21 Desember 2009

RESPON TERHADAP KELAHIRAN KRISTUS

Sumber : Elia Stories

oleh: Denny Teguh Sutandio

“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk 2:8-19)

Sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal, yaitu hari kelahiran Tuhan Yesus. Respons terhadap kelahiran Tuhan Yesus beraneka ragam. Yang pasti umat Tuhan pasti bersukacita menyambut kelahiran Kristus, namun bagi orang lain bukan merupakan sukacita sejati. Hal itu semua dilatarbelakangi oleh motivasi yang beres/murni Vs tidak beres/tidak murni. Mereka yang bersukacita atas kelahiran Kristus sebenarnya dilatarbelakangi oleh motivasi yang tulus dari umat-Nya karena mereka menyadari Sang Penyelamat telah lahir yang nantinya mati dan bangkit demi manusia berdosa. Sebaliknya, mereka yang tidak bersukacita atas kelahiran Kristus dilatarbelakangi oleh motivasi yang kurang tulus. Mereka hendak memanfaatkan momen kelahiran Kristus demi keuntungan pribadi mereka sendiri. Realitas ini ternyata dijumpai baik di seputar kelahiran Tuhan Yesus sampai zaman sekarang. Kesemuanya itu menyangkut lahirnya atau kehadiran Tuhan Yesus yang berinkarnasi di bumi ini. Mari kita menelusuri jejaknya beserta implikasi praktisnya.

Respons terhadap Kelahiran Tuhan Yesus

Ketika kita kembali menelusuri seputar kelahiran Tuhan Yesus di Alkitab, kita mendapati respons orang-orang mendengar berita lahirnya Tuhan Yesus. Mari kita membaca Lukas 2:8-20 dan Matius 2. Matthew Henry di dalam tafsirannya menyebutkan bahwa para gembala adalah orang-orang pertama yang menaruh perhatian setelah Kristus lahir.[1][1] Pada saat itu, mereka menjaga kawanan ternak. Albert Barnes dan Adam Clarke di dalam tafsiran mereka menyebutkan bahwa kejadian ini menjadi alasan bahwa penempatan tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Tuhan Yesus itu tidak tepat. Mengapa? Karena di situ, bulan Desember suhu udaranya dingin, sehingga tidak mungkin gembala dan ternak bisa berkeliaran di padang di musim dingin. Kembali, ketika sedang menjaga kawanan ternak, tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan memberitakan sukacita besar bagi semua bangsa, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk. 2:11) Kemudian malaikat tersebut menunjukkan lokasinya. Setelah itu, para malaikat memuji Allah (ay. 14). Sesudah itu, para gembala ke Betlehem sesuai dengan petunjuk malaikat dan ketika bertemu dengan Maria dan Yusuf, para gembala menceritakan semua yang dikatakan malaikat. Akibatnya, semua orang heran mendengar apa yang dikatakan oleh para gembala (ay. 18). Segera setelah itu, Alkitab mencatat dua respons. Respons pertama adalah respons Maria yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (ay. 19) Dan respons kedua adalah respons para gembala (ay. 20).

Sekarang, kita beralih ke Injil Matius 2. Injil Matius 1 mencatat kelahiran Tuhan Yesus. Setelah itu, di pasal 2 disusul dengan respons orang-orang setelah mendengar berita kelahiran Kristus. Respons ketiga dan keempat yang akan kita soroti adalah respons para orang Majus dan raja Herodes. Kedatangan para orang Majus ini, menurut Matthew Henry, dua tahun setelah kelahiran-Nya. Di dalam pasal ini di ayat 2, orang-orang Majus yang mendengar berita kelahiran Kristus langsung bertanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Kita mungkin bertanya-tanya, siapakah orang Majus itu? Matthew Henry dalam tafsirannya menjelaskan bahwa majus di dalam Injil disebut Magoi (ahli sihir).[2][2] Ada beragam tafsiran mengenai siapakah orang majus ini. Henry menjelaskan dua tafsiran. Pertama, bagi orang Persia, para Magi merupakan ahli filsafat dan imam. Mereka tidak akan mengakui siapa pun sebagai raja, jika tidak termasuk dalam kelompok Magi ini. Ada juga yang menyebut Magi ini sebagai orang yang berurusan dengan keahlian-keahlian terlarang, seperti tukang sihir (seperti Simon di Kis. 8:9, 11 dan Elimas di Kis. 13:6, 8). Henry sendiri tidak mengatakan mana yang benar, namun beliau memaparkan tiga fakta penting yang pasti tentang siapakah orang majus itu. Pertama, orang Majus ini tentu tidak termasuk bangsa Israel. Kedua, mereka merupakan cendekiawan yang berurusan dengan ilmu yang membutuhkan penyelidikan yang saksama. Ketiga, mereka datang dari Timur yang terkenal dengan tenung (Yes. 2:6). “Tanah Arab disebut Tanah Timur (Kej. 25:6), sedangkan bangsa Arab disebut orang-orang dari sebelah timur (Hak. 6:3).”[3][3] Geneva Bible Translation Notes menafsirkan orang majus ini sebagai “wise and learned men” (orang-orang yang bijaksana dan terpelajar).

Lalu, bagaimana cara para orang Majus itu mencari kelahiran Kristus tersebut? Dari penjelasan tafsiran Matthew Henry, saya menyimpulkan bahwa mereka bisa mencari kelahiran Kristus tersebut melalui tanda di langit yaitu berupa bintang (Mat. 2:9) yang tampak berhenti agak rendah di langit seperti sebuah komet atau lebih mungkin sebuah meteor dan itu terjadi tepat di atas Yudea. Karena seorang cendekiawan, maka mereka menafsirkan bahwa tanda bintang yang tidak biasa ini menandakan suatu peristiwa yang tidak biasa juga.[4][4] Yang menjadi pertanyaan kita kemudian, mengapa mereka melaksanakan pencarian itu di Yerusalem? Henry menafsirkan bahwa mereka datang dari Timur ke Yerusalem, karena Yerusalem merupakan ibu kota Yudea di mana bintang itu bersinar dengan terang tersebut.[5][5]

Kedatangan para orang majus ke Yerusalem mengakibatkan raja Herodes panik (2:3-3:18). Siapa Herodes? Herodes adalah orang Edom yang diangkat menjadi raja atas Yudea oleh Kaisar Augustus dan Antonius, penguasa Romawi waktu itu. Dia sangat jahat dan keji, meskipun demikian, ia digelari Herodes yang Agung.[6][6] Jika kita menelusuri reaksi raja Herodes, kita seolah-olah terkecoh dengan respeknya akan kelahiran Kristus, namun setelah kita mengerti totalitas ceritanya, maka kita akan benar-benar mengerti siapa raja Herodes itu. Pada waktu itu, raja Herodes memanggil para imam kepala dan ahli Taurat untuk menanyakan tentang lahirnya Mesias itu dan mereka memberitahukan bahwa Mesias lahir di Betlehem (ay. 4-6). Setelah itu, Herodes memanggil para orang majus yang sudah mengetahui tanda bintang itu. Perhatikan apa yang Herodes katakan kepada orang majus, “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.” (ay. 8) Perhatikan empat kalimat yang saya garis bawahi. Herodes berkata kepada orang majus agar mereka menyelidiki tempat kelahiran Mesias, supaya dia datang menyembah Mesias. Tetapi, benarkah motivasi Herodes itu tulus? TIDAK. Kebusukan motivasi Herodes sudah Tuhan ketahui, sehingga Ia menyuruh para orang majus untuk tidak kembali kepada Herodes (ay. 12) dan memang benar Herodes memang bermotivasi busuk ingin menyingkirkan Mesias, karena kehadiran Mesias bisa menganggu otoritasnya sebagai raja Yudea. Demi mencapai tujuannya, ia memerintahkan membunuh semua anak di bawah umur 2 tahun di Betlehem (ay. 16-18).

Kembali ke kisah orang majus. Setelah mendengar kata-kata dari Herodes, maka para orang majus melanjutkan perjalanan menyelidiki arah bintang Timur itu dan bintang Timur itu akhirnya berhenti tepat di palungan tempat Kristus lahir. Setelah sampai tujuan, maka Alkitab mencatat bahwa orang majus itu bersukacita (ay. 10). Setelah itu, mereka menyembah Dia dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu: emas, kemenyan, dan mur (ay. 11).

Respons terhadap Kelahiran Tuhan Yesus dan Implikasinya

Setelah menyimak empat respons terhadap kelahiran Tuhan Yesus baik dari Lukas 2 maupun Matius 2, maka sekarang kita akan menarik implikasi praktisnya. Tiga respons pertama (Maria, para gembala, dan para orang majus) adalah respons umat Tuhan terhadap berita kelahiran Kristus dan respons terakhir (raja Herodes) terhadap berita kelahiran Kristus menunjukkan respons manusia duniawi.

Respons umat Tuhan terhadap berita kelahiran Kristus adalah:

Pertama, bersukacita. Alkitab mencatat baik para gembala maupun para orang majus sangat bersukacita ketika mereka mendengar kabar kelahiran Kristus. Jika para gembala bersukacita akan kelahiran Kristus itu wajar, karena mereka diperkirakan adalah orang-orang Yahudi, namun jika para orang majus yang bersukacita, itu merupakan hal unik. Mengapa? Karena para orang majus bukanlah seorang yang mempelajari Taurat Musa. Di sinilah, anugerah Allah tiba pada orang non-Yahudi di momen kelahiran Kristus. Jika kita bandingkan dengan reaksi orang-orang Yahudi, hal ini sungguh aneh. Pada saat kelahiran Kristus di Betlehem, sedikit sekali orang-orang Yahudi yang mengetahui bahkan merayakannya, padahal mereka sangat dekat dengan tempat di mana Kristus lahir. Berkenaan dengan perbandingan dua realitas ini, Matthew Henry menafsirkan, “Orang Yahudi tidak peduli dengan Kristus, tetapi orang-orang dari bangsa bukan-Yahudi ini mencari keterangan mengenai diri-Nya. Perhatikanlah, sering kali mereka yang terdekat dengan sumber justru adalah yang paling jauh dari tujuan (Mat. 8:11-12). Rasa hormat yang ditunjukkan kepada Kristus oleh orang-orang dari bangsa bukan-Yahudi ini merupakan pertanda dan contoh indah tentang apa yang akan terjadi ketika mereka yang jauh akan dibuat menjadi dekat oleh Kristus.”[7][7]

Bagaimana dengan kita? Karena setiap tahun merayakan Natal, maka Natal bukan lagi momen yang indah, karena Natal sudah menjadi rutinitas. Sering kali Natal menjadi momen di mana kita melupakan inti Natal sesungguhnya. Kita sibuk dengan merias pohon Natal, gereja sibuk mengadakan Christmas Carol, menyelenggarakan kebaktian Natal, dll. Hal-hal tersebut tentu tidak salah, tetapi terlalu memfokuskan pada hal-hal demikian lama-kelamaan akan mengakibatkan kita menjadi kehilangan makna Natal sesungguhnya. Kita bersukacita bukan karena Kristus yang lahir, tetapi karena semaraknya kebaktian Natal, yang lebih parah lagi, karena semaraknya hiasan Natal di gereja dan toko-toko. Sukacita yang kita tunjukkan karena kelahiran Kristus seharusnya ditunjukkan bukan melalui gegap gempita sebuah perayaan Natal atau hiasan Natal di gereja, namun melalui kerelaan kita mewartakan inti berita Natal itu kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Ingatlah, Tuhan memperingatkan kita melalui para orang majus (non-Yahudi) bisa mengetahui tempat kelahiran Kristus bahkan menyembah-Nya bahwa Ia menginginkan kita merayakan kelahiran-Nya dengan mewartakan Injil kepada mereka yang belum percaya. Natal dan Injil adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Natal tanpa Injil menjadi Natal rutinitas dan yang lebih parah lagi menjadi Natal humanis egois yang jauh dari esensi Natal sesungguhnya.

