11 Desember 2009

Bunga Cantik Dalam Pot yang Retak/Beautiful flowers in the Rift Pot

Sumber :Come and Follow Jesus
Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.

“Aku rasa mungkin karena wajahku .. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…”

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa tidur di kursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi juga sudah berangkat.”Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau ia mau ikut makan. “Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ke tubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak di kursi.”Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak-anak anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak-anak tampaknya tidak terganggu.”

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama beberapa tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman dia menjadi makin bernilai…

Ketika aku menerima kiriman oleh-oleh itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. “Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduh, celaka.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!” Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru-baru ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,”Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki.”

Tapi temanku merubah cara pikirku. “Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu,” ia coba terangkan, “dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman.”

Ia pastilah terheran-heran sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. “Hah, yang ini luar biasa bagusnya,” mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu.” Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini.” Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)

Sahabat adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kepada sahabat-sahabatmu betapa kamu mempedulikannya.. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.

“Your failure is not a reason for GOD to stop loving you”
--------------------
English Version

Our house was directly opposite the entrance of John Hopkins Hospital in Baltimore. We stayed bottom floor and rent the rooms upstairs in the patients to the clinic.

One summer evening, when I was preparing dinner, someone knocked on the door. When I opened, which I looked was a man with a face that was apparently bad. "Why, he is also almost just as tall as my 8-year-old," I thought as I watched the body bent and had all these wrinkles. But his face was terrible, so the next big side effect swollen, red and like raw meat., Hiiiihh ...!

But his voice was so gentle fun when he said, "Good night. I was here to see if you have a room for one night only. I came to treatment and arrived from the East coast, and there was no bus again until tomorrow morning. "He said it was trying to find a room since noon without success, no one seems to have a room.

"I think maybe because of my face .. I know it looks terrible, but my doctor says with a few more treatments ... "

For a moment I begin to doubt, but then the next words reassuring and reassured: "Oh, I can sleep in a rocking chair outside of here, on this side veranda. After all, my bus tomorrow morning to have gone. "I told him that we would find the bed for him, to rest on the porch.

I went into the finishing dinner. Once completed, I invited the old man, if he wanted to come eat. "Well, thank you, but I've got quite a lot of food." And he showed me a brown paper bag. Done with the dishes, I was out talking to him a few minutes. Did not take long to see that this old man has a heart too big for her body stuffed into this small.

He told me he caught fish to support her daughter, her five children, and his wife, who had helplessly forever paralyzed by injuries in the spinal cord. He told me it was not to gripe and complain; even real, every sentence is always preceded with thanksgiving to God for a blessing! He was grateful that there is no pain that accompanies the illness, which apparently is a kind of skin cancer. He thanked God that gave him the strength to go forward and survive.

Time for bed, we open the fabric folding camp bed for him dikamar children. The next morning when I woke up, sheets and blankets are neatly folded and the old man was in the veranda. He refused breakfast, but just before he left to take a bus, he paused, as if asking a great favor, he said, "Excuse me, can I come and stay here again next time when I had to go back treatment? I was not going to bother you one bit. Kok I can sleep well in the chair. "He paused and then added," Your children made me feel at home as at home. Adults seemed bothered by my face look bad, but kids do not seem bothered. "

I say please come back any time. When he came back, he arrived in the morning a little after seven o'clock. As a gift, he brought a large fish and a quart of the largest oyster shells I've ever seen. He said, the morning before he left, he skinned it to stay nice and fresh. I know the bus leaves at 4:00 in the morning, what time whether he had to get up to do all this for us. For several years he came and stayed with us, though he never came without bringing us fish or oysters or shellfish vegetables from her garden. Several times we received the shipment in the mail, always by special delivery, fish and oysters wrapped in a box full of spinach leaves or some kind of cabbage, washed clean every strand. Knowing that he had to walk about 5 km to deliver all that, and realized how little income, posts he became more valuable ...

When I received a gift that, often I thought of our neighbors commented on the day he came home when she first arrived. "Ehhh, you thank him overnight, yes, those wonderful disgusting ugly face that? Last night he refused. Oops, damn .., we're going to lose customers if you accept a man like so! "Oh yes, indeed we may lose one or two guests. But if they had known him, perhaps their illnesses would be so much easier to bear. I know our family will always be grateful, and could have known him; from him we learned what it means to accept the bad without complaint, and the good with gratitude to God.

Recently I visited a friend who has a greenhouse. When he showed the plant flowers, we arrived at a chrysanthemum [timum] the most beautiful of all, full of lush flowers covered with golden yellow. But I was amazed, seeing it embedded in an old bucket, a rusty dented too. In my heart I said, "If these plants, will certainly have the most beautiful plant in the pot I have."

But my friend change the way I thought. "Ahh, I'm short the pot at the time," he tried to explain, "and knew it would be lovely, I think does not matter as I use this junk bucket. It's just for a little while, until I planted the garden. "

He must have surprised myself to see I was laughing so excited, but I imagine events and scenarios like that in heaven. "Huh, it's wonderful that good," maybe that's the word of God when He came to the soul of an old fisherman's nice. "He certainly would not mind starting first in this little body." All this happened a long time, then and now, in garden of God, how high should have a good foundation of this sweet soul.

"Not that views human beings who see God; man sees what the eye before, but God sees the heart." (1 Samuel 16:7 b)

Is a very special friend. They make you smile and encourage you to be successful. They lend an ear and share a word of praise. Show your friends how much you care about .. Make someone smile today.

"Your failure is not a reason for GOD to stop loving you"
--------------------

Racun Penyembuh

Sumber : Come and Follow Jesus
Seorang gadis bernama Lili menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua.Dalam waktu singkat,Lili menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal.Kepribadian mereka berbeda,dan Lili sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertuanya.Lili juga dikritik terus-menerus.

Hari demi hari,minggu demi minggu,Lili dan ibu mertua tidak berhenti konflik dan bertengkar.Keadaan bertambah buruk,karena berdasarkan tradisi Cina,Lili harus memenuhi setiap permintaan sang mertua.Semua keributan dan pertengkaran dirumah itu mengakibatkan suaminya yang miskin itu sangat stress.Akhirnya,Lili tidak tahan lagi dengan tempramen buruk dan didominasi oleh ibu mertuanya,dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Lili pergi untuk menemui teman baik Ayahnya,Mr.Huang,yang menjual jamu.Lili menceritakan semua yang dialaminya dan meminta Mr.Huang mungkin dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannyahttp://www.facebook.com/l/1760e;selesai.Mr.Huang berfikir sejenak dan tersenyum,Lalu berkata

"Lili,saya akan menolong,tetapi engkau harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta"

Lili menjawab

"Baik,saya akan melakukan apa saja yang Tuan minta"

Mr.Huang masuk kedalam ruangan dan beberapa menit kemudian kembali dengan sekantong jamu.Dia memberitahu Lili

"Engkau tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat ini untuk menyingkirkan Ibu mertuamu,Karena nanti orang-orang akan curiga.Karena itu saya memberi sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu.Setiap hari masaklah daging babi atau ayam kesukaannya kemudian campurkanlah sedikit jamu ini.Nah,agar tidak ada orang yang mencurigaimu waktu ia meninggal,engkau harus berhati-hati dan bersikap sangat baik dan bersahabat.Jangan berdebat dengannya,taati dia,dan perlakukan dia seperti seorang Ratu".Lili sangat senang.Dia kembali kerumah dan memulai rencana pembunuhanibu mertuanya.

Minggu demi minggu berlalu,bahkan bulan demi bulan.Setiap hari Lili melayani Ibu mertua dengan masakan yang dibuat sacara khusus.Lili ingat apa yang dikatakan Mr.Huang tentang menghindari kecurigaan,ia mengendalikan emosinya,menaati Ibu mertua,memperlakukan ibu mertuanya seperti ibunya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

Setelah enam bulan,seluruh suasana rumah berubah.Lili telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga ia hampir tidak pernah meledakkan amarah atau kekecewaannya.Dia tidak pernah berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya,yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

Sikap ibu mertua kepada Lili berubah.Dia mulai menyayangi Lili seperti anaknya sendiri.Dia terus memberitahu teman-teman kenlannya bahwa Lili adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya.Lili dan ibu mertuanya sekarang berlaku seperti Ibu dan anak,suami Lili sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

Suatu hari Lili datang menemui Mr.Huang dan minta pertolongan lagi.Dia berkata

"Mr.Huang tolonglah saya untuk mencegah racun itu untuk membunuh ibu mertua saya.Dia telah menjadi ibu mertua yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri.saya tidak ingin ia mati karena racun yang saya berikan ".Mr.Huang tersenyum dan mengangkat kepalany.ia berkata,
"Lili tidak usah khawatir,saya tidak pernah memberimu racun.jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya.satu-satunya racun yang penah ada adalah dalam fikiran dan sikapmu terhadapnya,tetapi semua telah lenyap oleh kasih yang engkau berikan kepadanya."

Saudara. . . Pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana engkau memperlakukan orang,demikian juga mereka akan memperlakukan kita?Pepatah cina juga mengatakan :Orang mengasihi orang lain akan dikasihi juga oleh orang lain

Jadi fikirkanlah apa yang akan Kita perbuat untuk orang lain karena semua yang kita kerjakan adalah cermin dimana kita akan mendapatkannya juga.

Sekian semua

Tuhan Yesus Memberkati kita semua. . .
--------------------

HADIAH NATAL UNTUK ALMA

Sumber : Elia Stories
Berikut ini adalah kisah nyata yang ditulis oleh Mariane Holbrook dengan judul asli "LITTLE ALMA'S CHRISTMAS PRESENT".
Kisah nyata ini saya ambil dari www.christian-article-bank.com.
Semoga ada manfaatnya saat kita menyambut dan merayakan Natal tahun ini.

Hadiah Natal Untuk Alma
Oleh Mariane Holbrook

Saat itu adalah malam menjelang natal di tahun 1970 dan seorang anak perempuan kecil berdoa untuk sebuah boneka. Dia tak pernah memiliki boneka selama ini.

Alma memandang ke sekeliling rumahnya, rumah pertanian yang sederhana. Tidak ada pohon natal di sudut rumah. Tak ada lilin yang menyala di jendela. Tidak ada tumpukan kado Natal di atas meja. Tapi, rumah itu terlihat bersih dan hangat dan Alma merasa bahagia dan bersyukur.

