dibandingkan dengan tokoh lain dalam sejarah. Banyak negara menggunakan kata-katanya sebagai dasar bangunan pemerintahan. Menurut Durant, “Kebesaran Kristus adalah dimulainya demokrasi.”[12] Khotbah di bukitnya telah membentuk paradigma baru dalam etika dan moral. Sekolah-sekolah, rumah sakit, dan upaya kemanusiaan lain telah dibangun berdasarkan namaNya. Universitas Harvard, Yale, Princeton, dan Oxford adalah beberapa universitas dimana orang Kristen perlu diberi ucapan terima kasih karena sudah memulainya. Peningkatan peran perempuan di budaya barat, akar jejaknya bisa diusut sampai kepada Yesus. (Perempuan di zaman Yesus dipandang inferior dan tidak dilihat sebagai orang sepenuhnya sampai pengajaranNya diikuti) Perbudakan dihapuskan di Inggris dan Amerika juga karena pengajaran Yesus bahwa hidup manusia itu berharga. Mereka yang pernah mengalami ketergantungan pada obat, alkohol, pelacur, dan yang lainnya mencari tujuan hidup dan mengklaim Dia sebagai penjelasan perubahan hidup mereka. Dua miliar manusia menyebut diri mereka Kristen. Sementara sebagian orang Kristen hanya tinggal nama saja, tapi bagi yang lain terus memberi dampak terhadap budaya kita dengan mengajarkan prinsip-prinsip Yesus bahwa hidup itu berharga dan kita harus saling mengasihi. Yang paling menakjubkan, Yesus memberi semua dampak ini hanya dengan melakukan pelayananNya selama tiga tahun. Jika Yesus tidak ada (hidup nyata), orang akan heran bagaimana sebuah mitos mampu begitu besar mempengaruhi sejarah. Ketika sejarahwan H.G. Wells ditanya siapa yang meninggalkan warisan terbesar terhadap sejarah, dia menjawab,”Dengan tes ini, Yesus berada pada tempat pertama.”[13] Bukti-bukti terdokumentasi dan dampak historis menegaskan pada fakta bahwa Yesus itu ada (nyata). Jika Yesus benar-benar ada, kita juga bisa mengharapkan menemukan jejak kaki secara rinci dalam sejarah. Mitos tidak meninggalkan konfirmasi detil-detil semacam itu. Salah satu kunci bagi Durant dan para ahli lain adalah faktor waktu. Mitos dan legenda biasanya berkembang selama ratusan tahun — cerita George Washington tidak pernah bohong , sampai dua ratus tahun kemudian berubah jadi legenda. Berita mengenai kekristenan, di sisi lain, meluas terlalu cepat untuk bisa disebut sebagai mitos atau legenda. Jika Yesus tidak pernah ada (nyata), mereka yang menentang kekristenan akan langung menyebutNya sebagai mitos sejak semula. Tapi mereka tidak melakukannya. Bukti-bukti itu, bersama dengan catatan awal dan dampak historis Yesus Kristus, meyakinkan sejarahwan skeptis bahwa pendiri kekristenan itu bukan mitos atau legenda. Tapi ada juga pakar-pakar tentang mitos tidak yakin. Seperti Muggeridge, pakar dari Oxford, CS Lewis, sejak semula yakin Yesus tidak lebih dari sebuah mitos. Lewis pernah menyatakan, “Semua agama, karena itu, semua mitologi …. hanyalah ciptaan manusia — Kristus sama saja dengan loki.”[14] (Loki adalah dewa kuno Norwegia. Seperti Thor, tapi tanpa rambut kepangnya.) Sepuluh tahun setelah menyatakan Yesus sebagai mitos, Lewis menemukan rincian sejarah, termasuk dokumen-dokumen dari para saksi mata, telah membuktikan keberadaanNya. Yesus Kristus memberi keluasan dampak sejarah seperti gempa besar. Dan gempa bumi ini telah meninggalkan jejak lebih luas daripada Grand Canyon. Jejak ini berupa bukti-bukti yang meyakinkan para ahli bahwa Yesus benar-benar ada dan benar-benar memberi dampak pada dunia kita sejak 2.000 tahun lalu. Salah satu orang yang skeptis, yang berpendapat Yesus hanyalah mitos adalah wartawan Inggris, Malcolm Muggeridge. Namun dalam salah satu penugasannya ke Israel, Muggeridge berhadapan dengan bukti-bukti akan Yesus Kristus yang dia tidak tahu bukti itu ada. Ketika dia memeriksa tempat-tempat bersejarah — tempat kelahiran Yesus, Nazareth, tempat penyaliban, dan kubur yang kosong — perasaan keberadaan Yesus mulai muncul. Belakangan dia menyatakan: “Satu ketika saya ada di Tanah Suci untuk membuat tiga program televisi BBC mengenai Perjanjian Baru yang …. secara pasti menarik saya tentang kelahiran Yesus, pelayanNya, dan penyalibanNya. …saya jadi sadar bahwa pernah ada seseorang, Yesus, yang juga ALLAH.”