Kedua, merenungkan. Setelah heran mendengar perkataan para gembala tentang berita yang mereka dengar dari para malaikat, maka Alkitab mencatat respons Maria adalah menyimpan hal tersebut dan merenungkannya. Ya, merenungkan Natal dan artinya adalah sebuah tindakan yang Tuhan inginkan. Kita tidak hanya cukup bersukacita merayakan kelahiran Kristus, namun kita juga harus merenungkan makna kelahiran Kristus itu. Kelahiran Kristus yang disebut inkarnasi (Allah menjadi manusia) adalah sebuah momen agung yang tidak ada bandingannya yang Allah kerjakan bagi umat-Nya. Mengapa? Karena Allah sendiri menjadi manusia. Orang-orang non-Kristen menjebak Kekristenan dengan mengatakan bahwa manusia tidak mungkin menjadi Allah. Hal tersebut memang benar. Namun yang mereka tangkap itu salah. Tuhan Yesus bukan manusia yang dijadikan Allah, namun Allah sendiri yang menjadi manusia. Ketika Sang Pencipta menjadi ciptaan, itulah momen di mana Allah rela membatas diri agar dapat dikenal oleh umat-Nya. Itulah bukti imanensi Allah, Allah yang dekat dengan umat-Nya. Semua agama di luar Kristen hampir tidak ada yang memiliki konsep imanensi Allah di mana Ia dekat dengan umat-Nya. Meskipun ada agama yang mengajarkan bahwa Allah dekat dengan umat-Nya, namun sayangnya, itu hanya konsep dan tidak ada bukti kuat yang menunjukkan hal tersebut. Tetapi puji Tuhan, Alkitab berkata bahwa Ia dekat dengan umat-Nya dan hal tersebut dibuktikannya dengan menjelmanya Allah sebagai manusia di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Bukankah ketika kita merenungkan agungnya Natal ini seharusnya membuat kita makin bersyukur atas anugerah-Nya?

Ketiga, menyembah Dia. Alkitab tidak mencatat respons menyembah Kristus dari para gembala, namun sebaliknya Alkitab mencatat bahwa para orang majus yang datang menyembah setelah menemui bayi Yesus (Mat. 2:11). Dari peristiwa ini, kita belajar prinsip penting bahwa Natal identik dengan penyembahan kepada Kristus (atau berpusat kepada Kristus). Natal yang dipisahkan dari penyembahan kepada Kristus adalah Natal yang sia-sia dan yang lebih fatal lagi menjadi Natal humanis atheis. Dewasa ini, kita menjumpai berita Natal sudah mulai diselewengkan oleh beberapa gereja baik dari gereja arus utama maupun gereja kontemporer yang pop. Gereja arus utama menekankan aspek sosial dari Natal, sehingga Injil Kristus sejati jarang ditekankan. Aspek sosial tidaklah salah, namun terlalu menekankan aspek sosial lebih daripada Injil Kristus itu bisa berbahaya. Sebaliknya, beberapa gereja kontemporer yang pop menekankan aspek materialistis dari Natal. Mereka mengajar bahwa ketika Raja segala raja lahir, maka anak-anak Raja akan diberkati dan menjadi kaya, kemudian jemaat serentak bersuara, “Haleluya.” Sebenarnya dua berita Natal yang didengungkan oleh aliran-aliran kurang bertanggungjawab tersebut seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya memberitakan kembali Kristus di hari Natal. Natal yang berpusat kepada Kristus mengakibatkan hidup kita pun berpusat kepada Kristus, sebagaimana penginjilan yang berpusat kepada Allah mengakibatkan gaya hidup orang yang bertobat juga berpusat kepada Allah. Will Metzger mengatakan, “Mereka yang diselamatkan melalui penginjilan yang berpusat kepada Allah dan berorientasi pada anugerah akan memiliki kerangka dasar yang ajaib untuk suatu kehidupan Kristen yang dikuduskan dengan berpusat pada Allah, dan berorientasi pada anugerah.”[8][8] Bagaimana dengan kita, khususnya para pengkhotbah mimbar? Apakah Anda masih memberitakan Natal dengan berpusat kepada Kristus? Ataukah Anda masih memberitakan hal-hal yang sebenarnya kurang berkaitan dengan Natal? Biarlah Tuhan menguji dan membakar hati Anda kembali untuk memberitakan Kristus di hari Natal, karena itu inti Natal.

Keempat, memberi persembahan kepada-Nya. Dari ketiga respons, Alkitab hanya mencatat bahwa para orang majus lah yang memberi persembahan kepada Kristus, yaitu: emas, kemenyan, dan mur (Mat. 2:11b). Ada yang menafsirkan bahwa ketiga jenis persembahan itu bukti/tanda bahwa Kristus adalah Raja, Imam, dan Nabi. Apa pun arti ketiga jenis persembahan itu, satu hal yang dapat kita pelajari adalah respons orang majus terhadap Kristus yaitu memberi persembahan kepada-Nya. Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa justru orang non-Yahudi yang menghormati dan menyembah-Nya bahkan memberi persembahan yang tentu tidak murah harganya kepada-Nya. Ketika mereka memberi persembahan kepada-Nya, tentu lahir dari hati yang tulus ingin menyembah dan memuliakan-Nya. Dengan kata lain, selain sebagai momen yang memberitakan Kristus, Natal juga sebagai momen kita memberi persembahan kepada-Nya. Tuhan tidak menuntut kita memberi persembahan yang mahal. Tuhan menuntut ketulusan hati kita di dalam memberi persembahan kepada-Nya di saat Natal. Apa yang harus kita persembahkan? Tuhan menuntut hati dan ketaatan kita. Ketika kita mempersembahkan hati kita kepada-Nya, maka seluruh hidup kita akan menjadi berubah di dalam proses pengudusan yang Roh Kudus kerjakan. Sudahkah kita rela dan terus-menerus taat memberi persembahan kepada-Nya berupa hati kita? Ketika dunia menawarkan dan menjalankan konsep bermuka dua dan tidak tulus/murni hatinya, maka sudah seharusnya orang Kristen (anak Tuhan) memiliki hati yang murni di hadapan-Nya. Hati yang murni mengakibatkan seluruh pikiran, perkataan, tingkah laku, gaya hidup, dan tindakan pun murni. Tidak ada dualisme di dalam hati umat Tuhan. Hal ini sangat sulit saya jumpai di zaman postmodern ini. Biarlah kita dipakai Tuhan menjadi berkat bagi sesama kita melalui kemurnian hati kita.

Respons manusia duniawi terhadap kelahiran Kristus:

Pertama, memanfaatkan situasi demi keuntungan sendiri. Raja Herodes ketika mendengar berita kelahiran Kristus langsung memanggil para imam kepala dan ahli Taurat serta para orang majus untuk bertanya tentang tanda kelahiran Kristus. Ia berkata bahwa ia ingin menyembah Kristus sama seperti para orang majus setelah mengetahui tanda bintang itu. Benarkah motivasinya tulus? TIDAK. Alkitab mencatat bahwa Tuhan mengetahui motivasi busuknya itu, maka Ia menyuruh para orang majus tidak kembali kepada Herodes (Mat. 2:12). Reaksi Herodes tidak ada bedanya dengan reaksi beberapa orang dunia (bahkan tidak terkecuali Kristen di dalamnya). Momen Natal bukan saatnya merenungkan, bersukacita, menyembah-Nya, dan memberi persembahan kepada-Nya, malahan momen Natal dipakai untuk mengeduk keuntungan pribadi. Hal ini ditandai dengan maraknya sale di momen Natal. Momen Natal biasanya dipakai oleh banyak toko di seluruh dunia untuk menggelar diskon sebesar-besarnya atau sale. Dari tindakan ini, banyak toko di mal meraup keuntungan besar. Seolah-olah orang non-Kristen melihat Natal identik dengan sale dan untung besar.

Kedua, meminimalkan berita kelahiran Kristus. Karena marah dengan para orang majus yang tidak kembali ke Herodes, maka Herodes memerintahkan untuk membunuh semua anak yang berusia di bawah 2 tahun di seluruh Betlehem dan sekitarnya (Mat. 2:16). Tindakannya ini adalah tindakan yang dilatarbelakangi oleh motivasi agar tidak ada yang bisa menggeser otoritasnya sebagai raja. Ambisi pribadi mengakibatkan seseorang melakukan segala cara. Tindakan ini juga terjadi di dalam zaman kita. Dilatarbelakangi oleh presuposisi bahwa semua agama itu sama dan membawa damai, maka orang-orang non-Kristen (atau orang-orang “Kristen”) yang sebenarnya tidak mengerti makna Natal sesungguhnya (hanya mengerti Natal secara sebagian atau mendengar dari orang Kristen yang tidak mengerti inti Natal sesungguhnya) biasanya meminimalkan pemberitaan inti Natal. Kita bisa melihat minimnya pemberitaan inti Natal ini di stasiun televisi. Bukan sesuatu yang baru, jika di TV, kita melihat beberapa stasiun TV menampilkan ucapan selamat Natal yang berintikan damai bagi sesama. Hal ini tentu tidak salah, namun bukan inti Natal sesungguhnya. Jika Natal berintikan damai bagi sesama, apa bedanya Kekristenan dengan agama lain? Mungkin hal inilah (semua agama itu sama) yang hendak disodorkan oleh pemilik stasiun TV baik yang Kristen maupun non-Kristen. Benarkah ajaran damai bagi sesama itu? Para malaikat berkata memuji Tuhan di dalam Lukas 2:14, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Di ayat ini, ada dua konsep yang hendak ditekankan oleh para malaikat berkenaan dengan kelahiran Kristus. Kelahiran Kristus membawa kemuliaan bagi Allah dan sekaligus damai sejahtera bagi manusia pilihan-Nya (umat-Nya). Dengan kata lain, Natal berkaitan erat dengan kemuliaan Allah dan damai sejahtera bagi umat-Nya. Alkitab tidak mencatat bahwa Natal itu membawa damai bagi sesama, namun Alkitab mencatat bahwa Natal memberi damai sejahtera bagi manusia pilihan (umat)-Nya di samping kemuliaan Allah.

Setelah kita menyimak dua respons terhadap kelahiran Kristus, apa yang menjadi respons kita terhadap kelahiran Kristus? Tuhan menginginkan kita meneladani sosok Maria, para gembala, dan para orang majus ketika meresponi kelahiran Kristus, yaitu: bersukacita, merenungkan, menyembah-Nya, dan memberi persembahan kepada-Nya. Itulah respons yang benar dari umat-Nya kepada Pribadi yang telah mencipta dan menebus mereka. Biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita di dalam menyambut Natal dan inti Natal yaitu Kristus.

Amin.

Soli Deo Gloria.

[1] Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14 (Surabaya: Momentum, 2007), hlm. 24.

[3] Ibid., hlm. 26.

[4] Ibid., hlm. 26-27.

[5] Ibid., hlm. 28.

[6] Ibid., hlm. 25.

[7] Ibid., hlm. 25-26.

[8] Will Metzger, Beritakan Kebenaran: Injil yang Seutuhnya bagi Pribadi yang Seutuhnya oleh Pribadi-pribadi yang Seutuhnya (Surabaya: Momentum, 2005), hlm. XIV.


Gadis Korek Api

Sumber : Come and Follow Jesus
KOLOSE 3:12
"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran."

Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" "Ibu, belilah korek api ini." "Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak."

Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu. Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya.

Ketika akan menyeberangi jalan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaaaas!"

Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan.

Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak laki-laki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus."

Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.

Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.

Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.

Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padam tungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.

Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!

Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.

Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya."

Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin lagi. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.

"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melompat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' " Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."

Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang hari. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahan-lahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" "Ke tempat Tuhan berada."

Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang.

Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini." "Cepat panggil dokter!"

Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.

MATIUS 5:7
"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."
--------------------

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.

Sumber : Come and Follow Jesus
Peristiwa natal selalu memiliki nuansa istimewa dalam hidup kebanyakan kita sebagai orang Kristen. Ada saat istimewa, ada makanan istimewa, ada perhatian istimewa, ada hadiah istimewa. Natal telah menjadi suatu peristiwa dimana kita semua merasakan keistimewaannya.

Bulan Desember telah tiba dan semua kita pasti bersukacita. Tidak terasa kita memasuki hari Natal ditahun 2009. Hari Natal adalah hari yang sangat dinantikan oleh setiap kita, dimana kita memperingati hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Mesias yang sejak lama telah dinanti-natikan dimana dunia sangat membutuhkan-Nya. Mari kita renungkan bahwa saat Tuhan Yesus lahir, Nama-nya berkuasa bahkan disebut orang sebagai Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja damai.

Orang menyebutNya sebagai Penasehat ajaib karena Tuhan Yesus adalah Sang Penasehat hidup kita. Setiap nasehat dan tuntunan-nya akan membawa kebaikan bagi hidup kita. Tidak seorangpun didunia ini seperti Tuhan Yesus, Dia adalah Penasehat ajaib. Nama Yesus adalah Allah yang perkasa, tidak ada kuasa yang dapat menandingi kuasa-Nya dan kuasa-Nya tidak terbatas. Allah akan memerintah dunia ini dengan segala keperkasaan-Nya. Segala yang ada dilangit bahkan yang ada dibumi dan dibawah bumi ada dibawah kekuasaan-Nya , dan Ia tidak pernah berubah. Tuhan Yesus adalah Bapa yang kekal, Ia sangat mengasihi kita. Tuhan Yesus disebut Raja damai, Mesias yang dinanti-nantikan. Tuhan Yesus lahir membawa pendamaian antara Allah dan manusia, juga damai bagi setiap kita. Ingat ! bahwa kelahiran Kristus bukan hanya pada bulan Desember saat kita merayakan Natal, tetapi setiap saat kita dapat mengundang Yesus Kristus hadir didalam hati kita, supaya kita dapat merasakan damai sejahtera-Nya.

Peristiwa Natal sesungguhnya istimewa, tetapi bukan sekedar kita berkumpul bersama keluarga atau berpesta pora. Keistimewaan Natal yang sesungguhnya adalah pada kesadaran diri kita bahwa Yesus Kristus hadir didunia ini untuk melakukan banyak perkara yang kita butuhkan. Ia adalah sumber jawaban dari segala perkara yang kita butuhkan. Ia adalah hukum yang menjadi dasar bagi kita untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan kehendak Allah.

Yesus Kristus hadir untuk memberikan penghiburan yang tak terbatas. Ia hadir tidak untuk memutuskan buluh yang terkulai, tidak juga untuk memadamkan sumbu yang telah pudar. Ia hadir untuk menegakkan kembali segala sesuatu yang telah layu dan memjiarkan kembali cahaya yang pudar. Ia adalah Allah sumber kemenangan.

Sepanjang tahun 2009 kita mengalami krisis damai sejahtera. Nyatanya ada yang mengalami sejahtera tanpa damai, ada pula yang mengalami damai tanpa sejahtera. Pertentangan, pertikaian, bencana alam, semuanya membuat kita jadi pesimis. Belum lagi kita berbicara tentang kekerasan yang terjadi dalam berbagai bentuk, diberbagai wilayah di tanah air, termasuk kekerasan horizontal yang terkadang menggunakan agama untuk melegitimasi diri. Maka terjadilah ironi. Orang yang mengejar damai sejahtera makin kehilangan damai sejahtera. Damai sejahtera dikejar dengan mengorbankan sesama, dan juga mengorbankan alam lingkungan yang kemudian menghasilkan reaksi balik. Ketika sedama protes, terjadi konflik horizontal. Ketika alam lingkungan protes, terjadi bencana alam. Sekarang protes alam yang berupa bencana itu makin mengglobal dan mengancam seluruh kehidupan pada planet bumi sendiri.

Natal memberikan bagi kita pengharapan untuk menyikapi seluruh kemelut yang terjadi. Sebab Natal adalah pengumuman tentang campur tangan Tuhan yang menghadirkan damai sejahtera di bumi. Kita yang haus memberi diri sebagai alat Tuhah untuk menghadirkan damai sejahtera itu, dengan mulai dari diri kita sendiri, sehingga pada gilirannya kita menjadi berkat bagi sesama kita.

Mari jadikan Natal sebagai kenyataan bahwa Roh Kudus memberikan damai sejahtera dan sukacita. Sebagai kesempatan untuk berbagi damai sejahtera dan sukacita dengan sesama, tanpa memandang batas manusiawi seperti budaya, ras, bahkan agama. Sebab Natal adalah pernyataan dari ALLAH sendiri, bahwa IA membuka tangan untuk menyambut semua orang yang datang kepada-NYA, siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun, sebab sesungguhnya Tuhan itu baik bagi semua. mari kita Persiapkan Hati & Pikiran Untuk Sambut Hari Kelahiran Yesus Kristus Dengan Sukacita & Ucapan Syukur.

Jesus Love U All
--------------------

Arti Natal

Sumber : Come and Follow Jesus
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain.

Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya.

"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. "Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.

"Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.

"Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan.

Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali.

Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

"Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman."

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi.

Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut

Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,

"Sekarang saya mengerti," bisiknya dengan terisak.

"Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."

Saudaraku, dengan jalan menjadi manusia-lah, Tuhan Yesus rela melalui jalan penderitaan hingga ke Kalvari lalu memberikan nyawa-Nya untuk menebus dosa semua manusia, anak-anak yang dikasihi-Nya, kita yang seharusnya mati didalam pelanggaran kitakini dapat hidup didalam Kasih Karunia-Nya yang ajaib.

mari sambut Kasih Kristus yang sudah teramat besar untuk kita...mari menjadi pelaku Firman dan bersinar di tengah-tengah dunia

YOHANES 3:16
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
-----------------------------------------------------------------------------------------
English Version

One time, there was a man who thinks of Christmas as a superstition. He was not a miser. He is a man who is kind and sincere, loyal to his family and clean behavior toward others.

But he did not believe in the birth of Christ as told every church on Christmas day. He really did not believe it.

"I'm really sorry if I make you sad," the man said to his wife who diligently go to church. "But I can not understand why God would become human. That is something that does not make sense to me"

On Christmas Eve, his wife and his children went to the midnight service at church. The man refused to accompany them.

"I do not want to be hypocritical," he said.

"I'd rather stay at home. I'll wait until the home."

Shortly after the family left, the snow began to fall. He looked out the window and saw the snowflakes were falling.

Then she returned to her chair by the fireplace and began reading the newspaper. A few minutes later, he was startled by a knock. The sound was repeated three times.

He thought someone must have been throwing snowballs at house windows. When he went to the entrance to check, he found a collection of birds lay helpless on the cold snow. They have been trapped in a blizzard and they hit the glass window when to seek shelter.

I can not let the little creature was cold in here, he thought. But how can I help them? Then he remembered the barn where the ponies children. The cage must be able to provide a warm shelter. Immediately he took his jacket and went to the stables. He opened the door wide and turned on the lights. But the birds did not go into.

Food must be able to lead them in, he thought. So he ran back to his house to pick up crumbs and spread it into the snow to make tracks toward barn. But he was really surprised. The birds ignored the bread crumbs had and continue jumping over the cold snow.

He was trying to herd them like sheep herding dogs, but that the birds were scattered here and there, even away from the warm cage.

"They regard me as strange creatures and scary," he said to himself, "and I can not think of another way to tell that they can trust me. If only I could become a bird for a few minutes, maybe I can bring them in a safe place. "

At the same time, the church bells rang.

He stood stunned for a while, listening to the sound of bells welcomed

A beautiful Christmas. Then he fell on his knees and said,

"Now I understand," she whispered with a sob.

"Now I understand why YOU want to be human."

My brother, by becoming man is, the Lord Jesus through the suffering willingly to Calvary and gave His life to atone for the sins of all mankind, the children whom he loved, we are supposed to be dead in our transgressions are now able to live in Grace His magical.

let's welcome the love of Christ which was very big for us ... let's become perpetrators Word and shine in the midst of the world

JOHN 3:16
"For God so loved the world, that He gave His Son only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish but have eternal life."
--------------------

17 Desember 2009

Hari ulang tahunKu

Sumber : Come and Follow Jesus
Seperti kau sadari, sendiri ulang tahunKu semakin dekat. Sambil menunggu hari itu, banyak orang yang memenuhi toko-toko untuk membeli hadiah dan di berbagai tempat semua orang membicarakan tentang hari ulang tahunKu yang semakin dekat. Senang juga rasanya mengetahui bahwa paling tidak setahun sekali ada begitu banyak orang yang mengingat diriKu.

Seperti yang sudah kau paham, perayaan ulang tahunKu sudah mulai sejak lama. Awalanya orang-orang tampaknya tahu dan berterima kasih atas apa yang Aku lakukan buat mereka. Tapi, akhir-akhir ini, banyak dari mereka yang tidak paham alasan merayakan ulang tahunKu. Keluarga dan teman saling berkumpul dan bergembira, tapi mereka tidak mengetahui arti perayaan itu.

Tahun lalu, kau pun masih ingat, ada pesta yang begitu megah dan meriah merayakan hari ulang tahunKu. Pesta makan malam penuh dengan berbagai makanan yang lezat, pasti kau juga masih ingat dengan dekorasi yang menawan dan hadiah warna-warni di pojok ruangan? Tapi, ingatkah kau bahwa waktu itu justru Aku tidak diundang? Aku Cuma menjadi tamu penggembira dan mereka rupanya lupa mengirimkan undangan kepada-Ku.

Pestanya memang untuk Aku, tapi saat hari besar itu datang, mereka meninggalkanKu. Padahal Aku ingin bersama-sama dengan mereka. Karena memang tidak diundang, Aku memutuskan untuk masuk dalam pesta itu dengan diam-diam. Mereka semua makan dan minum dengan gembira dan tertawa-tawa dalam pesta itu. Benar-benar pesta yang meriah.

Akhirnya, sebagai puncak pesta, seorang tua dengan baju berwarna merah dan janggut lebat masuk ke ruang pesta sambil berteriak-teriak: Ho..ho…ho…! Dia duduk di sebuah sofa dan semua anak kecil menghampirinya sambil berkata,” Sinterklas, sinterklas..” seolah-olah yang ulang tahun justru dia.
Pada jam 12 malam semua orang saling berpelukan. Aku membuka tanganKu menunggu orang yang akan memelukKu dan… kamu pasti tahu… tidak ada orang yang memelukku!Tidak satupun pelukan yang Aku terima! Tiba-tiba semua mulai bertukar hadiah. Ketika semua telah membuka., ada satu kado juga untukKu. Bagaimana rasanya jika pada hari ulang tahunmu semua orang berbagi kado dan kau justru tidak mendapatkan satu buah hadiah pun? Aku akhirnya tahu bahwa Aku memang tidak mereka harapkan dalam pesta itu.

Semakin tahun keadaannya semakin buruk. Orang hanya ingat makan dan minum, kado, pesta dan tidak ada yang mengingat Aku. Sudahkah kamu melupakan kelahiran-Ku di kandang yang begitu buruk rupa karena Aku sangat mengasihimu? Sudahkan kamu melupakan hidup-Ku yang begitu sederhana di dunia padahal Aku seorang Raja? Sudahkah kamu melepakan kematian-Ku di atas kayu itu yang penuh peluh dan darah hanya untuk menyelamatkanmu? Hanya biarkanlah Natal kali ini kau ijinkan Aku masuk dalam kehidupanmu.