Alma mencintai rumahnya dan dia juga mencintai gereja kecil bercat putih yang ada di desanya. Di gereja itu, dia mendengar kisah tentang Bayi Jesus yang juga miskin, yang bahkan tidak memiliki sebuah kasur untuk tidur, dan yang lahir di atas tumpukan jerami di sebuah gudang ternak. Dia mendengarkan cerita tentang kelahiran-Nya berulang-ulang dengan rasa kagum dan hormat.

Malam ini Alma merasa sangat bahagia. Program Natal Tahunan di gerejanya mengundang hampir seluruh keluarga yang tinggal di sebuah sisi bukit kecil, desa Pennsylvania itu untuk bernatalan di gereja. Alma, bersama ibu dan adik-adiknya, berjalan menuruni jalanan desa yang panjang, melalui salju tebal yang telah disesaki oleh kereta gerobak dan salju yang ditarik oleh kuda. Suasana Norman Rockwell tergambar saat itu, saat-saat Amerika permulaan, cuaca yang dingin, malam di musim dingin yang mempercepat langkah-langkah kaki manusia, namun menyegarkan jiwa.

Setelah duduk di dalam gereja, Alma memandang ke sekelilingnya. Murid-murid sekolah minggu telah menghias pohon natal yang berdiri di depan altar di dekat piano. Lilin-lilin di pohon natal itu memberikan sebuah cahaya lembut ke bagian atas gereja. Kemudian pendeta membaca kisah tentang kelahiran Jesus, kemudian mengundang setiap orang menyanyikan kidung puji-pujian setelah lagu-lagu Natal. Seorang pembantu gereja (penatua) memberikan kepada masing-masing anak kecil sejumlah cokelat dan permen yang dibungkus dalam sebuah kertas serbet dan diikat dengan pita merah.

Di bawah pohon Natal, terdapat tumpukan kado Natal yang tinggi. Saat itu merupakan kebiasaan bagi para keluarga untuk membawa hadiah mereka – yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan teman – ke gereja dan hadiah itu akan dibuka di depan semua jemaat yang hadir. Tidak pernah lepas dari perhatian Alma, bahwa seperti biasanya, ibunya tidak membawa hadiah apa pun dan Alma pun tidak berharap apa-apa. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Hal ini karena ayahnya adalah seorang penebang kayu dan seorang pengumpul ginseng. Ketika ayahnya pulang, uang yang tersedia sangat sedikit.

Akhirnya, pendeta berjalan menuju pohon Natal, mengambil kado pertama dan berkata,"Kado ini untuk Blanche dari kedua orang tuanya". Semua orang bertepuk tangan ketika Blanche dengan gembira berjalan ke depan untuk menerima hadiah. Hadiah itu berupa switer indah berwarna putih yang dijahit dengan tangan.

Pendeta mengambil kado demi kado, memanggil hampir setiap orang yang ada di gereja. Semua anak laki-laki mendapatkan kereta api mainan yang terbuat dari ukiran kayu dari ayah mereka; kereta salju mainan baru diangkat tinggi-tinggi oleh pendeta supaya dilihat oleh semua jemaat;berbotol-botol parfum dengan merek "April in Paris" dipersembahkan oleh para anak perempuan kepada ibu mereka. Sebuah gangsing dengan warna merah menyala berputar mengitari lantai kayu gereja. Semua memandang dengan gembira. Alma pun ikut tertawa dan bertepuk tangan. Dan dia menunggu dan menunggu kado dari pendeta.

Akhirnya, pendeta pun mengambil kado terakhir. Alma menahan napas. Kado ini pasti untuknya;boneka yang seringkali ia doakan. "Christine," pendeta memanggil sebuah nama,"kado ini untukmu". Christine membuka kotak yang panjang dan sempit itu dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka porselin besar dengan rambut blonde, mengenakan gaun panjang merah muda dan topi yang sesuai. Christine memeluk boneka itu dengan erat, dan berlari ke arah ayah-ibunya untuk berterima kasih atas hadiah mewah itu.

Alma berdiri dengan tenang ketika lagu puji-pujian terakhir dinyanyikan dan setiap anak dengan satu lengan penuh berjuang membawa kado-kado itu ke kereta mereka. Akhirnya, Alma mengikuti keluarganya keluar dari gereja dan memulai perjalanan panjang ke rumah.

Dengan cepat, dia berjalan ke arah sebuah tonggak kayu dimana kuda biasa ditambatkan, dan tanpa sengaja menabrakkan keningnya hingga
terjatuh ke belakang ke arah gumpalan salju. Dengan rasa bingung, ia kembali berdiri dan berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan keluarganya yang sama sekali tidak melihatnya jatuh. Sebuah benjolan seperti telur dengan cepat membesar di keningnya, sebuah benjolan tulang yang tetap terlihat jelas sepanjang hidupnya. Namun, Alma terlihat seperti menganggapnya layaknya sebuah lencana kehormatan dan dengan tertawa menyebutnya sebagai kado Natal di tahun 1907. Alma tidak menganggap kecelakaan itu sebagai kenangan pahit, tapi sebagai sebuah kemenangan. Alma, seorang penganut Kristiani yang bahagia sepanjang hidupnya hingga meninggal di usia yang ke 96.

Catatan :
Alma adalah ibu dari Mariane Holbrook, seorang pensiunan guru, pengarang dua buku, seorang musisi dan seniman.
Dia tinggal bersama suaminya di Pantai Carolina Utara.

HADIAH NATAL UNTUK ALMA

Sumber : Elia Stories
Berikut ini adalah kisah nyata yang ditulis oleh Mariane Holbrook dengan judul asli "LITTLE ALMA'S CHRISTMAS PRESENT".
Kisah nyata ini saya ambil dari www.christian-article-bank.com.
Semoga ada manfaatnya saat kita menyambut dan merayakan Natal tahun ini.

Hadiah Natal Untuk Alma
Oleh Mariane Holbrook

Saat itu adalah malam menjelang natal di tahun 1970 dan seorang anak perempuan kecil berdoa untuk sebuah boneka. Dia tak pernah memiliki boneka selama ini.

Alma memandang ke sekeliling rumahnya, rumah pertanian yang sederhana. Tidak ada pohon natal di sudut rumah. Tak ada lilin yang menyala di jendela. Tidak ada tumpukan kado Natal di atas meja. Tapi, rumah itu terlihat bersih dan hangat dan Alma merasa bahagia dan bersyukur.

Alma mencintai rumahnya dan dia juga mencintai gereja kecil bercat putih yang ada di desanya. Di gereja itu, dia mendengar kisah tentang Bayi Jesus yang juga miskin, yang bahkan tidak memiliki sebuah kasur untuk tidur, dan yang lahir di atas tumpukan jerami di sebuah gudang ternak. Dia mendengarkan cerita tentang kelahiran-Nya berulang-ulang dengan rasa kagum dan hormat.

Malam ini Alma merasa sangat bahagia. Program Natal Tahunan di gerejanya mengundang hampir seluruh keluarga yang tinggal di sebuah sisi bukit kecil, desa Pennsylvania itu untuk bernatalan di gereja. Alma, bersama ibu dan adik-adiknya, berjalan menuruni jalanan desa yang panjang, melalui salju tebal yang telah disesaki oleh kereta gerobak dan salju yang ditarik oleh kuda. Suasana Norman Rockwell tergambar saat itu, saat-saat Amerika permulaan, cuaca yang dingin, malam di musim dingin yang mempercepat langkah-langkah kaki manusia, namun menyegarkan jiwa.

Setelah duduk di dalam gereja, Alma memandang ke sekelilingnya. Murid-murid sekolah minggu telah menghias pohon natal yang berdiri di depan altar di dekat piano. Lilin-lilin di pohon natal itu memberikan sebuah cahaya lembut ke bagian atas gereja. Kemudian pendeta membaca kisah tentang kelahiran Jesus, kemudian mengundang setiap orang menyanyikan kidung puji-pujian setelah lagu-lagu Natal. Seorang pembantu gereja (penatua) memberikan kepada masing-masing anak kecil sejumlah cokelat dan permen yang dibungkus dalam sebuah kertas serbet dan diikat dengan pita merah.

Di bawah pohon Natal, terdapat tumpukan kado Natal yang tinggi. Saat itu merupakan kebiasaan bagi para keluarga untuk membawa hadiah mereka – yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan teman – ke gereja dan hadiah itu akan dibuka di depan semua jemaat yang hadir. Tidak pernah lepas dari perhatian Alma, bahwa seperti biasanya, ibunya tidak membawa hadiah apa pun dan Alma pun tidak berharap apa-apa. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Hal ini karena ayahnya adalah seorang penebang kayu dan seorang pengumpul ginseng. Ketika ayahnya pulang, uang yang tersedia sangat sedikit.

Akhirnya, pendeta berjalan menuju pohon Natal, mengambil kado pertama dan berkata,"Kado ini untuk Blanche dari kedua orang tuanya". Semua orang bertepuk tangan ketika Blanche dengan gembira berjalan ke depan untuk menerima hadiah. Hadiah itu berupa switer indah berwarna putih yang dijahit dengan tangan.

Pendeta mengambil kado demi kado, memanggil hampir setiap orang yang ada di gereja. Semua anak laki-laki mendapatkan kereta api mainan yang terbuat dari ukiran kayu dari ayah mereka; kereta salju mainan baru diangkat tinggi-tinggi oleh pendeta supaya dilihat oleh semua jemaat;berbotol-botol parfum dengan merek "April in Paris" dipersembahkan oleh para anak perempuan kepada ibu mereka. Sebuah gangsing dengan warna merah menyala berputar mengitari lantai kayu gereja. Semua memandang dengan gembira. Alma pun ikut tertawa dan bertepuk tangan. Dan dia menunggu dan menunggu kado dari pendeta.

Akhirnya, pendeta pun mengambil kado terakhir. Alma menahan napas. Kado ini pasti untuknya;boneka yang seringkali ia doakan. "Christine," pendeta memanggil sebuah nama,"kado ini untukmu". Christine membuka kotak yang panjang dan sempit itu dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka porselin besar dengan rambut blonde, mengenakan gaun panjang merah muda dan topi yang sesuai. Christine memeluk boneka itu dengan erat, dan berlari ke arah ayah-ibunya untuk berterima kasih atas hadiah mewah itu.

Alma berdiri dengan tenang ketika lagu puji-pujian terakhir dinyanyikan dan setiap anak dengan satu lengan penuh berjuang membawa kado-kado itu ke kereta mereka. Akhirnya, Alma mengikuti keluarganya keluar dari gereja dan memulai perjalanan panjang ke rumah.