[15] Beberapa pakar Jerman, yang sangat kritis, pada abad 18 dan 19 juga telah mempertanyakan eksistensi Yesus, menyebutkan bahwa tokoh kunci seperti Pontius Pilatus dan Imam Kepala Yosep Kayafas di catatan Injil tidak pernah dikonfirmasikan sebagai manusia nyata. Tidak ada jawaban sampai pertengahan abad 20. Tahun 1962, para arkeologi mengkonfirmasikan eksistensi Pilatus ketika mereka menemukan namanya ada dalam sebuah prasasti batu yang ditemukan. Hampir sama, keberadaan Kayafas tidak pasti sampai tahun 1990, ketika sebuah kotak berisi tulang-belulang ditemukan dengan namanya ada dikotak itu. Para arkeolog juga menemukan apa yang mereka percaya sebagai rumah Simon Petrus dan gua dimana Yohanes Pembaptis membaptis. Akhirnya, mungkin bukti sejarah paling meyakinkan akan keberadaan Yesus adalah pertumbuhan cepat kekristenan. Bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa Kristus? Bagaimana sekelompok nelayan dan pekerja lainnya menciptakan Yesus dalam beberapa tahun saja? Durant menjawab pertanyaan awal yang berasal darinya — apakah Yesus ada? — dengan kesimpulan ini: Beberapa orang sederhana itu jika saja mampu dalam satu generasi menciptakan satu pribadi yang sangat kuat dan menarik, mulia dalam etika, dan sangat inspiratif terhadap visi persaudaraan manusia, akan merupakan mukjizat yang jauh lebih besar dari yang tercatat di Injil. Setelah dua abad, kritikan keras akan kehidupan, karakter, dan pengajaran Kristus, tetap saja jelas dan menjadi bahan paling menarik dalam sejarah manusia barat. Putusan Para Ahli Clifford Herschel Moore, dosen di Universitas Harvard, mempertegas kesejarahan Yesus. “Kekristenan mengetahui Penyelamat dan Pengampun tidak seperti tuhan-tuhan lain yang sejarahnya terkontiminasi keimanan mitos. …Yesus adalah manusia historis, bukan karakter mitos. Tidak ada sedikitpun atau ada penipuan mitos yang masuk dengan sendirinya kepada orang percaya Kristen, imannya didasarkan secara positif, historis, dan fakta-fakta yang bisa diterima. ”[16] Beberapa, jika ada, sejarahwan yang serius setuju dengan pernyataan Ellen Johnson dan Bertrand Russell bahwa Yesus tidak nyata (ada). Dokumentasi luas mengenai kehidupan Yesus yang ditulis oleh para penulis masa kini, dampak besar pada sejarah, dan konfirmasi tak terbantahkan bukti sejarah telah membuat para ahli mengakui Yesus benar-benar ada (nyata). Mampukan mitos melakukan itu semua? Semua, kecuali beberapa pakar yang amat sangat skeptis menyatakan tidak. Dr. Michael Grant of Cambridge menulis, “Untuk menyimpulkannya, metode kritis modern telah gagal mendukung teori Yesus adalah mitos. Sudah berkali-kali dijawab kembali dan dituntaskan oleh pakar terkemuka. Dalam tahun-tahun terakhir ini tidak ada seorang ahli yang melontarkan pernyataan bahwa Yesus bukan tokoh historis (nyata).”[17] Sejarahwan Yale, Jaroslav Pelikan, mengatakan, “Apapun yang mungkin dipikirkan seseorang atau percaya mengenai Dia, Yesus dari Nazareth telah menjadi tokoh dominan dalam sejarah budaya Barat hampir selama dua puluh abad. … mulai dari kelahirannya, dimana sebagian besar manusia menandai kalendernya, atas namaNya jutaan orang mengutuki dan jutaan lainnya berdoa.”