YOHANE 10:10
" Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
-----------------------------------------------------------------------------------------
English Version

As you are aware, his own birthday drew near. While waiting for the day, many people who filled the shops to buy gifts and in different places all the people talking about my birthday is getting closer. Glad also to know that at least once a year there are so many people who remember me.

As you already know, my birthday celebrations have started long ago. At first people seemed to know and appreciate what I do for them. But lately, many of those who do not understand the reason to celebrate my birthday. Family and friends gather together and have fun, but they did not know the meaning of the celebration.

Last year, you still remember, there was a party so grand and festive celebrating my birthday. Dinner party filled with a variety of delicious food, would you still remember with a charming decor and colorful gifts in the corner? But, do you remember that time it had I not invited? I'm just a guest cheerleaders and they seem to forget to send invitations to Me.

The party was for me, but when the big day came, they left me. And I want with them. Because it was not invited, I decided to enter the party quietly. They all ate and drank with joy and laughter in the party. It's really a festive party.

Finally, as the top party, an old man with a red shirt and beard entered the party room shouting: Ho .. ho ... ho ...! He sat on a couch and all the little children to him, saying, "Santa, Santa .." as if what he actually birthday.
At 12 o'clock that night everyone hugging each other. I opened my hand waiting for someone who will hug me and ... you must know ... no one gave me a hug! None that I received a hug! Suddenly everything started to exchange gifts. When all had been opened., There is also a gift for Me. How does it feel if on your birthday everybody shared gifts and you just do not get any single gift of fruit? I finally knew that I did not expect them in the party.

The more years of things getting worse. People only remember to eat and drink, gift, party and no one remembering me. Have you forgotten my birth in a stable manner so bad because I really love you? Have you forgotten that my life was so simple in the world when I was a King? Have you melepakan my death on a full wooden sweat and blood just to save you? Only this Christmas let you allow I go in life.

YOHANE 10:10
"The thief comes only to steal and kill and destroy; I have come that they may have life, and have it abundantly."
--------------------

FIRMAN KEPADA MEREKA YANG RAGU-RAGU

Sumber : Elia Stories

Kakek saya -- dari pihak ibu -- telah mengisap rokok hampir di sepanjang kehidupannya. Saya ingat ketika masih kanak-kanak, saya mendengar batuknya yang kuat dan kadang-kadang membuatnya tidak dapat bernapas. Saya mengkhawatirkannya. Saya tidak ingin ia meninggal tanpa menerima kasih dan pengampunan serta keselamatan dari Juru Selamat.

Jadi, pada suatu kesempatan yang sangat jarang, yakni ketika orang tua saya mengizinkan saya dan saudara saya tinggal di rumah bersama kakek sementara mereka menghadiri kebaktian gereja Minggu sore, saya mengerahkan keberanian untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang terus-menerus ada dalam benak saya: "Kakek," saya bertanya dengan takut-takut, "apakah kakek berpikir bahwa kakek akan pergi ke surga kalau nanti kakek meninggal?"

Dia berhenti merokok dan mengetukkan ujung rokok di asbaknya yang sudah penuh abu, dan menjawab dengan suara datar dan parau, "Oh, aku harap aku akan ke sana."

"Apakah kakek memiliki Yesus dalam hati kakek?" tanya saya dengan harap-harap cemas.

"Jangan khawatir," jawab kakek saya dengan tersenyum. "Kupikir Dia akan membiarkan aku."

Ketika kembali bersandar di sofa, hati saya tidak tenang. Sepanjang yang dapat saya ingat, saya berdoa untuknya setiap malam sebelum tidur. Apakah Yesus menjawab doa saya?

Pada waktu saya berumur sekitar 15 tahun, kakek saya memutuskan untuk berhenti merokok. Pada suatu hari, kakek bercerita kepada nenek bahwa ia telah menyingkirkan semua bungkus rokoknya dan tidak akan pernah merokok lagi. Namun, pengaruh rokok terhadap tubuhnya karena kebiasaan yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun itu tidak dapat diperbaiki. Tidak lama setelah keputusannya yang mengejutkan untuk lepas dari tembakau, kakek pun didiagnosis terkena kanker. Saya masih berdoa untuknya, dan sekarang saya punya waktu yang terbatas, 6 bulan.

Kakek masih menolak untuk menerima pertolongan yang ditawarkan Sang Juru Selamat. Teman-teman dan keluarga berbicara kepadanya tentang realita kebutuhan rohaninya. Namun, dia menolak mereka dengan sikap yang sama, yang pernah ia lakukan ketika saya dulu bertanya kepadanya. Saya takut dengan penolakan kakek pada waktu itu, ketika takdir kekalnya berada tepat di persimpangan, bahwa ia akan terhilang selamanya. Akan tetapi Yesus, Penolong yang murah hati, akan melakukan usaha apa pun untuk mencegah hal itu terjadi.

Masa 6 bulan yang ditentukan bagi kakek telah berlalu. Kakek merespons pengobatan dengan baik, tapi kekuatannya pelan-pelan melemah. Setelah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena pneumonia (radang paru-paru), kakek mulai menghadiri gereja kapan saja ia merasa kondisinya memungkinkan untuk pergi. Di sanalah ia bertemu dengan Benjamin, seorang anak laki-laki yang memberi perhatian khusus kepada kakek dan sering memeluk dan menciumnya. Kakek mulai membawakan permen untuk Benjamin, dan hal itu memperkuat hubungan mereka. Dua teman sedang membangun hubungan.

Suatu saat ketika Benjamin tahu bahwa kakek kembali dirawat di rumah sakit karena pneumonia, ia menjadi gelisah dan meminta orang tuanya membawanya menjenguk Kakek Wold. Kakek hanya dirawat sebentar. Jadi, ketika Benjamin datang menjenguk, kakek sudah ada di rumah. Di ruang tamu itulah, dalam keadaan lelah dan lemah karena sakit, kakek saya menangis saat Benjamin bertanya apakah dia sudah memiliki Yesus di dalam hatinya. Kakek menjawab bahwa dia belum punya Yesus, dan Benjamin mendorong kakek supaya ia meminta Yesus menjadi Juru Selamatnya. Kakek pun setuju, dan Benjamin memimpin kakek saya dalam sebuah doa singkat yang mengundang Yesus untuk datang ke dalam hati kakek dan mengampuni dosa-dosanya.

Setelah doa tersebut, kakek berbicara dengan bebas mengenai imannya di dalam Yesus. Kesombongannya berubah menjadi iman.

Kasih sayangnya yang bertahun-tahun dijaga dengan hati-hati, kini mengalir dengan bebas. Dan, dia menyebutkan dari waktu ke waktu bahwa ia menyesal telah menunggu begitu lama untuk menerima kelegaan dari pengampunan Yesus dan menerima kelepasan dari kasih-Nya.

Beberapa tahun kemudian, tepat sebelum meninggalkan rumah untuk tahun terakhir saya di universitas, saya mengatakan sesuatu yang ternyata merupakan ucapan selamat tinggal saya yang terakhir kepada kakek. Hampir 7 tahun sejak kakek didiagnosis terserang kanker, sekarang waktunya di dunia ini sungguh-sungguh hampir berakhir. Dengan penuh kesedihan, saya berbisik di telinganya sambil memeluk tubuhnya yang lemah, "Selamat tinggal, Kek. Saya mengasihi Kakek. Saya akan melihat Kakek lagi di surga." Beberapa minggu kemudian, Juru Selamat menyelamatkan kakek dari kanker dan membawanya pulang ke rumah-Nya.

Sebagai orang yang menunggu untuk diselamatkan sampai saat terakhir hidupnya di dunia, kakek saya tidak ingin orang lain yang ia kenal melakukan hal yang sama seperti yang telah ia lakukan. Dengan tenang, ia mengingatkan bahwa orang-orang yang menolak terlalu lama akan kehilangan selamanya. Dan, sebagai orang yang diselamatkan menjelang akhir hidupnya, dia menginginkan saya memberi tahu Anda: saat ini adalah waktu terbaik yang pernah ada untuk mengundang Juru Selamat -- Juru Selamat yang dapat menenangkan laut yang bergolak, angin ribut, dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang.

Diambil dari: Judul buku: Bagaimana Saya Tahu Jika Yesus Mengasihi Saya?/ Judul buku asli: If Jesus Loves Me, How Do I Know?/ Penulis: Christine A. Dallman dan J. Isamu Yamamoto/ Penerjemah: Dwi Prabantini/ Penerbit: Yayasn ANDI, Yogyakarta 2003/ Halaman: 9 -- 11

Artikel Lain:

- Benarkah Dengan Membayar Perpuluhan Semua Beres?

- Bersandar Allah Adalah Pondasi Yang Tak Tergoncang

- Ia Melihat Wajah Allah Bersinar

- Jangan Seperti Orang Bebal

cid:image001.gif@01C7E2A7.B636D0D0 Ingin berlangganan gratis “Elia’s Stories” kirimkan email kosong ke elia-stories-subscribe@yahoogroups.com atau click Sign Up, selanjutnya, ‘reply’ balasan dari yahoogroups sebagai konfirmasi

Renungan: Christmas – Holiday Season

Batu-Batu Tersembunyi Dalam Pondasi Kita.

Roma, 180 Masehi

Di sebuah propinsi kecil di bagian utara Afrika di dalam wilayah kekuasaan Romawi, Marcus Aurelius, sebagai seorang kaisar. Seperti halnya kaisar-kaisar pendahulunya, Commodus meminta kesetiaan tanpa syarat dari semua rakyat Romawi. Mereka yang menentang Kaisar Romawi biasanya menemui ajalnya di ujung pedang atau di kandang singa.

Di suatu hari yang panas di bulan Juli di Scillium, tiga orang pria dan tiga orang wanita berdiri terbelenggu di depan gedung gubernur propinsi. Mereka di dakwa karena tidak memberikan kesetiaan penuh mereka kepada Kaisar Romawi. Ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk meninggalkan iman mereka di dalam Yesus Kristus dan bersumpah setia kepada Commudus. Tinggalkan atau mati adalah satu-satunya piihan mereka. “Ketika kamu memperkatakan yang jahat atas pemujaan kami yang suci, aku tidak peduli,” kata Saturnius, sang gubernur. “Sebagai gantinya, bersumpahlah untuk kaisar kita yang jenius!”

Speratus, berbicara mewakili kelompok terdakwa ini, berkata, “Aku tidak mengenal kekaisaran dunia ini, tetapi aku lebih memilih melayani Tuhan, yang tidak ada seorangpun pernah melihat dan dapat melihat!”

Saturnius mulai menghina keenam orang Kriten ini. Mereka menyebut mereka gila. Sang gubernur berteriak. Ia meminta pada mereka. “Hentikan keyakinan ini,” katanya kepada mereka.

“Apakah kamu tetap Kristen?” ia bertanya.

“Saya seorang Kristen,” Speratus menjawab. Yang lain telah menyuarakan kasih mereka pada Kristus.

“Berpikirlah kembali dan tunggulah 30 hari lagi,” Saturnius memohon pada kelompok ini.

Meskipun demikian masing-masing dari mereka bersikeras, “Aku seorang Kristen!”

Perdebatan telah berakhir. Tidak seorangpun goyah. Maka Saturnius membacakan putusan untuk hukuman mereka.

“Speratus, Nartalus, Cittimus, Donata, Vestia, Secunda dan lainnya telah mengakui diri sebagai seorang Kristen. Karena mereka dengan keras kepala menentang, setelah ditawarkan sebuah kesempatan untuk kembali pada adat Romawi, maka diputuskan menghukum mereka dengan pedang.”

Speratus menyatakan, “Kami bersyukur pada Tuhan.”

“Hari ini kami adalah para martir di surga, bersyukur pada Tuhan,” kata Nartalus.

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.Matius 7:1-2

15 Desember 2009

KARENA KASIH ITU KUAT..