Dengan cepat, dia berjalan ke arah sebuah tonggak kayu dimana kuda biasa ditambatkan, dan tanpa sengaja menabrakkan keningnya hingga
terjatuh ke belakang ke arah gumpalan salju. Dengan rasa bingung, ia kembali berdiri dan berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan keluarganya yang sama sekali tidak melihatnya jatuh. Sebuah benjolan seperti telur dengan cepat membesar di keningnya, sebuah benjolan tulang yang tetap terlihat jelas sepanjang hidupnya. Namun, Alma terlihat seperti menganggapnya layaknya sebuah lencana kehormatan dan dengan tertawa menyebutnya sebagai kado Natal di tahun 1907. Alma tidak menganggap kecelakaan itu sebagai kenangan pahit, tapi sebagai sebuah kemenangan. Alma, seorang penganut Kristiani yang bahagia sepanjang hidupnya hingga meninggal di usia yang ke 96.

Catatan :
Alma adalah ibu dari Mariane Holbrook, seorang pensiunan guru, pengarang dua buku, seorang musisi dan seniman.
Dia tinggal bersama suaminya di Pantai Carolina Utara.

9 Desember 2009

SANG WAKTU

Sumber : http://natal.sabda.org/sang_waktu

Tak ada waktu pada-Nya
Karena Ia tak berwaktu
Namun Ia yang tak berwaktu,
telah membatasi diri-Nya oleh waktu

Dalam kesunyian malam itu,
waktu-Nya mulai dihitung
Ketika tangisan-Nya yang pertama menggema
Mendetakkan waktu-Nya yang pertama di bumi.

Oh, Sang penentu waktu yang tak berwaktu
Mengapa Engkau membiarkan diri-Mu di atur oleh waktu?
Mengapa Engkau merelakan diri-Mu dibatasi oleh waktu?
Mengapa Engkau menghadirkan diri-Mu ke dalam waktu?

Malam itu, dalam lenguhan hewan yang tak mengenal waktu
Engkau datang untuk memberi waktu yang baru bagi dunia
Engkau datang untuk menawarkan waktu sebagai anugerah
Engkau datang untuk mengatakan waktunya tidak lama lagi

Sebab dunia yang terbatas oleh waktu akan segera berakhir di dalam waktu

Engkau datang untuk mengatakan, waktuku adalah saat ini
Engkau datang untuk mengatakan kepadaku,
waktu-ku hanya sementara di sini
Engkau datang untuk mengatakan,
Berdamailah dengan Aku Sang Waktu yang sejati
Agar aku dapat bersama-Mu tanpa waktu.

By: Roos Lusy

KESAKSIAN PELAWAK KANG MAMAN 2

Sumber: Come and Follow Jesus
Christian Imanuel 09 Desember jam 7:53 Balas
Saya sering diminta berdoa untuk orang sakit, Puji Tuhan… mereka sembuh setalah saya doakan. Ada adik saya dari Bandung, dulu benci saya. Suatu hari dia datang kepada saya. Katanya,”Kang saya disantet dukun dari Cirebon”. Matanya sampai keluar. sudah dioperasi sampai habis dua juta juga nggak sembuh-sembuh. Terus saya bilang sama dia, “Mau nggak kamu didoain?” dia mau dan menginap di rumah saya. Saya pakai minyak urapan, karena kemana-mana saya selalu bawa minyak zaitun. Saya tumpangi tangan ke dia dan berdoa “Tuhan Yesus, sembuhkan adik saya, Kalau ada roh-roh jahat, roh-roh santet, roh-roh apa saja dalam tubuh adik saya, kau aku hancurkan dalam nama Yesus Kristus”. Saat itu juga, keluar dari hidungnya mimisan. Malam harinya dia mimpi begini, “Yesus yang menyembuhkan, Yesus yang memgeluarkan roh-roh jahat dari tubuhku, Dia rambutnya panjang.” kata adiku. Saya bilang “Makanya percaya pada Gusti Yesus Kristus, Karena kalau percaya kepada Gusti Yesus, akan sembuh”. Setelah pulang ke Bandung, dia bilang mau ngikut Gusti Yesus. Kata adik saya,”Bilangin ya pada saudara-saudara di Bandung, di Garut, kalau saya sudah sembuh tanpa dokter. Yesuslah dokter di atas segala dokter.”

Saya dikaruniai 4 anak .yang paling besar sudah SMP, yang paling kecil umurnya 5 tahun. Istri saya namanya Siti Cholifah. Sekarang ini saya ajari mereka tentang Kristus. Saya nggak mau mereka sia-sia. Kenapa orang lain diselamatkan, kok keluarga saya tidak? Saya terus beritakan Injil kepada semua orang. Ke kampung-kampung, ke pegunungan, sampai tempat yang terpencil saya beritakan. Pokoknya saya jalan terus, meskipun nggak punya kendaraan. Saya tidak takut bersaksi di mana-mana. Sebab saya tidak menjelekan agama. Kalau orang lain tidak menghormati saya, kita sih tetap hormatinya. Saya terus memberitakan Injil, sambil mendoakan orang sakit. Saya mau mereka mengenal Yesus. Untuk apa saya dianiaya kalau bukan untuk Yesus. Kalau saya memberitakan Injil, saya tidak melihat suku. Mau suku apapun, pokoknya saya rangkul. Ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan kemana saja, saya juga pernah. Saya beritakan injil ke gembel-gembel, gelandangan-gelandangan, tukang becak, ulama-ulama, Pejabat-pejabat, penyanyui-penyanyi, Puji Tuhan banyak yang terima.

Tapi saya tidak mengkristenkan orang. Pokoknya saya beritakan dengan kasih. Pernah ada sudara saya yang datang. Dia tanya,”Ngapain kamu jadi Kristen? Miskin, sengsara. Sudah ini tanda tangan!” Saya mau dikasih rumah kalau saya mau kembali ke agama dulu. Saya sampai menangis. Saya berdoa di kebun waktu magrib. Saya pilih surga. Teman-teman saya di Sangkuriang, ada yang sudah tahu. Malah ada yang mulai bertobat, rumahnya di Cirebon. Sekarang memang jarang tampil, karena rumahnya jauh-jauh. Tapi setiap Agustus banyak undangan menghibur di masyarakat. Kalau ada peresmian ,saya tampil memainkan calung. Saya pernah ditawarkan sekolah teologi, tapi saya belum kepingin. Saya pingin beritakan Injil saja. Saya selalu minta pertolongan Roh Kudus supaya mengerti. Kuku saya sekarang sudah tumbuh lagi, yang bekas cabutan tadi. Jadi orang Kristen memang nggak selalu enak. Tapi, sekarang banyak yang maunya enak-enak, maunya besar-besar. Coba lihat saya, yang dianiaya begini. Ini sekarang masih sakit, tapi saya hanya serahkan pada Yesus saja.

Kiranya kesaksian ini menjadi berkat bagi saudara-saudar semuanya. Adapun ayat yang saya sukai adalahFilipi 4 ayat 13 dan 19: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulaiaanNya dia dalam Kristus Yesus”.

KESAKSIAN PELAWAK KANG MAMAN 1

Sumber : Come and Follow Jesus
Christian Imanuel 09 Desember jam 7:52 Balas
Bersama ini saya kirimkan kesaksian dari seorang Sunda yg jadi salah satu anggota group lawak dari Bandung dan pimpinannya adalah sdr Us-us (mantan bintang film di thn 60 an).

Kesaksian ini saya dengar sendiri waktu ada rubrik kesaksian di Persekutuan doa yang siadakan dirumahnya Jendral (Purn) Pranowo, mantan dirjen Imigrasi. Fisik dari orang tersebut pendek sekitar 150 cm tapi giginya ada 4 buah yg copot karena dipukulin sama teman dan kerabatnya ketika dia pindah agama (bertobat). Kesaksian berikut ini saya ambil dari majalah Narwastu. Adalah kang Maman alias Pak Elisa Dari Sungai Ciliwung ke Sungai Yordan. Sebelumnya ia bernama Muhammad Shalat, karena ia dilahirkan pas jam sembayang (Shalat umat Muslim)

Panggilan akrabnya adalah Maman. Tapi…, kata dia, karena sekarang sudah menyeberang dari Sungai Ciliwung ke Sungai Yordan, maka namanya diganti menjadi Elisa. Wajahnya kelihatan awet muda, padahal usianya sudah 55 tahun. Boleh jadi karena ia memang selalu gembira, atau mungkin lantaran ia seorang pelawak.

Ditemui NARWASTU di sebuah gereja dibilangan Depok. Kang Maman atau Pak Eliza memberikan kesaksiannya berikut ini…

Dulu saya bukan orang Kristen, dan saya pernah juara membaca kitab suci agama saya yang dulu (Islam) karena itulah saya diangkat menjadi pegawai di Kantor Kecamatan. Saya juga mantan pelawak Grup Sangkuriang Bandung. Saya mengikut Kristus baru dua tahun ini. Ceritanya mula-mula ada orang datang ke kantor kecamatan tempat saya berkerja untuk mengurus surat-surat. Setelah saya baca, ternyata dia orang Kristen, dan saya nggak mau layani. Saya benci orang Kristen, lalu saya pulang padahal dia masih nunggu terus di kantor kecamatan. Di rumah saya sembahyang saya memang tidak pernah ketinggalan sembahyang. Waktu itu saya bersujud minta ampun kepada Tuhan. “Ya Tuhan ampunilah perbuatan-perbuatan saya yang salah tadi siang”.

tiba-tiba ada suara deru angin, dan saya langsung melek. Ternyata ada yang berdiri di hadapan saya. Dia menampakan wajah-Nya dan badan-Nya dengan pakaian yang putih, pakai selendang merah bawa tongkat. Merahnya menyala tidak ada bandingnya. Sendal-Nya seperti bakiak dan berwarna emas. Lalu Dia bilang begini,”Syalom…, syalom.” Saya nggak mengerti apa syalom itu. Tapi…, seperti langit mau pecah ketika terdengar suara-Nya. Ketika itu spontan saya mengucap “Astagafirullah aladzin.” Saya didatangi kira-kira sekitar 5 menit. Lalu Dia bilang begini, “anakku, Akulah Isa Almasih, dan Akulah Yesus Kristus. Akulah jalan yang lurus dan akulah yang terkemuka di dunia dan di akhirat. ” Saya seperti nggak sadar, lalu bertanya “Kau ini siapa?” Lalu Dia menaruh tangan-Nya di kepala saya. “Aku menumpangi kepala kamu, Aku akan memberkati kamu. Ikutlah Aku, Jalan yang lurus. “Astagafirullah aladzin…” ketika saya melek lagi Dia sudah nggak ada. Lalu saya membangunkan istri saya. “Mah.., bangun…” Dia tanya,”Aya naon(Ada apa)?”. Lalu saya ceritakan kejadian itu. Dia malah bilang,”Itu teh jurik, setan, iblis.” Dia suruh saya berdoa. Saya berdoa lagi, dan istri saya kembali tidur, saya nggak bisa tidur. Sampai satu minggu saya nggak bisa tidur. Pikiran saya nggak tenang. Saya merasa masih melihat wajah-Nya terus-menerus. Rumah tangga saya jadi guncang, dan akhirnya saya keluar dari pekerjaaan.