[18] Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian? Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Yohanes, dan yang lainnya. Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka kekristenan didirikan di atas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mukjizat seperti itu memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita. Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan? Klik di sini untuk melihat bukti-bukti untuk klaim yang paling fantastis yang pernah dibuat — kebangkitan Yesus Kristus! End Notes 1. Ellen Johnson and Larry King, “What Happens After We Die?” Larry King Live, CNN, April 14, 2005. 2. Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian (New York: Simon & Schuster, 1957), 16. 3. Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 553. 4. Ibid., 557. 5. D. James Kennedy, Skeptics Answered (Sisters, OR: Multnomah, 1997), 76. 6. The Gemaras are early rabbinical commentaries of the Jewish Talmud, a body of theological writings, dated a.d. 200–500.6 Quoted in Durant, 554. 7. Quoted in D. James Kennedy, Skeptics Answered, (Sisters Oregon: Multnomah Publishers Inc., 1997), 73. 8. Quoted in Durant, 281. 9. Norman Geisler and Peter Bocchino, Unshakable Foundations (Grand Rapids, MI: Bethany House, 2001), 269. 10. Quoted in Josh McDowell, Evidence That Demands a Verdict, vol. 1 (Nashville: Nelson, 1979), 87. 11. Quoted in Christopher Lee, This Sceptered Isle, 55 B.C.–1901 (London: Penguin, 1997), 1. 12. Will Durant, The Story of Philosophy (New York: Pocket, 1961), 428. 13. Quoted in Bernard Ramm, Protestant Christian Evidences (Chicago: Moody Press, 1957), 163. 14. Malcolm Muggeridge, Jesus Rediscovered (Bungay, Suffolk, U.K.: Fontana, 1969), 8. 15. David C. Downing, The Most Reluctant Convert (Downers Grove, IL: InterVarsity, 2002), 57. 16. Quoted in McDowell, 193. 17. Michael Grant, Jesus (London: Rigel, 2004), 200. 18. Jaroslav Pelikan, Jesus through the Centuries (New York: Harper & Row, 1987), 1 Permission to reproduce this article: Publisher grants permission to reproduce this material without written approval, but only in its entirety and only for non-profit use. No part of this material may be altered or used out of context without publisher’s written permission. Printed copies of Y-Origins and Y-Jesus magazine may be ordered at: www.JesusOnline.com/product_page © 2007 B&L Publications. This article is a supplement to Y-Jesus magazine by Bright Media Foundation & B&L Publications: Larry Chapman, Chief Editor.

SURAT PILATUS KEPADA KAISAR TIBERIUS

Ternyata selama masa pemerintahannya sebagai Gubernur Yudea, Pontius Pilatus pernah menulis sebuah surat kepada Kaisar Tiberius di Roma melaporkan mengenai aktivitas dari pelayanan Yesus. Surat ini ditulisnya pada tahun 32 AD. Berikut adalah isi suratnya : Kepada Yang Mulia Kaisar Tiberius ... Seorang anak muda telah muncul di Galilea dan atas nama Elohim yang mengutusnya, Dia telah berkhotbah dalam sebuah hukum yang baru, dengan perilaku yang rendah hati. Pada mulanya saya mengira tujuan-Nya adalah untuk menimbulkan gerakan revolusi rakyat untuk melawan pemerintahan Roma. Dugaan saya keliru, Yesus Orang Nazaret itu ternyata bergaul lebih akrab dengan orang Romawi daripada dengan orang Yahudi. Suatu hari saya memperhatikan, ada seorang anak muda di antara sekelompok orang, sedang bersandar pada sebatang pohon dan berbicara dengan tenang kepada kumpulan orang banyak yang mengelilingi-Nya. Orang-orang mengatakan kepada saya bahwa itulah Yesus. Terdapat perbedaan yang jelas antara Dia dan orang-orang yang mengelilingi-Nya. Dari rambut dan janggutnya yang pirang, Ia kelihatan seperti "Tuhan" (Lord). Ia berumur sekitar 30 tahun, dan saya belum pernah melihat orang dengan wajah sedemikian simpatik dan menyenangkan seperti Dia. Apa yang membuat Ia kelihatan begitu berbeda dengan orang-orang yang sedang mendengarkan-Nya adalah pada wajah-Nya yang ceria. Karena saya tidak ingin mengganggu-Nya, saya meneruskan perjalanan saya, tetapi saya menyuruh sekretaris saya untuk bergabung dengan mereka dan turut mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian sekretaris saya melaporkan bahwa belum pernah ia membaca karya-karya ahli filsafat manapun yang dapat disejajarkan dengan ajaran Orang itu, dan bahwa Orang itu (Yesus) sama sekali tidak membawa orang ke jalan yang sesat, dan tidak pula menjadi penghasut. Oleh karena itulah kami memutuskan untuk membiarkan-Nya. Ia bebas untuk melakukan kegiatan-Nya berbicara dan mengumpulkan orang. Kebebasan yang tidak terbatas ini menggusarkan orang-orang Yahudi dan menimbulkan kemarahan mereka. Ia tidak menyusahkan orang miskin, tetapi merangsang kemarahan orang-orang kaya dan para tokoh masyarakat. Kemudian saya menulis surat kepada Yesus, meminta Ia untuk diwawancarai dalam suatu pertemuan. Ia datang. Pada saat Orang Nazaret itu tiba, saya sedang melakukan jalan pagi. Dan ketika saya memperhatikan-Nya, saya begitu tertegun. Kedua kaki saya serasa dibelenggu oleh rantai besi yang terikat pada lantai batu pualam. Seluruh tubuh saya gemetar bagaikan seorang yang bersalah berat. Namun Ia tenang saja. Tanpa beranjak, saya begitu terpukau dengan orang yang luarbiasa ini beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan pada penampilan atau perilaku-Nya. Selama kehadiran-Nya saya menaruh hormat dan respek yang mendalam pada diri-Nya. Saya katakan kepada-Nya bahwa pada diri dan kepribadian-Nya terdapat sesuatu yang memancar dan menunjukkan kesederhanaan yang memukau, yang menempatkan Ia di atas para ahli filsafat dan cendekiawan masa kini. Ia meninggalkan kesan yang mendalam pada kami semua karena sikap-Nya yang simpatik, sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Saya telah meluangkan banyak waktu untuk mengamati aktivitas pelayanan menyangkut Yesus dari Nazaret ini. Pendapat saya adalah : Seseorang yang mampu mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan menenangkan gelombang laut, tidak bersalah sebagai pelaku perbuatan kriminal sebagaimana dituduhkan oleh orang banyak. Kami harus mengakui bahwa sesungguhnya Ia adalah Putra Elohim. Pelayan anda yang setia, Pontius Pilatus. Surat di atas tersimpan di Perpustakaan Kepausan di Vatikan, dan salinannya mungkin dapat diperoleh di Perpustakaan Kongres Amerika. Dari surat di atas, tahulah kita mengapa Pilatus "tidak berani" menjatuhkan vonis hukuman mati atas Yesus (Matius 27:24, Yohanes 18 : 31-40 dan 19 : 4,6 - 16)

PEREMPUAN ITU KU PANGGIL MAMA

Perempuan itu ku panggil Mama Yang setiap malam selalu terjaga saat hati sibuah hatinya sedang gelisah... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu sibuk di subuh hari untuk menyiapkan sarapan dan keperluan sibuah hatinya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengajariku untuk menjadi bijaksana,... Yang selalu mengajariku untuk selalu dekat dengan Sang Khalik... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu turut merasakan kesusahanku,.. Yang selalu barusaha memenuhi kebutuhanku... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengkhawatirkan keadaanku saat ku jauh,.. Yang selalu menanyaiku dengan penuh kasih saat ku murung... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat penyakit itu bersarang ditubuhnya dan kubisikan: mama izinkan aku untuk merawatmu dan menjagaimu... Perempuan itu ku panggil Mama Yang yang terbaring lamah di pembaringan... Perempuan itu ku panggil Mama Yang dengan lemah berusaha duduk di pembaringan dan mengatakan pesan terakhirnya kepadaku: "RIS MARI BERBAGI DENGAN MAMA DALAM HIDUPMU"... Perempuan itu ku panggil Mama Yang di saat-saat terakhir hidupnya masih memintaku untuk bernyanyi memuju Sang Khalik serta bertelut dan berdoa untuknya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang malam itu tarikan napasnya semakin berat.... Perempuan itu ku panggil mama Yang saat itu kubertelut di kakinya sambil memanjatkan doa: TUHAN KUMOHON KEBESARAN KASIHMU DAN MUJIZATMU UNTUK KESEMBUHAN DAN MEMBERI PANJANG UMUR BAGI MAMAKU TERCINTA... Perempuan itu ku panggil Mama Yang disaat-saat terakhir hidupnya ku bersujud di kakinya sambil menangis dan memeohon ampun atas semua dosa dan kesalahan yang pernah kubuat selama hidupku bersamanya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang mengatakan kepadaku: RIS MAMA CAPEK DAN MAMA INGIN ISTIRAHAT... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kubisikan: MAMA, KALAU MAMA CAPEK BERISTIRAHATLAH MAMA......... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat detik - detik terakhir tarikan napasnya, aku masih tetap besujud di kakinya sambil meneteskan air mataku ke kakinya sambil berkata: MAMAKU, TOLONG RASAKAN BETAPA AKU SANGAT MENYAYANGI MAMA LEWAT HANGATNYA AIR MATAKU YANG MENETES DI KAKI MAMA INI... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kasih sayangku kepadanya dikalahkan oleh kasih sayang Sang khalik kepada mamaku, sehingga saat itu juga mamaku menghembuskan napasnya yang terakhir untuk pergi menghadap Sang Khalik, untuk pergi meninggalkan kami selamanya dan untuk mengakhiri segala penderitaan hidupnya di dunia ini... Perempuan itu ku panggil Mama yang disaat tubuhnya terbujur kaku dan dingin, kucium mamaku sambil berbisik: MAMAKU TERSAYANG, KASIH SAYANG MAMA KEPADAKU AKAN TETAP MENJADI BINTANG DI DALAM HATIKU YANG AKAN TETAP BERSINAR DAN SINAR KASIH SAYANG ITU AKAN TETAP KUPANCARKAN KEPADA SEMUA ADIK - ADIKU, SAUDARA - SAUDARAKU, DAN SEMUA ORANG YANG BERADA DI SEKITARKU AGAR MEREKA TAHU BAHWA MAMAKU ADALAH FIGUR YANG TERBAIK DAN YANG TELAH MENDIDIKKU MENJADI MANUSIA YANG BIJAKSANA... Perempuan itu ku panggil Mama yang selalu menyebut namaku di dalam setiap doanya Perempuan itu kupanggil Mama Yang kini menetap disurga bersama Sang Khalik yang mengasihinya... TERIMA KASIH MAMAKU TERCINTA, ATAS SEMUA KEHIDUPAN YANG INDAH, YANG TELAH KAU HADIRKAN SELAMA ENGKAU BERSAMAKU DI DUNIA INI........ LIWAT HEMBUSAN NAPASKU SERTA DOAKU, KU TITIPKAN CIUM YANG PALING MANIS UNTUK MAMA DI SURGA SANA....... (Untuk mengenang mamaku yang meninggal tanggal 5 Mei 2009 di Ambon) Anakmu Richard Sahetapy yang Kau panggil RIS

SENG ADA MAMA LAI

SU SENG ADA MAMA LAI PAR BIKING COLO - COLO SU SENG ADA MAMA LAI PAR TUANG PAPEDA DI SEMPE SU SENG ADA MAMA LAI PAR ATOR MAKAN DI MEJA MAKAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR CUCI BETA PUNG PAKIAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR DENGAR BETA PUNG SUSAH SU SENG ADA MAMA LAI PAR JAGA BETA WAKTU SAKIT MAMAE.... PAR APA LAI BETA PULANG KA RUMAH TUA KALO MAMA SU SENG ADA PAR LIA BETA PAR APALAI BETA DUDU DI MEJA MAKAN KALO MAMA PUNG TAMPA GARAM SU SENG ADA PAR SAPA LAI BETA MAU MANYANYI KALO MAMA SU SENG ADA PAR DENGAR... SIOOO MAMA E.... MAMA SU JAUH DARI BETA DENG BASUDARA MAMA SU TENANG DI TETEMANIS PUNG PANGKO TAPI MAMA PUNG PASANG DENG MAMA PUNG DOA TETAP JADI BINTANG YANG BERSINAR DI BETA PUNG HATI SELAMA HIDOP DI DUNIA. JUST FOR MY LOVE MAMA

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

Yesus Manis