Sumber : Come and Follow Jesus
Setiap manusia pasti tidak lepas dari berbagai macam kesalahan.
Semua manusia pernah melakukan kesalahan
Entah salah ucap, salah pengertian, salah sangka, salah memperlakukan orang lain, salah bertindak dan banyak kesalahan lain.
Tidak jarang kesalahan itu membuat rasa sakit hati pada pihak yang padanya kita lakukan kesalahan.

Jika kesalahan itu sesekali, mungkin akan mudah memaafkannya.
Tapi jika kesalahan itu berulang-ulang, masih sanggupkah kita memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan pada kita?
Jika kesalahan itu fatal masih sanggupkah kita membuka pintu maaf bagi orang yang melakukan kesalahan pada kita?

Tidak mudah menjawab pertanyaan itu.
Ketika aku melakukan kesalahan kepada orang yang aku kasihi dan orang-orang lain, ada kalanya aku malu untuk meminta maaf. Ada kalanya aku tak sanggup untuk mengucapkan “maaf”, dan ada kalanya aku mencari kata-kata apa diatas kata “maaf” yang bisa memperbaiki hubunganku dengan orang yang aku sakiti atau lukai akibat kesalahanku.
Tapi tentu saja ada kalanya, aku tak berberat hati untuk meminta maaf.

Sebaliknya, ketika aku yang disakiti. Ada kalanya aku begitu mudah memaafkan.
Namun, ada kalanya juga aku sulit memaafkan, takut jika kesalahan yang sama di ulang lagi.
Tidak mudah memang memaafkan orang yang menyakiti kita.

Tapi jika KASIH melingkupi hati, memaafkan dan meminta maaf tidak akan begitu sulit.

Itulah teladan Yesus.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Hanya karena kasih DIA memaafkan.
Hanya karena kasih DIA mau datang kedunia.
Hanya karna kasih, dia tak pernah bosan mendengar permintaan maaf anakNYA.
Walaupun sakit hatiNYA luar biasa, namun kasihNYA yang besar mengalahkan itu semua.
Jika bukan karna kasih, untuk apa DIA rela di salib?

Tapi kenapa kita terkadang begitu sulit meminta maaf dan/atau memaafkan??
Mungkin jawabannya: Karena memikul salib memang tidak mudah. Dan janji di balik salib itu begitu indah.
Dimana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi pertikaian, tidak ada lagi kesalahan.
Semuanya indah dan baik disana.
Di kehidupan kekal yang kita nantikan bersama.

Tuhan, ajar kami untuk memaafkan dan ajar kami untuk meminta maaf dengan tulus. Seperti teladan yang KAU berikan lewat PutraMu YESUS.
Amin.


JESUS LOVE U ALL
--------------------

Jejak-Jejak Kaki: behind the Foot Prints Story

Sumber : come and Follow Jesus
Tahukah anda cerita di balik terciptanya sajak “FOOTPRINTS”. Sajak itu telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga tidak banyak orang tahu apa latar belakang lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul “Jejak” (aslinya : “Footprints”) sebenarnya adalah buah pena masa berpacaran di suatu senja di tepi danau.

Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau berdiri di depan loket atau kalau naik bis. Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana hangat dan penuh kasih.

Namun ada beberapa peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa kecilnya. Yang pertama adalah pengalamannya ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya. Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman, jari-jari tangannya langsung dipukul oleh gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari jari-jari tangan Margaret memar kemerah-merahan. “Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak … !”

Itulah ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap hari. Dan ia sungguh takut. “Tiap hari aku berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,” ucap Margaret mengenang masa kecilnya.

Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah tentang dua teman perempuannya di kelasnya. “Aku akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang kebetulan berbadan besar.

Kedua teman itu sering menjahati aku. Untung ada seorang teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat sehingga aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai aku jatuh dan pingsan.

Selama beberapa hari aku terbaring sakit. Tetapi yang lebih parah lagi, selama beberapa bulan aku ketakutan,” kenang Margaret. Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas, tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan.
Urat syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar. Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut mewarnai lahirnya sajak “Jejak” ini, yang dikarang oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan yang bernama Paul. Hari itu Margaret dan Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret. Di tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang indah.
“Mari kita jalan di pantai,” usul Margaret.

Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu berjalan bergandengan tangan di pantai pasir. Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang jejak kaki mereka dipasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu. “Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang,”
seru Margaret.
“Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air,” lirih Margaret.
“Jangan berpikir begitu,” protes Paul.
“Aku malah melihat lambang yang indah. Setelah kita menikah, yang semula dua akan
menjadi satu. Lihat itu, di situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.”
Mereka berjalan terus. “Paul, lihat, di sini jejakku hilang lagi.”
Paul menatap Margaret dengan tajam, “Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan. Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini…”
Lalu Paul mengangkat Margaret yang bertubuh kecil dan ringan itu dan memutar-mutarnya.

Malam itu setibanya mereka di tempat retret, Margaret yang adalah pengarang kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung, mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret lagi… Seolah-olah bermimpi, dalam imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu pasang jejaknya sendiri dan satu pasang jejak Tuhan.Tetapi… dan seterusnya. Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi !
Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia tidur.

Keesokan harinya, begitu bangun, ia langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu membubuhkan judul “Aku Bermimpi”. Ia mengubah beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang sekarang kita kenal dengan judul “Jejak”.

Pada hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan Paul. Paul berkata, “… ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit.Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita.” Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :


One night I dreamed a dream. I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand, One belong to me and one to my Lord. When the last scene of my life shot before me, I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints. I realized that this was the lowest and the saddest times of my life. This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.
“Lord, You told me when I decided to follow, You would walk and talk with me all the way.
But I’m aware that during the most troublesome times of my life, There is only one set of footprints.
I just don’t understand why, when I need You most, You leave me.” He whispered, “My precious child, I love you and will never leave you never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints, It was then that I carried you.”

Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya. Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang terkandung sajak itu. Sekarang pun tiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita. Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat dimana musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kaki kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas.


Mana telapak kaki kita ? Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat dan digendong Tuhan.
----------------------------------------------------------------------------------------
Mazmur 37
-------------
23: TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
24: apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
25: Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;
26: tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.
27: Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya;

Kemuliaan dan Damai Sejahtera

Sumber : mujizat itu Nyata
Pada malam ketika Tuhan Yesus dilahirkan, para malaikat dan bala tentara surga memuji Allah dan berkata, "KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHA TINGGI DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN KEPADANYA" (Lukas 2:14). Betapa sederhananya kedua kalimat pujian tersebut, namun di dalamnya terkandung dua pemberitaan penting, yakni: KEMULIAAN dan DAMAI SEJAHTERA. Berita pertama berkenaan dengan yang berada di tempat yang mahatinggi dan berita kedua berkenaan dengan yang berada di bumi. Di tempat yang mahatinggi ada KEMULIAAN dan di bumi ada DAMAI SEJAHTERA. KEMULIAAN dan DAMAI SEJAHTERA saling berkaitan erat, tetapi urutannya terlebih dahulu harus ada KEMULIAAN di tempat yang mahatinggi, barulah kemudian ada DAMAI SEJAHTERA di bumi. Jika kita terlebih dahulu mengutamakan KEMULIAAN di surga, barulah kita bisa mendapatkan DAMAI SEJAHTERA Allah di bumi.

1.Malaikat Allah memproklamasikan, "KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHATINGGI" -- Walaupun Tuhan Yesus dilahirkan di dalam palungan yang hina, namun kelahiran tersebut memuliakan Allah.
1.Ia dilahirkan oleh seorang anak dara, hal ini membuktikan kesejatian nubuat para nabi Allah.

Kira-kira tujuh ratus tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus, Allah bernubuat melalui nabi Yesaya, "Seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel" (Yes. 7:14). Kelahiran dari seorang anak dara adalah peristiwa yang ajaib di dunia ini. Selain dari anak dara Maria yang mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Tuhan Yesus, sepanjang sejarah umat manusia tidak pernah terjadi peristiwa yang sama ini sebab hal ini adalah peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam. Jikalau bukan Allah sendiri yang memberikan janji itu dan menggenapi-Nya, mustahillah peristiwa ini akan terjadi. Tuhan Yesus dilahirkan dari anak dara mutlak bukanlah perbuatan manusia, mutlak bukan suatu kisah dongeng karena ada fakta sejarah. Dan hal ini merupakan perbuatan kuat kuasa Allah yang melampaui sejarah dan alam. Dengan demikian, bukankah sudah sepantasnya KEMULIAAN diberikan kepada Allah di tempat yang mahatinggi?
2.Kelahiran Tuhan Yesus membuktikan besarnya kasih Allah kepada umat manusia.

Ketika nabi Yesaya bernubuat, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan kepada kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaan-Nya, karena Ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya" (Yes. 9:5-6).

Orang Israel yang merindukan kedatangan Mesias ingin menyaksikan kedatangan-Nya di antara mereka karena Dialah yang akan mengadakan penyelamatan besar bagi mereka. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Mesias ini -- Tuhan Yesus yang begitu hina dan papa dilahirkan dalam palungan. Palungan yang kotor bagaimana dapat diserasikan dengan Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal? "Ia yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Fil. 2:6-7). Kesungguhan kenosis-Nya (pengosongan Diri-Nya) itulah yang menunjukkan hormat dan kemuliaan-Nya. Pemazmur berkata, "Aku hendak bersyukur sangat kepada Tuhan dengan mulutku, dan aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. Sebab Ia berdiri di sebelah kanan orang miskin untuk menyelamatkannya dari orang-orang yang menghukumnya" (Maz. 109:30-31).
2.

Malaikat Allah juga memproklamirkan, "DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN KEPADANYA." Sebenarnya, kelahiran Tuhan Yesus tidak mengakibatkan DAMAI SEJAHTERA bagi bumi; kelahiran-Nya malah mengakibatkan kecemburuan serta ketidaktenangan hati raja, sehingga mendatangkan terjadinya pembunuhan kanak-kanak di bawah usia dua tahun di seluruh tanah Yudea. Ketika Ia mulai menjalankan pelayanan-Nya di bumi ini, tidak ada sambutan yang baik dari manusia, Ia ditolak bahkan timbul pula perpecahan di bumi ini karena Dia. Tuhan Yesus sendiri bersabda, "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang, akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga" (Luk. 12:51-53; Mat. 10:34-36). Jika demikian, mengapa malaikat berkata "DAMAI SEJAHTERA di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya"? DAMAI SEJAHTERA macam apakah yang dimaksudkan malaikat Allah itu?
1.

DAMAI SEJAHTERA yang didatangkan karena berdamai dengan Allah.

Jikalau manusia tidak mengenal Allah, ia tidak akan memiliki DAMAI SEJAHTERA, sebab pemazmur berkata, "Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut. Engkau menaruh kesalahan kami dihadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu" (Maz. 90:7-8). Sebab itu, jika manusia ingin mendapatkan DAMAI SEJAHTERA, ia harus terlebih dahulu berdamai dengan Allah, -- yakni Sumber DAMAI SEJAHTERA itu. Namun, oleh karena Allah adalah kudus dan adil, sedangkan manusia adalah berdosa, bagaimanakah orang berdosa dapat mendekatkan diri dengan Allah yang kudus? Rasul Paulus berkata, "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" (Rom. 5:1). Karena di atas kayu salib, Tuhan Yesus telah menjadi Korban penebusan dosa bagi kita sehingga orang yang percaya kepada-Nya, dosanya diampuni serta diperdamaikan dengan Allah. Kesukacitaan dan DAMAI SEJAHTERA yang diberikan karena pembenaran oleh iman ini tidak lain adalah DAMAI SEJAHTERA yang dibawa Tuhan Yesus melalui kelahiran-Nya.
2.

DAMAI SEJAHTERA di dalam Kristus.