Suatu sore, saya berjalan-jalan sampai kedekat gereja. Waktu itu ada kebaktian, jemaatnya nggak banyak lalu saya dengerin saja dari luar. Tapi Pak Pendeta ngajak saya masuk. “Entar diberkati Tuhan,” katanya. Saya takut masuk, nanti saya disalib pikir saya begitu. Saya pulang saja…! Minggu berikutnya saya ikut seminar di Gereja itu, ada pelepasan katanya. Walaupun saya nggak tahu apa itu artinya pelepasan, namun saya mengikuti pelepasan tersebut, lalu dikasih Alkitab sama Pak Pendeta. Tapi nggak pernah saya bawa ke rumah. Saya taruh saja di kebun singkong, Takut… karena mertua saya kan ulama. Tapi saya belajar terus di gereja itu. Selama tiga bulan saya membohongi istri. Kalau ditanya,”Bapak dari mana?” Saya jawab’”Kondangan, Mah…”. Istri saya nggak percaya “Kok siang malam kondangan terus. Punya pacar kali?” katanya curiga. Saya nggak mau begitu terus, sayakan umat Kristus.

Akhirnya saya mulai mendoakan orang sakit, nggak dibawa ke dokter tapi sembuh. Yang lumpuh, saya doakan demi Nabi Isa Almasih, dia sembuh. Hingga suatu hari ada yang datang ke mertua saya, dan bilang,”Pak…, sekarang mantunya jadi dukun Kristen lho!”

Inilah titik awal dimana iman saya kepada Kristus diuji. Malam itu juga jam dua subuh saya dibangunin sama mertua saya.”Bangun setan, anjing laknat lu..!!!” Saya dibilang orang kafir lalu diusir. Saya pergi malam itu juga ngajak istri dan anak saya. Istri saya langsung minta dicerai, tapi saya nggak mau. Lalu saya sujud kepada-Nya”Tuhan sekarang saya hidup di dalam namaMu, Yesus Kristus jangan sampai sia-sia, berkati istri saya karena dia tidak mengenal Engkau”. Tuhan memberkati saya, saya bisa ngontrak rumah.

Tapi kemudian saya dianiaya oleh penduduk di situ. Waktu itu hari Jumat, saya dipukuli, mulut saya dimasuki kayu dengan paksa sampai gigi saya rontok. Waktu itu saya sedang jalan pulang ke rumah, Saya di cegat dan diseret sepanjang jalan menuju rumah saya, sampai tangan saya terkelupas semua kulitnya. tidak hanya sampai disitu, didalam rumah tangan saya dijepit pakai meja sampai patah. Kira-kira 5 bulan setelah penganiayaan itu saya sudah pulih kembali. Namun dianiaya lagi, dipukuli lagi hingga kaki saya cacat. Puji Tuhan, Karena kasih-Nya saya kembali dipulihkan, dan sampai sekarang saya bisa jalan.

Rumah tangga saya semakin terguncang, istri saya minta dicerai lagi, tapi saya nggak menceraikannya. Saya masih dianiaya terus sampai akhirnya saya minta cepat-cepat dibabtis.”Pak Pendeta, saya minta cepat dibabtis . Takut umur saya pendek.”Saya memang takut mati karena setiap hari berdarah trus.

Setelah dibabtis, saya masih juga dianiaya. Suatu hari, saya dipanggil oleh saudara-saudara saya di daerah Ciapus, Bogor. Saya disuruh minum kopi. Yang lain, empat orang, pada minum teh. Jadi saya curiga apa lagi mereka kelihatan bisik-bisik. Saya belum berani minum. Tapi Roh Kudus bilang, “AnakKu.., minumlah kopi itu, karena sudah dikuduskan oleh namaKu Yesus Kristus, hormatilah saudaramu”. Lalu saya minum kopi itu. Ketika saya meminum kopi tersebut mereka bisik-bisik. Tapi, Puji Tuhan, sampai pulang ke rumah saya nggak apa-apa. Kemudian, saya dipanggil oleh kakak saya. Disuruh betulin kandang kambingnya. Saya tidak tahu kalau di belakang saya waktu itu ada minyak tanah dalam ember. Tiba-tiba saya diguyur dan sempat dibakar. Katanya sih apinya sudah nyala, luar biasa… saya nggak merasakan apa-apa. Dan pernah juga kuku saya dicabut satu. Tapi dua hari kemudian sudah sembuh. Saya berdoa, agar Tuhan memberkati mereka yang menganiaya saya. Tapi kemudian, mertua saya meninggal. Sebelumnya dia pernah paksa saya supaya pindah lagi ke agama dulu. Jadi saya ini kenyang dianiaya. Saya dibenci masyarakat. Dibilang setan, kafir, anjing, dan segala macam. Tapi, Puji Tuhan.. saya selalu merasakan berkat dan pertolonganNya.

Kalau agama saya diejek orang, saya bilang,”Lho.. kenapa..? Inikan untuk keselamatan saya sendiri”. Saya dulu belum bisa menerangkan firman, buta rohani. Tapi saya kemudian belajar akan kebenaran Firman Tuhan. Saya mulai bertumbuh sampai sekarang. Saya mulai bersaksi di mana-mana, lama-lama makin banyak yang kenal. Saya sering diundang ke sana-sini, saya juga dikenalkan sama pendeta ini pendeta itu.

Saya selalu bertanya kepada istri saya, “setelah jadi Kristen, saya jahat nggak?” Puji Tuhan, istri saya nggak mau diceraikan sekarang. Sedikit demi sedikit istri saya dikasih tahu Injil, dia mulai berubah, walaupun masih sedikit. Saya percaya Tuhan akan memberkati dan memperlihatkan kuasa-Nya seperti kepada saya. Sekarang di dalam rumahtangga saya ada damai sejahtera dan tidak kekurangan apa-apa.

`` Tips Bekerja Di Dalam TUHAN

Sumber : Come and Follow Jesus
Andry Mbura 08 Desember jam 6:26 Balas
Tips bekerja di dalam Tuhan
________________________________________
1. Andalkan Tuhan
Sertakan Tuhan dlm segenap pekerjaanmu, karena banyak yang harus kita kerjakan tetapi tidak diajarkan di bangku sekolah dan banyak yg terjadi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. So, tanpa mengandalkan Tuhan....we can do nothing!

2. Carilah Pengetahuan
Ilmu pengetahuan, cara bekerja yang benar & efisien perlu kita cari. Jangan sungkan belajar dan meminta petunjuk jika tidak mengerti. Dan bagi yang sudah mengerti, jangan sungkan untuk membantu yang belum mengerti 'Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engaku menjadi bijak di masa depan'.

3. Rajin dan Cekatan
Hanya orang rajin dan cekatan yang akan diingat oleh pimpinannya, terutama waktu menetapkan promosi jabatan dan kenaikan gaji, 'Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya'.

4. Berlakulah Jujur & Benar
'Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa'.

5. Jaga Mulut
Mengerjakan tugas-tugas adalah suatu pekerjaan yang berat, jangan ditambahi lagi dengan masalah lain karena mulut kita yang bocor. 'Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya memelihara diri daripada kesukaran'.

6. Sabar dan Tenang

7. Jangan Ingin Cepat Kaya
Menjadi kaya adalah impian kebanyakan orang dan sah2 saja, yang harus diperhatikan adalah:
- Menjadi kaya, bukanlah tujuan utama dalam hidup ini. Jangan jadikan harta sebagai tujuan hidup, tapi harta adalah sarana untuk mencapai tujuan hidupmu. 'dimana hartamu berada, disitu hatimu berada'.
- Ingin cepat kaya seringkali menjebak orang-orang ke dalam perbuatan yang berdosa.
- Menikmati hidup lebih penting daripada menjadi kaya tetapi mempunyai banyak masalah.
'Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.'


Met Beraktifitas ....
Hari ini harus lebih baik dari kemarin.Jangan lupa memulai dengan doa agar mendapatkan berkah di setiap langkah..
Have A nice Day. Good Luck.... GOD BLESS

Ingat Bebek

Sumber : Come and Follow Jesus
Lavenia Gisela Patricia 07 Desember jam 15:00 Balas
Ada seorang Laki-laki sedang mengunjungi kakek dan nenekny di ladang mereka.Disana dia mendapatkan sebuah ketapel untuk bermain-main dihutan.Dia berlatih berkali-kali untuk membidik sasaran tetapi tidak pernah berhasil mengenainya.Dengan kesal ia kembali untuk makan malam.

Pada waktu pulang dilihatnya bebek peliharaan neneknya.Dalam keadaan kesal ,dibidiknya bebek itu di kepalanya,sehingga mati.Dia terparanjat dan sedih.Karena panik,disembunyikannya bangkai bebek itu di bawah tumpukan kayu.Ia melihat kakak perempuannya,Sally,mengawasinya.Sally melihat semuanya,tetapi tidak berkata apa-apa.Setelah makan nenek berkata

"Sally ,cuci piring!" tetapi Sally berkata
"Nek Jony mengatakan bahwa dia ingin membantu di dapur,bukankah demikian Jony?" Dan Sally berbisik kepada Jony

"Ingat Bebek"
Jadi Jony mencuci piring.

Kemudian kakek menawarkan anak-anak untuk pergi memancing,tetapi sang nenek berkata

""Maaf aku perlu Sally untuk menyiapkan makanan"

tetapi Sally tersenyum dan berkata

"Tidak apa-apa,karena Jony memberi tahu bahwa ia ingin membantu"

Sally berbisik lagi kepada Jony

"Ingat Bebek"
Jadi,Sally pergi memancing dan Jony tingal dirumah.


Setelah beberapa hari Jony mengerjakan tugasnya dan Tugas-tugas Sally,akhirnya dia sudah tidak tahan kagi.Ia menemui sang nenek dan mengaku telah membunuh bebek peliharaannya dan meminta ampun.Sang nenek berlutut dan merangkulnya ,katanya,

"Sayangku aku tahu,.Tidakkah kau lihat aku berdiri di jendela dan melihat semuanya??? karena aku mencintaimu aku memaafkanmu,.hanya aku heran,berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu?"

Aku tidak tahu masa lalumu.Aku tidak tahu dosa apakah yang dilempar musuhmu kemukamu.Tetapi apapun itu ,aku ingin memberitahukan sesuatu kapadamu bahwa Tuhan Allah selalu berdiri dijendela,dan Dia melihat segalanya.Dan karena Dia mencintaimu,Dia akan mengampunimu jika engkau memintanya.Hanya Dia heran ,berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu???".Hal yang Luar Biasa adalah bahwa Dia tidak hanya mengampuni tetapi melupakan semua kesalahan-kesalahnmu.

Tuhan Yesus Memberkati kita semua

Amin.

Bersepeda Bersama Yesus

Sumber Come and Follow Jesus
Christian Imanuel 06 Desember jam 7:20 Balas
Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi ... biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"

Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan... orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan... perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita." Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh... menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata... "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."

Matius 1:28; ' Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.'

----------------------------------------------------------------------------------------English Version

Ride with Jesus

At first, I see God as an observer; a judge who noted all my fault, as a material consideration whether I will be entered into heaven or cast into hell when I die. He seemed far away, like a king. I know him through pictures of him, but I do not know Him.

When I met Jesus, my view changed. My life became like a racing bike, but the bike is a bike tandem, and I knew that Jesus sat at the back, helping me pedal a bike.

I do not know since when Jesus asked me to exchange places, but since then my life changed. When I was in control, I know the course. Was boring, but more can be predicted ... usually, it did not last long. But, when Jesus came back in control, he knows the way a long and pleasant. He took me up the mountain, well past the stones of the steep cliff at the tense. Moments like that, I could just hang myself fully to Him! Sometimes it felt like something 'crazy', but he said, "Come on, pedal on the pedals!"

I was scared, worried and asked, "I want to be taken to where?" Jesus laughed and did not answer, and I began to learn to believe. I forget the boring life and entered a fascinating new adventure. And as I said, "I'm scared!" Jesus lowered speed, pedaling casually holding my hand.

He took me to the people who provide gifts that I need ... the people that helped heal me, they accepted me and gave me joy. They membekaliku with the things that I need to continue the journey ... my journey with my Lord. Then, we went back to our bike.

Then, Jesus said, "Give gifts to those who need it; if not, the presents will be a burden for us." So, I did. I handed out the presents to the people we met, according to their needs. I learned that it is something that gives joy.

At first, I did not want to entrust my life completely to Him. I'm afraid he made a mess of my life, but Jesus knew the secret of pedaling. He knows how to swing on a sharp bend, he knows how to jump over a high rock, he knows how to fly to speed past the places scary. I learned to keep silent while pedaling ... enjoy the scenery and the breeze breeze against my face during the journey with a faithful friend: Jesus Christ.

And when I do not know what else to do, Jesus will smile and say ... "Mengayuhlah continues, I'm with you."
-------------------------------------------------- --------------------------------------

Matthew 1:28; 'Come unto me, all who are weary and burdened, and I will give you rest. "

IBRANI 12:1-14

Sumber : Come and Follow Jesus
Christian Imanuel 05 Desember jam 19:49 Balas
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;

karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?

Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.

Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;

dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

Berdiri dan Bertarung

Sumber : Mujizat Itu Nyata
Amanat Agung 04 Desember jam 23:09 Balas Laporkan
Berdiri dan Bertarung

Kita, sebagai orang Kristen, terus-menerus berada dalam pertempuran melawan musuh kita, iblis. Dia bukan musuh darah dan daging melainkan makhluk roh.

Tujuan utamanya adalah menimbulkan kekacauan agar masing-masing dari kita keluar jalur dari rencana Allah. Dia menunggu sampai kita berada di tempat yang rentan sebelum menelorkan serangan. Inilah sebabnya mengapa kita harus berjaga-jaga setiap hari.

1 Petrus 5:8-9 memerintahkan kita,

"Hati-hatilah dan tetap terjaga. Musuh, iblis, adalah seperti singa yang mengaum, sembunyi-sembunyi untuk menemukan seseorang agar bisa diserang. Tapi kamu harus melawan iblis dan tetap kuat dalam iman." (Contemporery English Version)

Ada saat-saat ketika kita mungkin merasa punggung kita seperti bertabrakan dengan dinding tanpa jalan keluar. Pikiran karena harus melawan raksasa kehidupan bisa jadi terintimidasi. Ini adalah ketika musuh datang kepada kita mengucapkan kata-kata ketakutan dan keraguan.

Setan selalu berusaha untuk mencegah kita agar percaya bahwa kita bisa berjalan dengan penuh kemenangan. Dia adalah seorang pendusta dan raja dari semua kebohongan. Kita dapat bertahan dan melawan atau lari dan bersembunyi, namun pilihan ada di tangan kita. Tidak masalah seperti apa keadaan yang tampak dan apa yang dikatakan setan. Yang paling penting adalah apa yang Firman Tuhan katakan tentang situasi tertentu kita.

"Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." (Ibrani 10:23)

Dalam bukunya, The Secret Power of Speaking God's Word, Joyce Meyer berkata,

"II Korintus 10:4-5 mengajarkan kepada kita bahwa senjata kita bukanlah senjata duniawi, tetapi kuasa Tuhan yang sanggup meruntuhkan kubu-kubu pertahanan dalam pikiran kita. Untuk mengungkapkan imajinasi-imajinasi, pikiran-pikiran, kompromi-kompromi, dan teori-teori yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, tidak ada cara lain kita harus menggunakan senjata serangan, yakni Firman Allah yang keluar dari mulut kita. Ketika kita berbicara, itu menjadi pedang bermata dua yang mengalahkan musuh dengan salah satu ujung dan membuka berkat-berkat dari langit dengan ujung yang lain. Ada banyak senjata lain bersifat bertahan, tetapi Firman itu dipakai untuk mengusir dan menghardiknya."

Kita tidak boleh menjadi orang-orang yang kembali dari Setan dalam kekalahan. Tidak! Kita harus berani dalam iman kita dan terus mendorong kembali kekuatan kegelapan dengan menggunakan Firman Tuhan sebagai senjata kita. Setan takut orang-orang yang benar-benar memegang teguh Firman Tuhan dan mulai menggunakannya untuk keuntungan mereka. Setan tahu kekuatan Firman, dan bahwa ia tidak cocok melawan itu.

"Yesus berkata kepadanya, Jauh dari saya, setan! Sebab ada tertulis ... "(Matius 4:10 NIV).

Allah mengutus AnakNya, Yesus, untuk mati untuk kita sehingga kita bisa kemenangan atas si jahat. Kemenangan kita dibeli dengan harga darah Yesus. Oleh karenanya, saat ini kita telah dilindungi oleh darah Kristus dan karena perlindungan ini setan tidak bisa berkuasa atas kita.

"Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah"(Efesus 6:10-17).
Amin.

4 Desember 2009

Sebuah Tinjauan Kristiani

Sumber : Elia Stories

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Siang tadi saya baru saja menonton film 2012. Seperti sudah sering disinggung di berbagai media, animo masyarakat terhadap film masih sangat tinggi. Sikap pimpinan salah satu institusi keagamaan di Jatim yang melarang masyarakat untuk menonton film tampaknya tidak mengurangi panjangnya antrian untuk mendapatkan tiket masuk. Entah apa sebabnya (itu di luar pembahasan tulisan ini)..

Ada beberapa alasan mengapa saya memutuskan untuk menyediakan waktu menonton film ini, walaupun di tengah jadwal yang begitu menghimpit. Pertama, salah seorang pemuda di gereja yang saya gembalakan sudah menonton dan dalam benaknya dipenuhi dengan beragam pertanyaan. Pergumulan ini perlu dijawab secara tepat, karena itu saya sepantasnya sudah menonton dahulu sebelum memberi komentar. Saya menduga pergumulan serupa juga dialami oleh jemaat saya yang lain, sekalipun mereka belum atau tidak mengekspresikan hal itu kepada saya. Ternyata, pertanyaan serupa juga beberapa kali ditujukan kepada saya oleh orang-orang lain yang bukan jemaat di gereja yang saya gembalakan.

Kedua, para pimpinan dan dosen INTI (Institut Theologi Indonesia) memberi tawaran menarik untuk makan siang sekaligus nonton bareng. Ini pengalaman pertama bagi saya menonton film dengan para theolog dan hamba Tuhan. Walaupun tidak sempat menganalisa film secara khusus usai menonton, namun beberapa komentar yang sempat terlontar turut menyentil asa saya untuk melihat film ini secara lebih serius.

Ketiga, saya ingin memastikan apakah film ini layak untuk ditonton oleh anak-anak. Saya dan keluarga memang sempat mempertimbangkan untuk nonton film ini sama-sama (semoga tidak ada yang tersandung ketika ada hamba Tuhan yang pergi ke bioskop). Setelah menonton saya pikir film ini tidak terlalu cocok untuk anak kecil. Mereka mungkin akan kurang menikmati sajian yang ada, apalagi di beberapa adegan ada ciuman bibir yang tertunda dan simbol umpatan terkotor dengan menunjukkan salah satu jari tangan. Kalau pun ada yang mengajak anak-anak kecil menonton (film mana sih yang 100% aman untuk anak kecil?) harus dibarengi dengan penjelasan yang memadai.

Sinopsis Cerita
Semua kisah dalam film ini bermula dari pengamatan ilmiah seorang ilmuwan di India. Keyakinannya akhirnya disimak dan diteguhkan oleh sahabatnya yang adalah seorang ilmuwan penting di Amerika yang memiliki akses pada para pejabat pemerintahan di Amerika. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bumi akan mengalami serangkaian bencana global yang disebabkan oleh ledakan di matahari. Prediksi bencana ini ternyata bukan hanya didukung secara ilmiah, namun juga oleh ajaran kuno suatu suku. Menurut dua perkiraan ini, dunia akan kiamat pada tahun 2012.

Sebagai langkah antisipasi terhadap hal tersebut, pemerintah Amerika segera menggalang kekuatan internasional dengan negara-negara lain (sayangnya Indonesia tidak dilibatkan, padahal dalam peta dunia yang sempat ditampilkan negara kita ada di sana!). Berbagai negara ini akhirnya mengumpulkan uang untuk mempersiapkan bahtera-bahtera modern. Orang-orang kaya di seluruh dunia mendonasikan uang mereka untuk proyek ini supaya mereka mendapatkan kepastian tempat duduk.