DAMAI SEJAHTERA yang kita peroleh karena berdamai dengan Allah ini, juga adalah DAMAI SEJAHTERA karena jiwa kita diselamatkan oleh Tuhan, juga merupakan DAMAI SEJAHTERA dalam kehidupan kita. Namun, manusia berada di tengah pergolakan dunia, di mana perubahan politik dan ekonomi sangat tidak menentu, beban kehidupan yang semakin berat, serta penantian masa depan yang masih merupakan tanda tanya bagi kita. Kesemuanya ini mengakibatkan banyak orang Kristen kehilangan DAMAI SEJAHTERA dan kesukacitaan dalam hati. Tuhan Yesus bersabda, "DAMAI SEJAHTERA-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu" (Yoh. 14:27). Maka bagaimana pun besarnya bahaya dan pergolakan bumi, betapa pun besarnya penderitaan, kesemuanya ini tidak mampu mengguncangkan hati kita. Jikalau kita berada dalam Kristus, kita memiliki DAMAI SEJAHTERA Tuhan, dan DAMAI SEJAHTERA ini tidak dapat direbut oleh dunia ini, bahkan DAMAI SEJAHTERA ini akan membawa kita untuk mengalahkan dunia.

Rasul Paulus berkata, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. DAMAI SEJAHTERA Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus" (Fil. 4:6-7). Hendaklah orang Kristen belajar bagaimana mendapatkan DAMAI SEJAHTERA dalam Kristus. Bukan saja menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya, juga belajar untuk tidak kuatir, belajar untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, melalui doa dan ucapan syukur menyatakan segala sesuatu kepada Tuhan; dengan yakin bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Dengan demikian, hati dan pikiran kita akan beroleh perlindungan Tuhan dan DAMAI SEJAHTERA yang sempurna kita miliki. Keadaan boleh berubah-ubah, tetapi hati kita tidak akan bimbang dan gelisah karena DAMAI SEJAHTERA telah dikaruniakan Tuhan kepada orang yang berkenan kepada-Nya.

Dewasa ini, dunia dipenuhi oleh ketidakpercayaan dan kedurhakaan kepada Tuhan, hati manusia jauh dari Allah, mereka menyembah kepada kesia-siaan, meninggikan diri, serta menyangkal keberadaan Allah. Apa yang kita saksikan dengan mata, dan yang kita dengar melalui telinga; semuanya adalah kisah penipuan, kekejaman, kecongkakan, kepalsuan, kebobrokan, dan kejahatan manusia semata-mata. Menghadapi semua fakta ini, apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak Allah di dunia ini? Semoga peringatan hari Natal -- hari kelahiran Tuhan Yesus -- menggemakan pemberitaan serta puji-pujian yang sama seperti yang dinyanyikan para malaikat dan bala tentara surga tersebut, yakni "KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHATINGGI, DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN. KEPADA-NYA." Amin.


Selamat Memperingati Natal 25 Desember 2009

TUHAN YESUS MEMBERKATI
--------------------

MICHELLE PRICE

Sumber : Elia Stories

Michelle Price adalah gadis kecil periang yang senang memanjat pohon, menunggang kuda, bermain ski, bercerita tentang banyak kisah, dan menyanyi. Dengan keluarga Kristen yang mengasihi dia, hidup Michelle seolah tak memiliki sedikit beban pun sampai ia berumur 8 tahun, ketika kaki kanannya mulai terasa sakit dan bengkak.

Setelah beberapa dokter melakukan pemeriksaan, mereka mengatakan kepada orang tua Michelle bahwa Michelle menderita salah satu jenis penyakit kanker tulang yang mematikan. Dokter itu berkata bahwa kesempatan untuk hidup kurang dari 4%, dan sebagian besar kakinya harus diamputasi.

Orang tua Michelle sangat ketakutan tentang bagaimana mereka harus menceritakan hal tersebut kepadanya. Ketika mereka akhirnya menceritakan kepada Michelle, maka reaksi pertama dari Michelle: "Oh Papa, saya tidak akan dapat berdansa lagi jika saya tidak memunyai kaki! Saya tidak mau menjadi seorang yang cacat!" Dia menangis terisak-isak untuk beberapa menit. Tetapi ketika ia melihat wajah ibunya dipenuhi air mata, ia berhenti menangis, mengambil napas panjang, dan berkata, "Saya akan baik-baik saja, Mami. Jangan menangis." Sambil menepuk-nepuk wajah ibunya, ia melanjutkan, "Saya memang takut ketika Papa menceritakan kepada saya, tetapi Yesus membuat hati saya tenang. Saya akan baik-baik saja. Percayalah, Mam."

Michelle, dengan perlahan, bertanya kepada ayahnya mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Dan ketika ayahnya menjawab tidak tahu, Michelle berpikir untuk beberapa saat sebelum ia berkata, "Mungkin saya tahu jawabnya, jika para dokter itu belum memiliki obat untuk mengobati penyakit saya, mungkin mereka dapat mempelajari kaki saya dan menemukannya. Sehingga mereka dapat membantu anak-anak lain yang sakit seperti saya."

Para dokter mengamputasi kaki Michelle sampai 4 -- 5 inci di atas lutut (± 13 cm). Michelle menangis ketika pertama kali ia melihat kakinya yang terbalut. Namun kemudian, ia menceritakan kepada ibunya betapa takutnya ia pada saat berada dalam ruang operasi ... sampai ia mengingat bahwa ia tidak sendiri. Yesus berada bersamanya.

Untuk beberapa waktu lamanya, Michelle merasakan rasa sakit yang menggigit. Urat syaraf di kakinya terus-menerus mengatakan kepada otaknya bahwa sesuatu yang salah terjadi sehingga menyebabkan rasa sakit itu. Namun, 3 hari setelah operasi dilakukan, ia mengagetkan dokternya dengan melukis wajah yang tersenyum pada pembalut di kakinya yang buntung. Dokter itu mengatakan kepada orang tua Michelle bahwa biasanya dibutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum seseorang yang diamputasi dapat menerima keadaannya.

Setelah 5 hari berlalu semenjak operasi dilakukan, para dokter mulai memberikan kemoterapi kepada Michelle ... obat yang sangat kuat yang diciptakan untuk membunuh sel-sel kanker. Dan dikarenakan kanker pada Michelle sangat mematikan, maka mereka memberikan dosis 1000 kali lebih besar dari biasanya.

Dalam waktu singkat, obat itu membuat semua rambut Michelle rontok. Setiap pengobatan membuatnya merasa amat sakit. Ia muntah dan menggigil. Tetapi setiap kali seseorang datang menjenguknya dan bertanya bagaimana rasanya, ia menjawab, "Doing Ok!", sehingga ia tidak membuat orang lain merasa tidak enak.

Setelah 4 minggu berada di rumah sakit, ia diizinkan untuk pulang beberapa hari. Ketika ia berjalan-jalan dengan ayahnya, ia menyadari para tetangga merasa tidak nyaman berada di sisinya, karena kaki dan kepalanya yang gundul. Untuk membuat mereka merasa lebih baik, ia justru mengunjungi rumah para tetangga dan menceritakan kepada mereka tentang kanker. Bahkan, Michelle meminta mereka untuk tidak ragu-ragu bertanya.

Michelle menjalani kemoterapi selama 18 bulan dan menunjukkan sikap tegar yang amat besar pada saat melalui semua ketidaknyamanan itu. Ketika ia merasa lebih baik, ia mengunjungi anak-anak lain di rumah sakit yang juga menderita kanker dan berusaha membuat mereka gembira. Dan setelah pemeriksaan menunjukkan bahwa kankernya telah sembuh, hati Michelle dipenuhi rasa ucapan syukur.

Dengan berjalannya waktu, ia belajar bermain ski dengan satu kaki dan menjalankan "skate board" serta bermain "soccer" dengan menggunakan kruk (penyangga kaki). Setelah ia berhasil mendapatkan medali pada sebuah kontes ski nasional bagi orang-orang cacat, Wayne Newton memberikan penghargaan olahraga bagi orang-orang cacat pada TV nasional karena keberaniannya.

Ketika Newton melihat bagaimana ia menghabiskan waktunya berusaha membuat orang lain bahagia, ia menjadi sangat kagum kepada Michelle dan memberikan kejutan hadiah istimewa pada hari ulang tahunnya ..., seekor kuda!

Pada suatu hari, Michelle berkata kepada ibunya bahwa kadang-kadang ia merasa sedih karena diperlakukan berbeda pada waktu berolahraga, dan ia juga sering merenung apakah ada anak laki-laki yang akan menyukainya karena ia hanya memiliki satu kaki. Kemudian ia menambahkan, "Saya merasa bersalah jika merasa susah. Tuhan akan berpikir saya tidak cukup berterima kasih atas apa yang telah Dia lakukan kepada saya. Saya berpikir, saya melihat kepada kesusahan lebih banyak dan tidak cukup melihat kepada kebaikan."

Ketika Michelle beranjak dewasa, ia menjadi seorang pemain ski cacat termuda di seluruh dunia, seorang model, pembicara, dan seorang penunggang kuda nomor satu bagi orang-orang cacat. Ia melanjutkan kuliah dan kemudian bekerja di sebuah pusat pelayanan orang-orang yang tidak memiliki tangan atau kaki. Tahun 1993, ia menerima penghargaan atas keberaniannya oleh American Cancer Society.

Saat ini Michelle adalah seorang istri dan ibu muda. Ia bermimpi untuk dapat memiliki sebuah perkemahan bagi anak-anak cacat sehingga mereka dapat memiliki sikap positif terhadap keberadaan mereka.

Sumber asli: Courageous Christians by Joyce Vollmer Brown

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Buku Pujian, Penyembahan & Kesaksian

Penyusun: Tim Dabara

Penerbit: PT. Inter Wacana Niagatama, Solo 2002

Halaman: 4 -- 6

Bayanganku di Cermin

Sumber : Come and Follow Jesus
Sore itu hujan rintik-rintik mengantar Patrik pulang ke asrama tempat tinggalnya, dia seorang mahasiswa yang hidup jauh dari kampung halaman dan keluarganya. Dengan lelah ia meletakan tas yang penuh dengan buku diatas meja belajarnya, dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian dan segera berbaring di tempat tidurnya dengan harapan lelah yang ia rasakan segera terobati. pikirnya: 'mengapa aku begitu lelah?', ''seandainya tadi nilai ujianku A, B atau setidaknya C, pastinya aku tidak frustasi seperti ini, frustasi ini membuat aku begitu lelah dan hanya ingin tidur saja rasanya, hmm.. tapi ujian belum selesai, besok ada 2 mata ujian yang harus kuhadapi, yah.. Tuhan tolonglah aku''. ia bangun dari tidurnya, menyandarkan punggungnya ke bantal dan duduk menatap cermin yang menempel di lemari tepat di depannya, ia pun mengutarakan keluhannya kepada bayangannya di cermin, dalam hatinya ia berkata :' hai kamu yang disana, bayanganku, apakah nasibmu sama denganku? bagaimana kehidupanmu di duniamu? aku tahu kalau kamu mempunyai kehidupanmu sendiri dan sekarang kamu sedang bercakap-cakap denganku bayanganmu dan akupun sedang bercakap-cakap denganmu bayanganku, iapun mendekati cermin itu dan melihat kedalam cermin, ia menyerongkan kepalanya agar dapat melihat situasi didalam cermin itu..' ya aku tau, km sedang melihat ke dalam kamarku, rasanya aku ingin memecahkan engkau cerminku.. apa katamu? kau ingin memecahkan cerminku? ya kita ini sama dan apa yang aku lakukan km juga akan melakukannya, di duniamu yang aku sebut dunia cermin dan di duniaku yang kamu sebut dunia cermin jg'' katanya sambil tersenyum sendiri.

Ia kembali ketempat tidurnya dan berusaha untuk beristirahat agar lelah yang ia rasakan lenyap, pikirnya, ' kalau aku tidak istirahat, aku tidak dapat berkonsentrasi untuk belajar'. sejam berlalu namun ia masih melamun di tempat tidurnya, kembali ia menatap cermin dari tempat tidurnya dan pikirannya terbawa ke dalam khayalannya.

dalam khayalan cermin menyapanya, 'apa yang terjadi padamu?' ini aku cermin teman sekamarmu, ceritakanlah padaku masalahmu. dia menjawab cermin itu, 'apa yang salah denganku?' aku selalu saja merasa iri hati dengan teman-temanku bahkan akupun sering frustasi karna apa yang aku capai sangat tidak memuaskan hatiku dan lagi mengapa teman2ku mencapai hal yang aku inginkan sedangkan aku sendiri tidak dapat mencapainya, prestasi akademik, wanita idaman, bahkan akupun iri dengan tinggi badan yang mereka miliki namun tidak aku miliki, aku selalu berusaha untuk tidak memikirkannya namun pikiran itu selalu menggangguku.

sesaat kemudian bayangannya keluar dari cermin dan duduk di tempat tidurnya tepat di samping patrik dan sambil tersenyum bayangan itu berkata: 'aku ini cermin dan aku mempunyai banyak rupa, banyak orang yang melihat dirinya padaku dan aku melihat bahwa pada dasarnya segala jerih payah dan keberhasilan orang didorong oleh rasa iri hati yang dimilikinya, kebanyakan aku melihat hidup mereka di gerakan oleh hal-hal yang tidak semestinya menggerakkan hidup mereka, rasa bersalah, benci, marah, rasa takut, materi, kedudukan, nama baik dan hal-hal lainnya, aku pun bingung dengan masing-masing mereka, apakah untuk itu tujuan hidup mereka??" Patrik menjawabnya dengan nada bertanya, 'Bukankah memang seperti itu kehidupan ini?', bayangan itu menatapnya dan berkata, 'kawanku.. benar katamu, kehidupan di dunia ini memang seperti itu", tapi semuanya itu bukanlah tujuan hidup ini, patrik kembali bertanya dengan nada penasaran,'kalau begitu apakah tujuan hidup itu? katakan padaku hai kamu bayanganku.

bayangannya tersenyum dan berkata pada patrix, "lihatlah kehidupan manusia yang tidak digerakan tujuan, hidupnya tiada makna dan ia berusaha menyenangkan hati semua orang, aku tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk berhasil tapi apa yang mereka lakukan adalah kegagalan, kenalilah tujuan hidupmu dan biarkan hidupmu digerakan olehnya. sahut patrik kepadanya, 'hai bayanganku bertahukan padaku apakah tujuan hidupku itu?. aku ini bayanganmu masakan engkau bertanya padaku yang adalah bayanganmu.

lihatlah seorang ibu yang menjahit pakaian yang indah, tak seorang pun tau untuk apa ibu itu membuat pakaian yang indah itu selain dia yang membuatnya, anak perempuan ibu itu bertanya kepadanya,'untuk apa ibu membuat pakaian yang indah itu', sambil tersenyum ibu itu menjawab, "anakku yang kukasihi, aku akan membuat pakaian yang indah yang aku rencanakan untuk hari pernikahanmu nanti ". patrik terdiam sambil memandang bayangannya, kata bayangan itu padanya, "mengapa engkau memandangiku? aku tidak dapat memberitahu tujuan hidupmu hanya Dia yang menciptakanmu yang mengetahuinya, satu hal yang ingin kuberitahu kepadamu, bahwa hidupmu ini bukan mengenai kamu, tetapi bagi kemuliaanNya yang menciptakan engkau, sebab segalah sesuatu diciptakan oleh Dia dan bagi Dia. bayangan itu tersenyum dan lenyap meninggalkan patrik.

Patrik terbangun dari tidurnya, lelahnya sudah pergi meninggalkannya, ia bangun duduk di meja belajarnya dan memanjatkan doanya, "ya Tuhan, segala kemuliaan hanya bagiMu, ku tahu hidupku hanya untuk kemuliaan namaMu, pakailah hidupKu ya Tuhan biarlah yang kulakukan hanyalah untukmu, aku akan belajar untuk ujian besok dan semua itu kupersembahkan untuk Engkau, kebersyukur untuk semua yang terjadi dalam hidupku peganglah tanganKu ya Tuhan dalam menghadapi dunia ini, ampuniku atas kelemahanku, aku membutuhkan Engkau. amin". patrik membuka buku pelajarannya dan belajar dengan sukacita.
--------------------

HIDUP DENGAN MENGANDALKAN TUHAN

Sumber : Come and Follow Jesus
Setiap manusia yang terlahir ke dunia, pastilah akan mengalami cobaan hidup, entah dia berasal dari keluarga yang berada atau tidak, tidak ada satu manusiapun yang luput dari masalah kehidupan. Masalah kehidupan tersebut dapat datang kapan saja dan datang di dalam berbagai bentuk, dapat berupa bencana baik bencana alam ataupun bencana di dalam keluarga atau kehidupan sehari-hari, dapat pula berbentuk kesulitan ekonomi dan keuangan, masalah kesehatan, masalah keluarga, masalah mencari nafkah, masalah pekerjaan, masalah usaha, masalah dagang, masalah karir dan masih banyak lagi masalah-masalah lainnya. Di dalam menghadapi masalah kehidupan tersebut, ada manusia yang kuat dalam menghadapinya, ada yang elastis, dan ada juga yang rapuh dan mudah patah semangat, sehingga tercebur ke dalam lubang keterpurukan dan sulit untuk dapat keluar dari lubang keterpurukan tersebut.

Ada berbagai kiat yang pernah dituliskan oleh pakar-pakar filsafat dan psikologi, bahwa untuk menghadapi masalah kehidupan, manusia haruslah berpikiran positif, berusaha mencari jalan keluar dan pantang menyerah. Seperti kisah empat orang kusta yang tertulis di Alkitab, di dalam menghadapi masalah sakit penyakit mereka, mereka tidak duduk berdiam diri dan menyerah. Mereka justru berpikiran positif untuk bertahan hidup dan dengan keberanian serta ide kreatif mereka akhirnya mereka dapat menyelamatkan jiwa mereka. Mereka tidak mengandalkan siapa-siapa di dalam menghadapi masalah kehidupan mereka, tapi mereka menggunakan akal dan pikiran mereka sendiri serta iman untuk menyelamatkan jiwa mereka. Memang ada benarnya apabila manusia mengandalkan dirinya sendiri, mengandalkan akal dan pikirannya sendiri untuk dapat melewati masalah hidupnya. Namun perlu disadari bahwa semua manusia di dunia mempunyai keterbatasan dengan kemampuannya, dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa manusia tidaklah dapat mengandalkan dirinya sendiri.

Banyak manusia yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya dan terlalu mengandalkan dirinya sendiri, sehingga dia lupa bahwa sebenarnya seluruh kehidupannya sudah ada yang mengaturnya. Dan ketika semuanya telah berlalu barulah disadarinya bahwa manusia tidak dapat mengandalkan dirinya sendiri, melainkan harus mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya.

Di dalam Yeremia 17 ayat 7 sampai 8, dikatakan bahwa “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

Namun perlu dipahami bahwa pengertian mengandalkan Tuhan bukanlah berarti kita hanya berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu dan semua masalah hidup akan terselesaikan. Tentu tidak demikian, kita semua harus bekerja dengan giat, berusaha dengan tekun, tabah di dalam menghadapi masalah hidup yang kita hadapi, berharaplah pada Tuhan dan memohon pertolonganNYA.

Firman Tuhan di dalam Roma 12 ayat 11 – 12 telah mengajarkan kepada kita semua, Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.

Dengan mengandalkan Tuhan, bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan dan bertekun dalam doa, niscaya masalah hidup akan terpecahkan. Percayalah.


Tuhan Memberkati.
--------------------

11 Desember 2009

KISAH O LITTLE TOWN OF BETHLEHEM

Sumber : Elia Stories
O little town of Bethlehem, how still we see thee lie!
Above thy deep and dreamless sleep the silent stars go by.
Yet in thy dark streets shineth the everlasting Light;
The hopes and fears of all the years are met in thee tonight.

For Christ is born of Mary, and gathered all above,
While mortals sleep, the angels keep their watch of wondering love.
O morning stars together, proclaim the holy birth,
And praises sing to God the King, and peace to men on earth!

How silently, how silently, the wondrous Gift is given;
So God imparts to human hearts the blessings of His heaven.
No ear may hear His coming, but in this world of sin,
Where meek souls will receive Him still, the dear Christ enter s in.

Where children pure and happy pray to the blessèd Child,
Where misery cries out to Thee, Son of the mother mild;
Where charity stands watching and faith holds wide the door,
The dark night wakes, the glory breaks, and Christmas comes once more.

O holy Child of Bethlehem, descend to us, we pray;
Cast out our sin, and enter in, be born in us today.
We hear the Christmas angels the great glad tidings tell;
O come to us, abide with us, our Lord Emmanuel!

Mengenai pengarang lirik :
Jika anda ke Universitas yang paling terkemuka didunia , yaitu universitas Harvard , anda akan menjumpai nama-nama tokoh penting . Disitu anda bisa menjumpai patung dari seorang pendeta yang dijuluki " pengkhotnah terbesar abad 19 " (Catatan : waktu itu DL Moody belum berkhotbah .)

Tokoh ini adalah Phillips Brooks (1835-93). Ia lahir dan meninggal di Boston, MA. Ia memasuki sekolah bahasa latin. di Harvard, dan karena brilian, ia dibuat patung di Harvard. Ia terus melanjutkan studinya di Protestant Episcopal Theological Seminary in Virginia Setelah lulus, ia menjadi pendeta Epicostal pada tahun 1860 di Philadelphia dan menjadi rektor dari Church of Advent in 1859 dan Holy Trinity Church in 1862. Pada 1869 ia dipanggil Boston sebagai of Trinity Church dan in 1891 ia menjadi bishop terpilih Protestant Episcopal church in Massachusetts. Karena ia Jenius dalam berpikir teologianya agak liberal .

Ia juga mengarang: The Candle of the Lord (1881), Sermons Preached in English Churches (1883), The Light of the World (1890), and The Law of Growth (1902). Pada tahun 1872 ia menolong untuk mendesain bangunan gereja Trinity yang sekarang berdiri di Boston's Back Bay (sebuah pantai Boston yang indah ). Sebelum anda kepantai anda akan melihat bangunan gereja tua. Gereja kecil warna hijau dekat pantai timur itulah Gereja yang dimaksud.

Bagaimana lagu ini digubah :
Sebelum ia menggubah lagu ini, ia berkunjung ke Israel selama 3 tahun. Pada waktu itu negara Israel belum ada dan masih dalam mandat Inggris. Bangunan dikota Bethlehem juga masih kuna dan belum semodern saat ini. Tapi satu hal yang pasti: gereja yang didirikan oleh kaum orthodox telah ada. Ia sangat terpesona dan banyak merenung berpikir. Katanya : "Jiwaku tetap bernyanyi, menerungkan betapa Tuhan mau menderita dan harus lahir disebuah kandang yang menyerupai goa, karena penginapan penuh. Betapa Tuhan yang Maha Kuasa mau menebus dosa kita karena kasih Nya yang ajaib. Padahal kalau Tuhan mau, ia bisa memilih mau jadi apa saja "

Mengenai musik :
Musik ini disebut St Louis, digubah oleh seorang organis hebat pada waktu natal. Namanya Redner dan sudah bekerja sebagai organis gereja Triniti selama 4 tahun.