Sementara menunggu penyelesaian semua bahtera (berapa jumlah yang direncanakan semula saya tidak terlalu tahu; atau memang tidak diberitakan?), berbagai bencana sudah mulai terjadi di mana-mana, terutama di beberapa daerah di Amerika.. Semua terjadi lebih cepat daripada yang diprakirakan. Akhirnya semua pimpinan negara, ilmuwan dan orang-orang kaya bergegas memasuki bahtera-bahtera yang disediakan sementara bahaya terus menguntit di belakang.

Di tempat lain penonton disuguhi dengan segmen-segmen yang berbeda yang menggambarkan keputusasaan dan ketidakberdayaan orang banyak, perjuangan tak kenal lelah dan penuh risiko dari seorang penulis buku untuk menyelamatkan keluarganya (walaupun ia sudah bercerai), penggunaan uang yang licik oleh seorang pengusaha kaya, upaya gigih seorang penganut Lama dan kakaknya demi menyelamatkan orang tua, bahkan “kesiapan” penyiar radio yang aneh di suatu taman wisata. Semua segmen ini turut memperkaya beragam respons manusia dengan beragam latar belakang mereka terhadap problem yang sama.

Ketika bencana besar berupa badai tsunami global akibat pergeseran kerak bumi yang ekstrim benar-benar terjadi, pertaruhan hidup sedang berlangsung di seputar dermaga bahtera dan di dalam bahtera. Orang-orang yang ada di luar sedang berusaha dengan keras untuk masuk, sementara orang-orang yang sudah berada di dalam bahtera dan merasa nyawa mereka terancam mendesak untuk segera menutup pintu bahtera. Di sinilah peperangan filosofis-etis mendapat sorotan tajam. Pergumulan seputar nilai keadilan, arti peradaban dan rasa kemanusiaan benar-benar mengristal. Apakah hanya ilmuwan, politikus dan orang kaya yang berhak untuk selamat? Apa kelebihan mereka dibandingkan dengan orang-orang lain? Apakah motivasi untuk membentuk peradaban baru yang terdiri dari orang-orang bertalenta – namun dengan “mengorbankan peluang orang lain untuk diselamatkan – merupakan tindakan yang beradab? Apakah mengambil risiko demi orang lain adalah tindakan kemanusiaan yang terpuji atau spekulasi yang bodoh?

Dalam pertempuran filosofis-etis ini akhirnya belas kasihan, rasa keadilan dan kemauan untuk berkorban menjadi pemenang. Walaupun keputusan untuk membuka kembali gerbang bahtera tidak menyelamatkan semua orang (apalagi yang sudah diterjang badai dan gempa di tempat lain), namun paling tidak keputusan itu telah mengurangi korban jiwa yang lain. Hampir semua orang akhirnya bisa masuk ke dalam beberapa bahtera yang ada. Bagaimanapun, bahaya dan ketegangan belum usai.

Pintu bahtera tidak sepenuhnya bisa ditutup sehingga mesin tidak dapat dijalankan. Bahtera terombang-ombing dan hanya mengikuti arus air yang sangar deras. Celakanya, secara tidak terkendali bahtera menuju ke suatu pegunungan. Apabila mesin tetap tidak bisa dihidupkan, maka akan terjadi benturan yang sangat keras dan seluruh penumpang akan mati. Problem harus ditemukan dan dipecahkan.

Di sinilah semua orang berhutang pada sang penulis buku. Dengan menantang bahaya ia berupaya menyelamatkan keluarganya yang terjebak oleh air di bagian bawah bahtera. Dengan dibantu oleh anak laki-lakinya, sang penulis buku akhirnya bukan hanya berhasil mengatasi masalah dan menyelamatkan keluarga. Ia bahkan menjadi pahlawan bagi semua orang.

Situasi ini sangat kontras dengan posisinya dahulu. Di mata keluarganya ia tidak lebih dari seorang suami dan ayah yang egois, cuek, dan hanya berkutat dengan buku-bukunya yang tidak seberapa laris di pasaran. Anak laki-lakinya pun tidak bisa menghargai dia sebagai ayah. Perpisahan dan bahaya yang mengancam keluarganya ternyata mampu mengubah sosok pria ini sebagai orang yang sangat peduli dan berani mempertaruhkan apa pun bagi orang lain. Usaha ini akhirnya mendapatkan akhir yang manis. Ia dan keluarganya kembali bersatu dan semua menemukan arti keluarga yang sejati: kebersamaan adalah keluarga. Ia menjadi kebanggaan keluarga.

Analisa Sastra
Saya harus memulai bagian ini dengan sebuah pengakuan bahwa keahlian saya mungkin tidak mencukupi untuk memberikan analisa sastra yang akurat. Saya hanya mengandalkan pengalaman di teater selama SMP dan studi kritik narasi yang saya pelajari di bidang biblika. Dari sisi plot, cerita di film ini sangat baik. Beragam variasi nuansa dihadirkan silih berganti, dari ketegangan sampai drama yang menyentuh perasaan. Beberapa adegan di tempat yang berbeda ditampilkan secara simultan (misalnya orang-orang di bahtera yang sudah merasa aman, sedangkan sang presiden Amerika memilih untuk menemani rakyat yang tertinggal), sehingga penonton dipacu untuk membandingkan segala situasi tersebut. Hasilnya? Film ini kaya dengan perspektif.

Dari sisi setting (tempat kejadian) film ini patut diacungi jempol. Pemandangan di Yellowstone yang indah, Pegunungan Himalaya dan Everest yang bersalju cukup memperindah film yang indah ini. Suasana di terminal/stasiun bahtera yang sangat megah dan besar seakan-akan memberi kesan bahwa tempat itu terlalu kokoh untuk diluluhlantakkan badai. Kenyataannya, semua terbalik; dan itu mempertegas betapa besarnya kekuatan badai yang terjadi.

Aspek efek spesial komputer merupakan daya tarik yang lain dari film ini. Badai salju yang menerpa seorang Lama yang tengah bersemedi di sebuah bukit merupakan salah satu tontonan yang istimewa. Demikian pula dengan badai yang menerjang penyiar radio nyentrik. Belum lagi jalanan yang retak dan mengejar mobil maupun pesawat Jackson cs. Efeknya sangat oke, walaupun secara pribadi saya lebih menyukai yang disuguhkan di film Titanic..

Karakterisasi dalam film ini pun cukup baik. Beragam kelompok manusia dihadirkan, dari orang Asia, Eropa dan Amerika, dari orang miskin sampai orang kaya, dari anak kecil sampai anak-anak, dari politikus sampai penyiar radio yang aneh. Semua keberagaman ini pasti disengaja untuk menunjukkan satu hal: meskipun mereka semua berbeda tetapi respons mereka terhadap bahaya yang sama relatif cukup seragam. Mereka ketakutan, tak berdaya, saling menolong, dsb.

Ada beberapa tokoh yang termasuk flat characters (tidak mengalami perubahan), sedangkan yang lain termasuk progressive characters (mengalami perubahan). Dari kelompok terakhir ini Jackson mungkin yang paling menonjol. Ia berubah dari seorang yang egois dan hanya memikirkan tulisannya, akhirnya ia berubah menjadi pahlawan bagi semua orang. Dari seorang yang tidak suka dengan pacar mantan isterinya, ia perlahan-lahan menjadi mitra yang baik dalam menghadapi bahaya.

Sebenarnya masih ada beberapa poin lagi dari sisi sastra yang menarik perhatian, namun terpaksa saya abaikan. Tulisan ini bukanlah tulisan sastra, sekalipun saya adalah penikmat narasi dan film. Saya akan memfokuskan pada analisa theologis di bawah ini. Analisa inilah yang paling penting.

Analisa Theologis
Sebelum memberikan paparan theologis saya ingin menegaskan dahulu bahwa film ini bukan tentang kiamat, sekalipun beberapa sinyal ke arah sana tetap muncul. Film ini lebih berbicara tentang bencana global akibat letupan matahari yang menyebabkan kerak bumi bergeser secara ekstrim sehingga terjadi badai super hebat di berbagai tempat dan posisi geografis bumi mengalami perubahan radikal. Tidak ada unsur menubuatkan kapan akhir zaman/kiamat tiba (kecuali mungkin disiratkan dalam mitos suku Maya). Semua bencana pun akhirnya terjadi lebih cepat daripada yang diprakirakan. Jika film ini tentang kiamat, maka usaha membangun bahtera akan tampak sebagai upaya ilmiah yang bodoh. Kenyataan bahwa sebagian manusia akhirnya masih bertahan hidup membuktikan bahwa film ini memang bukan menyorot kiamat secara khusus (pada waktu kiamat bukankah tidak ada seorang pun yang bisa bertahan hidup?).

Sekarang mari kita mulai dengan analisa yang positif lebih dahulu. Dalam kategori ini film 2012 sarat dengan muatan moral yang luhur. Ada beragam nilai moral yang ditampilkan dalam film ini:
· Kebersamaan dan perhatian untuk keluarga lebih penting daripada pekerjaan maupun ambisi personal. Di penghujung kisah kita diingatkan bahwa ”kebersamaan dalam sebuah keluarga adalah rumah yang sebenarnya”.
· Kelebihan tertentu yang dimiliki manusia – baik itu ilmu, jabatan maupun uang – tidak membuat orang itu memiliki hakekat kemanusiaan yang lebih daripada orang lain. Semua orang memiliki hak hidup dan nilai yang sama.
· Semua manusia adalah satu keluarga besar yang sudah sepantasnya saling menolong.
· Ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah yang menggerakkan alam semesta. Prakiraan ilmiah meleset, seluruh pencapaian manusia luluh dalam sekejap, uang tidak menjamin keselamatan jiwa, negara adi kuasa pun tidak punya cukup kuasa untuk mengubah apa yang akan terjadi.
· Kedekatan dengan Tuhan ketika menghadapi masalah.. Walaupun film ini jelas bukan film Kristiani, namun ada banyak adegan yang menyiratkan usaha manusia untuk kembali kepada Tuhan. Sang presiden yang putus asa memilih menyendiri di kapel, seruan ”please, God” terdengar beberapa kali dari tokoh yang berbeda, pengemis jalanan pun memegang poster sederhana dengan seruan pertobatan.
· Pentingnya relasi yang baik di antara anggota keluarga. Sang presiden akhirnya memutuskan untuk mengumumkan keadaan darurat yang ada supaya setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki relasi dengan keluarga masing-masing, baik permintaan maaf maupun ungkapan cinta. Beberapa tokoh dalam cerita ini menelepon anggota keluarga, walaupun ada yang terlalu terlambat.

Di samping nilai positif di atas, kita juga perlu mewaspadai beberapa konsep theologis yang salah dalam film ini. Walaupun semua yang terlibat dalam film mungkin tidak memiliki agenda relijius khusus untuk mendiskriditkan suatu agama, namun apa yang diungkapkan tetap perlu diwaspadai. Apa saja yang salah dalam film ini?

Pertama, indikasi implisit bahwa bencana global yang menyebabkan kemusnahan dunia dapat diprediksi sebelumnya, baik melalui ajaran kuno suatu suku maupun perhitungan ilmiah. Seperti sudah disinggung sebelumnya, film 2012 memang tidak secara khusus berbicara tentang kiamat. Bagaimanapun, pesan seperti itu memang tidak terhindarkan akan ditangkap oleh para penonton. Jika ini yang terjadi, maka kita perlu memahami hubungan antara bencana alam dan akhir zaman.

Beberapa bagian Alkitab mencatat bahwa akhir zaman akan didahului dengan beberapa tanda natural berupa bencana gempa bumi dan kelaparan (Mat 24:7). Apakah petunjuk ini – yang dalam taraf tertentu dapat dideteksi secara ilmiah – merupakan tanda mutlak datangnya akhir zaman? Kita tampaknya perlu berhati-hati di sini. Apakah jumlah gempa bumi sekarang benar-benar lebih banyak daripada yang terjadi di masa lampau? Tentu saja tidak. Tanda-tanda ini harus dipahami dalam beberapa aspek: tanda ini harus simultan (berbarengan dengan tanda-tanda non-alamiah lain seperti perang, penyesatan, dsb), global (terjadi di hampir semua tempat), intensif (frekwensi pemunculan yang lebih sering dan kualitas kerusakan yang meningkat). Satu hal lagi yang perlu diketahui adalah bahwa semua tanda ini ”barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” (Mat 24:8). Kita tidak akan pernah tahu kapan Kristus akan kembali lagi. Bahkan Kristus sendiri setelah memberitahukan tanda-tanda akhir zaman (Mat 24:1-35) pada akhirnya mengajarkan bahwa hanya Bapa sendiri yang tahu kapan semua itu akan terjadi (Mat 24:36).

Sebagai tambahan, orang Kristen tidak boleh terlalu terpaku pada tanda-tanda alamiah tersebut, seolah-olah kita tidak memiliki pengharaan seperti orang-orang dalam film 2012. Sebaliknya, kita perlu lebih memperhatikan apa yang disebut Anthony Hoekema dalam bukunya The Bible and The Future sebagai ”tanda-tanda anugerah”. Yang termasuk tanda anugerah ini adalah ketabahan orang-orang pilihan di tengah penganiayaan dan kesesatan serta pemberitaan injil ke seluruh dunia (Mat 24:13-14). Jika ini yang kita jadikan fokus, maka kita tidak akan sibuk dengan diri kita sendiri atau keluarga kita (seperti yang disiratkan dalam film 2012), namun pada kepentingan kerajaan Allah. Injil harus diberitakan ke mana-mana.

Kedua, kebinasaan dunia dengan menggunakan air. Film 2012 memang memulai dengan perubahan tertentu di matahari yang mengakibatkan pergeseran kerak bumi. Pada gilirannya semua ini menyebabkan badai tsunami berskala internasional. Cara kepunahan dunia dengan menggunakan media air seperti ini jelas bertentangan dengan janji Tuhan bahwa Ia tidak akan memusnahkan dunia ini dengan air lagi (Kej 9:12-16). Akhir zaman pasti terjadi. Dunia yang kita kenal sekarang akan musnah dengan cara yang dahsyat (2Ptr 3:10-12). Walaupun demikian, media yang akan dipakai Tuhan waktu itu pasti bukan air. Sekali Ia berjanji, Ia akan menepati.

Ketiga, spiritualitas bercorak postmodern yang pluralis. Spiritualitas postmodern lebih mengutamakan kesamaan antar agama daripada perbedaan yang ada. Semua agama dianggap sama, yang penting semua itu membawa dampak praktis yang positif. Perbuataan baik, rasa kemanusiaan dan belas kasihan adalah segala-galanya, bukan perbedaan doktrin. Hal inilah yang ditampilkan dalam film 2012.

Saya menyadari bahwa pemberian label ”spiritualitas yang postmodern” untuk film ini mungkin tidak terlalu adil, karena dalam hal lain film ini menunjukkan kontra terhadap postmodernisme. Sebagai contoh, ketika dua pilihan dihadapkan pada para pemimpin negara untuk memutuskan apakah pintu bahtera akan tetap ditutup atau akan dibuka bagi orang banyak terlihat dengan jelas bahwa ada standar moralitas yang akhirnya dipegang. Hal ini jelas bertentangan dengan konsep moralitas postmodern yang relatif. Bagaimanapun, kita tetap harus mewaspadai pesan pluralisme yang diusung oleh film ini.

Kekristenan dan semua agama lain sama-sama mengajarkan perbuatan baik, tetapi konsep di baliknya sangat berbeda.. Dalam agama lain diajarkan bahwa perbuatan baik diperlukan supaya seseorang diselamatkan. Dalam Kekristenan perbuatan baik tidak menyelamatkan. Manusia diselamatkan karena iman kepada karya penebusan Kristus di kayu salib (Ef 2:8-9). Perbuatan baik menurut Alkitab merupakan respons atau ucapan syukur atas anugerah keselamatan yang kita terima (Ef 2:10). Kita berbuat baik karena sudah diselamatkan (bukan supaya diselamatkan, seperti diajarkan dalam agama-agama yang lain). Perbuatan baik harus didasari dengan kesadaran bahwa sebagaimana kita sudah dikasihi Allah sedemikian rupa, maka kita pun harus membagi kasih yang sama itu. Tanpa dilandasi oleh motivasi seperti ini, maka semua perbuatan baik menjadi moralitas humanis yang tidak ada gunanya sama sekali.

Sumber: http://www.gkri-exodus.org/page.php?PRAK-01-Film_2012

Nilai Sebuah Kehidupan

Sumber : come and Follow Jesus
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Teman-teman yang luar biasa,

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!

AMSAL 21:5 "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan."
---------------------------------------------------------------------------------------
English Version

Once, there was a young man who lives alone. Low education, living from working as a laborer landowner's property rich. Although a simple life but in fact he could well pass daily.

At one point, the boy was fed up with life. He did not understand, to what actually live in this world. Every day working in the fields for a bite of rice. Through the day just to wait for when it will die. The young man was feeling empty, hopeless, and have no meaning.

"Rather than not know life for what and just waiting to die, I better just end this life," he said to himself. Prepared a rope and he intended to hang himself in a tree.

Trees to go, when I saw signs like that, suddenly interrupted gently. "Young people are handsome and good-hearted, please do not hang himself in the branches I have this old. Unfortunately, when he was broken. Yet every morning there are lots of birds perched on it, sing to entertain anyone around here."

Grudgingly, the young man went to continue choosing another tree, not far from there. When ready, return the faint sound of a tree, "O young man. You see up here, there was a wasp nest that was done by so many bees with diligent and hardworking. If you want to kill myself, please move to another place. Have mercy on bees and humans who have worked hard but could not enjoy the results. "

Once again, without answering a word, the boy went looking for another tree. Heard words that are not much different, "Young man, because shade leaves me, frequently used by humans and animals to just rest or take shelter under the leaves me. Please do not die here."

After the third tree, the young man mused and thought, "Even a tree so appreciate this life. They care about themselves so as not broken, do not bother, and still shade to protect the natural and beneficial for other creatures".

Soon arose a new consciousness. "I'm human; was young, strong, and healthy. You should not I remove my own life. From now on, I must have goals and will work well to be also useful for other creatures".

The youth was returned home with passion and a sense of relief.

My friends are amazing,

If we fill our lives with a grumbling, complaining, and the pessimists, we would live this life (with) feels burdened and when no longer able to resist will enable us to take a shortcut that is suicide.

Conversely, if we are able to realize this life is so beautiful and exciting, we would appreciate this life. We will fill our lives, every day filled with optimism, full of hopes and ideals of fighting for, and be able to associate with other men.

So, do not serve the negative feelings. Expelled immediately. Get used to maintain positive thoughts, positive attitude, and positive action. Thus we will live this life full of gratitude, enthusiasm, and great success!
--------------------

1 Desember 2009

BERJALAN DENGAN KEONG

Sumber : Come and Follow Jesus
Christian Imanuel 01 Desember jam 7:48 Balas
Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.
Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !"
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan.
Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati....

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang.
Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
"He's here and with me for a reason"
Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai,
Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..
----------------------------------------------------------------------------------------
English Version. . .

God gave me a task, namely carrying snails streets.
I can not way too fast, snails are trying hard to crawl. Each time such a move only slightly.
I urged, rebuked, reprimanded him, conch at me with eyes asking, sorry, seemed to say: "I've tried with all my strength!"
I pulled, dragged, and even kicked, slugs hurt. He poured sweat, gasping breath, crawled forward.
It's strange, why God asked me to take a snail for a walk.
My God! Why? The sky was quiet, quiet. Let it snail crawling in front, I'm upset behind. Keep your steps, calm the heart ....

Oh? Suddenly the smell of flowers, it is a flower garden.
I feel the breeze blowing wind, was so gentle evening breeze.
There's more! I heard the sound of birds chirping, buzzing worms.
I saw a brilliant starry sky.
Oh? Why did not feel all this?
Then I thought, Maybe I was wrong guess!

It turned out that the Lord led me to ask snail roads so I can understand and feel the beauty of this garden that never happened to me I walk alone reply quickly.
"He's here and with me for a reason"
We met with people who truly loved you,
Should try to get a chance to be with you all your life.
Because when he was gone, everything was too late.

We met a friend who can be trusted, harmonious
with him.
Because human life, a true friend not easily found.
We meet your helper,
Remember to be grateful to him.
Because it was he who changed your life

We've met people who you love,
Remember to smile for the thank-you.
Because he is a guy who makes you understand more about love.

We've met people who you hate,
Greet with a smile.
Because it makes you more determined and stronger.

We met people who never betrayed you, be good talk with him.
Because if not for him, today you do not understand this world.

We met people who had secretly you love,
Bless him.
Because when you love him, do not expect him to be happy?

We met people who rush to leave,
Thankful that he ever existed in your life.
Because he is a part of your nostalgia

We met people who had wrong ideas to you,
Use the time to explain it.
Because you may only have one opportunity only to explain

We met people who currently accompany you for life,
Fully thankful that he loves you.
Because now you find happiness and true love ..