Sekedar mengenai Bethlehem :
Dalam alkitab kota kelahiran Yesus yang saat ini penduduknya berjumlah kurang lebih 25.000 orang adalah tempat lahir dari Daud (Raja dari Yudea dan Israel ) dan Yesus Kristus . Aslinya disebut Aphrath = Bethlehem-Judah membedakan dari Bethlehem lain (lihat Joshua 19:15-16 )

Bethlehem disebut dalam Perjanjian lama pertama kali sebagai tempat dimana. Rachel, istri Yakob dikubur (lihat Kejadian 35 : 19 ). Sesuai kitab Ruth, kemudian menjadi rumah dari leluhur raja Daud dan raja Daud sendiri (1 Samuel 17:12). Mica 2: 5 mengatakan akan lahir Kristus di Bethlehem. Tempat Bethlehem akan dikenang terus oleh orang Kristen sebagai tempat kudus, karena telah lahir BAYI KUDUS : YESUS KRISTUS, Tuhan kita dalam kasih Nya kepada kita. Kita yang bobrok dibenarkan oleh iman, karena anugerahNya.

Disana ada Gereja tertua didunia yang dibangun oleh Konstantine Agung pada tahun 330. Gereja ini di renovasi oleh kaisar Roma Justinian I pada abad 6 , walau bangunan asli Gereja masih ada. Kota Bethelehem disebut juga Bayt Lahm . Pada sensus 1997 penduduknya 21.947. Selain injil Markus , pengarang injil lain menulis Bethlehem sebagai tempat kelahiran Kristus.

Karena itu mari kita nyanyikan lagu itu dengan mengenang kota Bethlehem, kota kudus tempat kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus.
Bethlehem kota kecil adalah tempat yang dipilih Yesus dalam karya Penyelamatan manusia oleh Tuhan.

SURAT PILATUS KEPADA KAISAR TIBERIUS

Ternyata selama masa pemerintahannya sebagai Gubernur Yudea, Pontius Pilatus pernah menulis sebuah surat kepada Kaisar Tiberius di Roma melaporkan mengenai aktivitas dari pelayanan Yesus. Surat ini ditulisnya pada tahun 32 AD. Berikut adalah isi suratnya : Kepada Yang Mulia Kaisar Tiberius ... Seorang anak muda telah muncul di Galilea dan atas nama Elohim yang mengutusnya, Dia telah berkhotbah dalam sebuah hukum yang baru, dengan perilaku yang rendah hati. Pada mulanya saya mengira tujuan-Nya adalah untuk menimbulkan gerakan revolusi rakyat untuk melawan pemerintahan Roma. Dugaan saya keliru, Yesus Orang Nazaret itu ternyata bergaul lebih akrab dengan orang Romawi daripada dengan orang Yahudi. Suatu hari saya memperhatikan, ada seorang anak muda di antara sekelompok orang, sedang bersandar pada sebatang pohon dan berbicara dengan tenang kepada kumpulan orang banyak yang mengelilingi-Nya. Orang-orang mengatakan kepada saya bahwa itulah Yesus. Terdapat perbedaan yang jelas antara Dia dan orang-orang yang mengelilingi-Nya. Dari rambut dan janggutnya yang pirang, Ia kelihatan seperti "Tuhan" (Lord). Ia berumur sekitar 30 tahun, dan saya belum pernah melihat orang dengan wajah sedemikian simpatik dan menyenangkan seperti Dia. Apa yang membuat Ia kelihatan begitu berbeda dengan orang-orang yang sedang mendengarkan-Nya adalah pada wajah-Nya yang ceria. Karena saya tidak ingin mengganggu-Nya, saya meneruskan perjalanan saya, tetapi saya menyuruh sekretaris saya untuk bergabung dengan mereka dan turut mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian sekretaris saya melaporkan bahwa belum pernah ia membaca karya-karya ahli filsafat manapun yang dapat disejajarkan dengan ajaran Orang itu, dan bahwa Orang itu (Yesus) sama sekali tidak membawa orang ke jalan yang sesat, dan tidak pula menjadi penghasut. Oleh karena itulah kami memutuskan untuk membiarkan-Nya. Ia bebas untuk melakukan kegiatan-Nya berbicara dan mengumpulkan orang. Kebebasan yang tidak terbatas ini menggusarkan orang-orang Yahudi dan menimbulkan kemarahan mereka. Ia tidak menyusahkan orang miskin, tetapi merangsang kemarahan orang-orang kaya dan para tokoh masyarakat. Kemudian saya menulis surat kepada Yesus, meminta Ia untuk diwawancarai dalam suatu pertemuan. Ia datang. Pada saat Orang Nazaret itu tiba, saya sedang melakukan jalan pagi. Dan ketika saya memperhatikan-Nya, saya begitu tertegun. Kedua kaki saya serasa dibelenggu oleh rantai besi yang terikat pada lantai batu pualam. Seluruh tubuh saya gemetar bagaikan seorang yang bersalah berat. Namun Ia tenang saja. Tanpa beranjak, saya begitu terpukau dengan orang yang luarbiasa ini beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan pada penampilan atau perilaku-Nya. Selama kehadiran-Nya saya menaruh hormat dan respek yang mendalam pada diri-Nya. Saya katakan kepada-Nya bahwa pada diri dan kepribadian-Nya terdapat sesuatu yang memancar dan menunjukkan kesederhanaan yang memukau, yang menempatkan Ia di atas para ahli filsafat dan cendekiawan masa kini. Ia meninggalkan kesan yang mendalam pada kami semua karena sikap-Nya yang simpatik, sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Saya telah meluangkan banyak waktu untuk mengamati aktivitas pelayanan menyangkut Yesus dari Nazaret ini. Pendapat saya adalah : Seseorang yang mampu mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan menenangkan gelombang laut, tidak bersalah sebagai pelaku perbuatan kriminal sebagaimana dituduhkan oleh orang banyak. Kami harus mengakui bahwa sesungguhnya Ia adalah Putra Elohim. Pelayan anda yang setia, Pontius Pilatus. Surat di atas tersimpan di Perpustakaan Kepausan di Vatikan, dan salinannya mungkin dapat diperoleh di Perpustakaan Kongres Amerika. Dari surat di atas, tahulah kita mengapa Pilatus "tidak berani" menjatuhkan vonis hukuman mati atas Yesus (Matius 27:24, Yohanes 18 : 31-40 dan 19 : 4,6 - 16)

PEREMPUAN ITU KU PANGGIL MAMA

Perempuan itu ku panggil Mama Yang setiap malam selalu terjaga saat hati sibuah hatinya sedang gelisah... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu sibuk di subuh hari untuk menyiapkan sarapan dan keperluan sibuah hatinya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengajariku untuk menjadi bijaksana,... Yang selalu mengajariku untuk selalu dekat dengan Sang Khalik... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu turut merasakan kesusahanku,.. Yang selalu barusaha memenuhi kebutuhanku... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengkhawatirkan keadaanku saat ku jauh,.. Yang selalu menanyaiku dengan penuh kasih saat ku murung... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat penyakit itu bersarang ditubuhnya dan kubisikan: mama izinkan aku untuk merawatmu dan menjagaimu... Perempuan itu ku panggil Mama Yang yang terbaring lamah di pembaringan... Perempuan itu ku panggil Mama Yang dengan lemah berusaha duduk di pembaringan dan mengatakan pesan terakhirnya kepadaku: "RIS MARI BERBAGI DENGAN MAMA DALAM HIDUPMU"... Perempuan itu ku panggil Mama Yang di saat-saat terakhir hidupnya masih memintaku untuk bernyanyi memuju Sang Khalik serta bertelut dan berdoa untuknya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang malam itu tarikan napasnya semakin berat.... Perempuan itu ku panggil mama Yang saat itu kubertelut di kakinya sambil memanjatkan doa: TUHAN KUMOHON KEBESARAN KASIHMU DAN MUJIZATMU UNTUK KESEMBUHAN DAN MEMBERI PANJANG UMUR BAGI MAMAKU TERCINTA... Perempuan itu ku panggil Mama Yang disaat-saat terakhir hidupnya ku bersujud di kakinya sambil menangis dan memeohon ampun atas semua dosa dan kesalahan yang pernah kubuat selama hidupku bersamanya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang mengatakan kepadaku: RIS MAMA CAPEK DAN MAMA INGIN ISTIRAHAT... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kubisikan: MAMA, KALAU MAMA CAPEK BERISTIRAHATLAH MAMA......... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat detik - detik terakhir tarikan napasnya, aku masih tetap besujud di kakinya sambil meneteskan air mataku ke kakinya sambil berkata: MAMAKU, TOLONG RASAKAN BETAPA AKU SANGAT MENYAYANGI MAMA LEWAT HANGATNYA AIR MATAKU YANG MENETES DI KAKI MAMA INI... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kasih sayangku kepadanya dikalahkan oleh kasih sayang Sang khalik kepada mamaku, sehingga saat itu juga mamaku menghembuskan napasnya yang terakhir untuk pergi menghadap Sang Khalik, untuk pergi meninggalkan kami selamanya dan untuk mengakhiri segala penderitaan hidupnya di dunia ini... Perempuan itu ku panggil Mama yang disaat tubuhnya terbujur kaku dan dingin, kucium mamaku sambil berbisik: MAMAKU TERSAYANG, KASIH SAYANG MAMA KEPADAKU AKAN TETAP MENJADI BINTANG DI DALAM HATIKU YANG AKAN TETAP BERSINAR DAN SINAR KASIH SAYANG ITU AKAN TETAP KUPANCARKAN KEPADA SEMUA ADIK - ADIKU, SAUDARA - SAUDARAKU, DAN SEMUA ORANG YANG BERADA DI SEKITARKU AGAR MEREKA TAHU BAHWA MAMAKU ADALAH FIGUR YANG TERBAIK DAN YANG TELAH MENDIDIKKU MENJADI MANUSIA YANG BIJAKSANA... Perempuan itu ku panggil Mama yang selalu menyebut namaku di dalam setiap doanya Perempuan itu kupanggil Mama Yang kini menetap disurga bersama Sang Khalik yang mengasihinya... TERIMA KASIH MAMAKU TERCINTA, ATAS SEMUA KEHIDUPAN YANG INDAH, YANG TELAH KAU HADIRKAN SELAMA ENGKAU BERSAMAKU DI DUNIA INI........ LIWAT HEMBUSAN NAPASKU SERTA DOAKU, KU TITIPKAN CIUM YANG PALING MANIS UNTUK MAMA DI SURGA SANA....... (Untuk mengenang mamaku yang meninggal tanggal 5 Mei 2009 di Ambon) Anakmu Richard Sahetapy yang Kau panggil RIS

SENG ADA MAMA LAI

SU SENG ADA MAMA LAI PAR BIKING COLO - COLO SU SENG ADA MAMA LAI PAR TUANG PAPEDA DI SEMPE SU SENG ADA MAMA LAI PAR ATOR MAKAN DI MEJA MAKAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR CUCI BETA PUNG PAKIAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR DENGAR BETA PUNG SUSAH SU SENG ADA MAMA LAI PAR JAGA BETA WAKTU SAKIT MAMAE.... PAR APA LAI BETA PULANG KA RUMAH TUA KALO MAMA SU SENG ADA PAR LIA BETA PAR APALAI BETA DUDU DI MEJA MAKAN KALO MAMA PUNG TAMPA GARAM SU SENG ADA PAR SAPA LAI BETA MAU MANYANYI KALO MAMA SU SENG ADA PAR DENGAR... SIOOO MAMA E.... MAMA SU JAUH DARI BETA DENG BASUDARA MAMA SU TENANG DI TETEMANIS PUNG PANGKO TAPI MAMA PUNG PASANG DENG MAMA PUNG DOA TETAP JADI BINTANG YANG BERSINAR DI BETA PUNG HATI SELAMA HIDOP DI DUNIA. JUST FOR MY LOVE MAMA

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

Yesus Manis