SURAT PILATUS KEPADA KAISAR TIBERIUS

Ternyata selama masa pemerintahannya sebagai Gubernur Yudea, Pontius Pilatus pernah menulis sebuah surat kepada Kaisar Tiberius di Roma melaporkan mengenai aktivitas dari pelayanan Yesus. Surat ini ditulisnya pada tahun 32 AD. Berikut adalah isi suratnya : Kepada Yang Mulia Kaisar Tiberius ... Seorang anak muda telah muncul di Galilea dan atas nama Elohim yang mengutusnya, Dia telah berkhotbah dalam sebuah hukum yang baru, dengan perilaku yang rendah hati. Pada mulanya saya mengira tujuan-Nya adalah untuk menimbulkan gerakan revolusi rakyat untuk melawan pemerintahan Roma. Dugaan saya keliru, Yesus Orang Nazaret itu ternyata bergaul lebih akrab dengan orang Romawi daripada dengan orang Yahudi. Suatu hari saya memperhatikan, ada seorang anak muda di antara sekelompok orang, sedang bersandar pada sebatang pohon dan berbicara dengan tenang kepada kumpulan orang banyak yang mengelilingi-Nya. Orang-orang mengatakan kepada saya bahwa itulah Yesus. Terdapat perbedaan yang jelas antara Dia dan orang-orang yang mengelilingi-Nya. Dari rambut dan janggutnya yang pirang, Ia kelihatan seperti "Tuhan" (Lord). Ia berumur sekitar 30 tahun, dan saya belum pernah melihat orang dengan wajah sedemikian simpatik dan menyenangkan seperti Dia. Apa yang membuat Ia kelihatan begitu berbeda dengan orang-orang yang sedang mendengarkan-Nya adalah pada wajah-Nya yang ceria. Karena saya tidak ingin mengganggu-Nya, saya meneruskan perjalanan saya, tetapi saya menyuruh sekretaris saya untuk bergabung dengan mereka dan turut mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian sekretaris saya melaporkan bahwa belum pernah ia membaca karya-karya ahli filsafat manapun yang dapat disejajarkan dengan ajaran Orang itu, dan bahwa Orang itu (Yesus) sama sekali tidak membawa orang ke jalan yang sesat, dan tidak pula menjadi penghasut. Oleh karena itulah kami memutuskan untuk membiarkan-Nya. Ia bebas untuk melakukan kegiatan-Nya berbicara dan mengumpulkan orang. Kebebasan yang tidak terbatas ini menggusarkan orang-orang Yahudi dan menimbulkan kemarahan mereka. Ia tidak menyusahkan orang miskin, tetapi merangsang kemarahan orang-orang kaya dan para tokoh masyarakat. Kemudian saya menulis surat kepada Yesus, meminta Ia untuk diwawancarai dalam suatu pertemuan. Ia datang. Pada saat Orang Nazaret itu tiba, saya sedang melakukan jalan pagi. Dan ketika saya memperhatikan-Nya, saya begitu tertegun. Kedua kaki saya serasa dibelenggu oleh rantai besi yang terikat pada lantai batu pualam. Seluruh tubuh saya gemetar bagaikan seorang yang bersalah berat. Namun Ia tenang saja. Tanpa beranjak, saya begitu terpukau dengan orang yang luarbiasa ini beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan pada penampilan atau perilaku-Nya. Selama kehadiran-Nya saya menaruh hormat dan respek yang mendalam pada diri-Nya. Saya katakan kepada-Nya bahwa pada diri dan kepribadian-Nya terdapat sesuatu yang memancar dan menunjukkan kesederhanaan yang memukau, yang menempatkan Ia di atas para ahli filsafat dan cendekiawan masa kini. Ia meninggalkan kesan yang mendalam pada kami semua karena sikap-Nya yang simpatik, sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Saya telah meluangkan banyak waktu untuk mengamati aktivitas pelayanan menyangkut Yesus dari Nazaret ini. Pendapat saya adalah : Seseorang yang mampu mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan menenangkan gelombang laut, tidak bersalah sebagai pelaku perbuatan kriminal sebagaimana dituduhkan oleh orang banyak. Kami harus mengakui bahwa sesungguhnya Ia adalah Putra Elohim. Pelayan anda yang setia, Pontius Pilatus. Surat di atas tersimpan di Perpustakaan Kepausan di Vatikan, dan salinannya mungkin dapat diperoleh di Perpustakaan Kongres Amerika. Dari surat di atas, tahulah kita mengapa Pilatus "tidak berani" menjatuhkan vonis hukuman mati atas Yesus (Matius 27:24, Yohanes 18 : 31-40 dan 19 : 4,6 - 16)

PEREMPUAN ITU KU PANGGIL MAMA

Perempuan itu ku panggil Mama Yang setiap malam selalu terjaga saat hati sibuah hatinya sedang gelisah... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu sibuk di subuh hari untuk menyiapkan sarapan dan keperluan sibuah hatinya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengajariku untuk menjadi bijaksana,... Yang selalu mengajariku untuk selalu dekat dengan Sang Khalik... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu turut merasakan kesusahanku,.. Yang selalu barusaha memenuhi kebutuhanku... Perempuan itu ku panggil Mama Yang selalu mengkhawatirkan keadaanku saat ku jauh,.. Yang selalu menanyaiku dengan penuh kasih saat ku murung... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat penyakit itu bersarang ditubuhnya dan kubisikan: mama izinkan aku untuk merawatmu dan menjagaimu... Perempuan itu ku panggil Mama Yang yang terbaring lamah di pembaringan... Perempuan itu ku panggil Mama Yang dengan lemah berusaha duduk di pembaringan dan mengatakan pesan terakhirnya kepadaku: "RIS MARI BERBAGI DENGAN MAMA DALAM HIDUPMU"... Perempuan itu ku panggil Mama Yang di saat-saat terakhir hidupnya masih memintaku untuk bernyanyi memuju Sang Khalik serta bertelut dan berdoa untuknya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang malam itu tarikan napasnya semakin berat.... Perempuan itu ku panggil mama Yang saat itu kubertelut di kakinya sambil memanjatkan doa: TUHAN KUMOHON KEBESARAN KASIHMU DAN MUJIZATMU UNTUK KESEMBUHAN DAN MEMBERI PANJANG UMUR BAGI MAMAKU TERCINTA... Perempuan itu ku panggil Mama Yang disaat-saat terakhir hidupnya ku bersujud di kakinya sambil menangis dan memeohon ampun atas semua dosa dan kesalahan yang pernah kubuat selama hidupku bersamanya... Perempuan itu ku panggil Mama Yang mengatakan kepadaku: RIS MAMA CAPEK DAN MAMA INGIN ISTIRAHAT... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kubisikan: MAMA, KALAU MAMA CAPEK BERISTIRAHATLAH MAMA......... Perempuan itu ku panggil Mama Yang saat detik - detik terakhir tarikan napasnya, aku masih tetap besujud di kakinya sambil meneteskan air mataku ke kakinya sambil berkata: MAMAKU, TOLONG RASAKAN BETAPA AKU SANGAT MENYAYANGI MAMA LEWAT HANGATNYA AIR MATAKU YANG MENETES DI KAKI MAMA INI... Perempuan itu ku panggil Mama Yang kasih sayangku kepadanya dikalahkan oleh kasih sayang Sang khalik kepada mamaku, sehingga saat itu juga mamaku menghembuskan napasnya yang terakhir untuk pergi menghadap Sang Khalik, untuk pergi meninggalkan kami selamanya dan untuk mengakhiri segala penderitaan hidupnya di dunia ini... Perempuan itu ku panggil Mama yang disaat tubuhnya terbujur kaku dan dingin, kucium mamaku sambil berbisik: MAMAKU TERSAYANG, KASIH SAYANG MAMA KEPADAKU AKAN TETAP MENJADI BINTANG DI DALAM HATIKU YANG AKAN TETAP BERSINAR DAN SINAR KASIH SAYANG ITU AKAN TETAP KUPANCARKAN KEPADA SEMUA ADIK - ADIKU, SAUDARA - SAUDARAKU, DAN SEMUA ORANG YANG BERADA DI SEKITARKU AGAR MEREKA TAHU BAHWA MAMAKU ADALAH FIGUR YANG TERBAIK DAN YANG TELAH MENDIDIKKU MENJADI MANUSIA YANG BIJAKSANA... Perempuan itu ku panggil Mama yang selalu menyebut namaku di dalam setiap doanya Perempuan itu kupanggil Mama Yang kini menetap disurga bersama Sang Khalik yang mengasihinya... TERIMA KASIH MAMAKU TERCINTA, ATAS SEMUA KEHIDUPAN YANG INDAH, YANG TELAH KAU HADIRKAN SELAMA ENGKAU BERSAMAKU DI DUNIA INI........ LIWAT HEMBUSAN NAPASKU SERTA DOAKU, KU TITIPKAN CIUM YANG PALING MANIS UNTUK MAMA DI SURGA SANA....... (Untuk mengenang mamaku yang meninggal tanggal 5 Mei 2009 di Ambon) Anakmu Richard Sahetapy yang Kau panggil RIS

SENG ADA MAMA LAI

SU SENG ADA MAMA LAI PAR BIKING COLO - COLO SU SENG ADA MAMA LAI PAR TUANG PAPEDA DI SEMPE SU SENG ADA MAMA LAI PAR ATOR MAKAN DI MEJA MAKAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR CUCI BETA PUNG PAKIAN SU SENG ADA MAMA LAI PAR DENGAR BETA PUNG SUSAH SU SENG ADA MAMA LAI PAR JAGA BETA WAKTU SAKIT MAMAE.... PAR APA LAI BETA PULANG KA RUMAH TUA KALO MAMA SU SENG ADA PAR LIA BETA PAR APALAI BETA DUDU DI MEJA MAKAN KALO MAMA PUNG TAMPA GARAM SU SENG ADA PAR SAPA LAI BETA MAU MANYANYI KALO MAMA SU SENG ADA PAR DENGAR... SIOOO MAMA E.... MAMA SU JAUH DARI BETA DENG BASUDARA MAMA SU TENANG DI TETEMANIS PUNG PANGKO TAPI MAMA PUNG PASANG DENG MAMA PUNG DOA TETAP JADI BINTANG YANG BERSINAR DI BETA PUNG HATI SELAMA HIDOP DI DUNIA. JUST FOR MY LOVE MAMA

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

Yesus Manis